Puasa Berpolitik

DALAM eskalasi politik yang tidak menentu seperti sekarang ini, kehadiran bulan suci Ramadhan bagi masyarakat Aceh

Editor: bakri
Oleh Muhibuddin Hanafiah

DALAM eskalasi politik yang tidak menentu seperti sekarang ini, kehadiran bulan suci Ramadhan bagi masyarakat Aceh amatlah tepat.Dengan hadirnya bulan suci ini sedikit banyaknya akan memberi pengaruh positif terhadap tekanan mental yang selama ini dirasakan agak menegang. Sebab, dengan menjalankan ibadah puasa dengan benar diyakini mampu meredam berbagai dorongan nafsu (khususnya kekuasaan) yang selama ini kelihatannya semakin liar saja.

Konflik politik yang mengarah kepada tindak kekerasan dan terjadinya perpecahan di tengah masyarakat merupakan dua di antara indikasi yang nampak menonjol dalam beberapa bulan terakhir ini. Kita yakin, kehadiran bulan suci Ramadhan bakal menimalisir dua dampak destruktif dari pergesekan politik tersebut.

Maklum dipahami bahwa hakikat puasa adalah menahan diri atau dalam istilah fiqih disebut dengan imsak dalam batasan waktu tertentu. Menahan diri atau pengendalian diri merupakan kemampuan dasar manusia untuk mengontrol dirinya sendiri dari pengaruh bayang-bayang atau godaan yang merusak. Menurut Nurcholish Madjid (Cak Nur), puasa itu hakikatnya adalah menunda kesenangan untuk sementara waktu. Dan di waktu yang lain, kesenangan itu baru dapat diperoleh dan dinikmati. Mungkin dengan memakai istilah yang agak bebas bisa dikatakan bahwa puasa itu adalah jeda terhadap macam-macam keinginan atau moratorium berbagai macam hasrat (nafsu) insani. Mulai dari nafsu terhadap kebutuhan biologis seperti makan, minum, dan seks sampai pada kebutuhan manusia lainnya seperti kehormatan, prestise sosial, kekuasaan, dan aktualisasi diri. Pandangan Cak Nur di atas, kelihatan benar adanya, ibadah puasa mendidik jiwa manusia agar mampu menunda atau menahan sementara waktu terhadap berbagai keinginan, hasrat dan nafsu fitrah manusia yang tidak terhitung banyaknya.  

Hakikat puasa
Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ditujukan untuk menyiapkan mental umat Islam dalam menahan berbagai keinginan diri. Ibadah puasa melatih kesabaran dan kecerdasan hati agar mampu dikendalikan, supaya otoritas manusia sebagai makhluk paling mulia berada pada dirinya sendiri, bukan hawa nafsunya belaka. Hidup manusia tidak boleh diatur dan dikomandoi oleh birahi seksual dan birahi fisikal lainnya. Karena keluhuran manusia bukan pada dimensi jasmaniahnya dengan segala kebutuhan biologis yang harus dipenuhi saban waktu. Ragawi manusia sifatnya cukup singkat dan sementara saja, ia akan punah bersama waktu dan keterbatasan yang menyertainya. Namun dimensi spiritual (ruh) sebagai bagian paling esensial dari manusia akan abadi dalam jangka waktu yang lebih lama. Pendakian jiwa manusia menuju ke derajat spiritual yang lebih tinggi, melampau wujud fisiknya, mungkin melalui ibadah puasa ini.

Pendakian itu awalnya dimulai dari tataran fisik-biologis dengan mengatur, mengelola, mengurangi segenap kebutuhan jasmaniah. Baru kemudian diteruskan dengan tahapan berikutnya yang dimulai dengan penataan aspek ruhiyah seperti penataan hati dengan niat atau tujuan yang tulus dan ikhlas hanya karena Allah semata, menata fikiran yang sejalan dengan niat, menjauhi dari ketimpangan dan orientasi yang tidak tepat dalam berfikir, dengan mengembangkan pola pikir positif dan konstruktif.

Membicarakan kekuasaan
Menurut Cak Nur, pokok amalan (lahiriah) puasa adalah penundaan terhadap kebutuhan jasmani dan ruhani secara sukarela dari sebagian kebutuhannya, khususnya dari kebutuhan yang menyenangkan, seperti penundaan dari aktivitas makan, minum dan hubungan seksual. Nah, berangkat dari pemikiran ini dapat dipahami bahwa pada prinsipnya puasa adalah penundaan terhadap apa saja yang menjadi kebutuhan manusia yang sifatnya menyenangkan. Sehingga dalam konteks pemaknaan semacam ini bisa bermakna bahwa puasa juga bisa berlaku terhadap kekuasaan (puasa politik). Sebab, kekuasaan adalah sesuatu yang dicari dan diincar oleh banyak orang sekarang. Kekuasaan telah menjadi kebutuhan yang cukup menyenangkan bagi kebanyakan orang dewasa ini. Puasa politik dimaksudkan adalah sikap saling menahan diri sejenak, tidak saling memaksakan diri yang mengakibatkan penderitaan orang banyak dan mengacaukan stabilitas ketentraman masyarakat. Puasa berpolitik berarti jeda atau moratorium politik guna mempersiapkan situasi dan kondisi yang kondusif sambil mengalihkan sementara konsentrasi politik kepada pemusatan ibadah Ramadhan.

Sterilkan moment Ramadhan
Puasa berpolitik termasuk di dalamnya adalah puasa berbicara tentang hal-ikhwal politik kekuasaan, puasa mengkonsentrasikan pikiran dari memikirkan masalah politik praktis tersebut dan juga puasa dari melakukan tindakan apa saja yang memberi imbas ke ranah politik. Puasa berpolitik adalah puasa total selama satu bulan penuh, sepanjang bulan suci Ramadhan, baik siang maupun malam hari, 1x24 jam. Keseluruhan waktu tersebut dipergunakan untuk mengisi bulan suci Ramadhan dengan berbagai ibadah pribadi dan sosial belaka.

Sejatinya, bulan Ramadhan ini adalah bulan steril dari intrik politik. Para politikus dan pengejar kekuasaan di Aceh hendaknya merenungkan kembali kemashlahatan yang lebih besar bagi masyarakat dari apa yang telah direncanakan dan langkah yang telah ditempuh selama ini.

Selebaran politik yang memanfaatkan imsakiyah Ramadhan dan spanduk politik yang memanfaatkan ucapan selamat datang Ramadhan sayogyanya segera ditarik dan diturunkan. Karena Ramadhan adalah bulan keikhlasan dalam beramal hanya karena dan kepada Tuhan, bukan kepada kepentingan suatu golongan yang sifatnya duniawi belaka. Sanggupkah?

* Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved