Jurnalisme Warga
Dari Kebun Sekolah, Belajar Menjaga Alam dan Lingkungan
Amanah inilah yang saya rasakan ketika mendampingi kegiatan ekstrakurikuler berkebun Agrokids di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe,
GUNAWAN, Guru SD Sukma Bangsa Lhokseumawe dan penyintas banjir Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
“Dialah yang menjadikan kamu dari bumi (tanah) dan memakmurkannya.” (QS. Hud: 61)
Ayat ini mengingatkan bahwa manusia—termasuk anak-anak—memiliki amanah besar untuk memakmurkan Bumi, bukan merusaknya. Amanah inilah yang saya rasakan ketika mendampingi kegiatan ekstrakurikuler berkebun Agrokids di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe, sebuah ruang belajar alam terbuka bagi siswa kelas IV s.d. VI yang dilaksanakan rutin setiap Kamis pukul 14.00–16.00 WIB.
Setiap Kamis sore, halaman depan sekolah berubah menjadi ruang belajar yang berbeda. Tidak ada bangku kelas dan papan tulis. Yang ada hanyalah tanah, cangkul kecil, polybag, bibit sayuran, dan wajah-wajah ceria anak-anak yang tak sabar memulai kegiatan berkebun.
Bagi masyarakat Aceh, relasi dengan alam bukanlah sesuatu yang jauh. Banjir yang berulang hampir setiap tahun menjadikan alam hadir dalam pengalaman sehari-hari anak-anak, melalui sekolah yang terendam, aktivitas belajar yang terhenti, dan rasa cemas yang tertinggal.
Dalam konteks inilah, kebun sekolah menjadi ruang belajar yang bermakna. Bukan hanya tentang menanam, melainkan tentang memahami alam dan dampak dari cara manusia memperlakukannya.
Bagi saya, mengajar Agrokids bukan sekadar mendampingi anak menanam. Ia adalah proses pendidikan yang utuh: mengasah kecerdasan naturalis, membangun karakter, serta menanam kesadaran ekologis sejak dini. Terlebih di Aceh dan Sumatra yang rawan banjir dan longsor, pendidikan berbasis alam seperti ini terasa semakin relevan.
Dari alam untuk kehidupan
Howard Gardner dalam teori Multiple Intelligences menyebut bahwa kecerdasan naturalis sebagai kemampuan mengenali dan berinteraksi dengan alam.
Kegiatan berkebun menjadi sarana yang tepat untuk mengasah kecerdasan ini. Anak-anak belajar mengenal jenis tanaman, memahami kebutuhannya, serta mengamati perubahan dari hari ke hari.
Dalam Agrokids, anak-anak mengenal berbagai sayuran seperti kangkung, sawi, terung, mentimun, dan jagung, serta apotek hidup seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan serai.
Mereka belajar bahwa alam menyediakan sumber kesehatan, asalkan dirawat dan dimanfaatkan dengan bijak.
Pembelajaran ini sejalan dengan pandangan Jean Piaget yang menegaskan bahwa anak belajar paling efektif melalui pengalaman konkret. Dengan menyentuh tanah dan merawat tanaman secara langsung, konsep tentang alam tidak lagi abstrak, melainkan hidup dalam pengalaman mereka.
Dalam konteks Aceh yang kerap dilanda banjir, pengalaman konkret ini menjadi penting. Anak-anak mulai memahami bahwa tanah, akar, dan vegetasi berperan dalam menyerap air dan menjaga keseimbangan alam. Dari kebun kecil di sekolah, mereka belajar bahwa bencana sering kali berkaitan dengan kerusakan lingkungan.
Mengajarkan anak berkebun juga berarti menanamkan nilai kesabaran, tanggung jawab, dan kepedulian. Tanaman yang tidak dirawat akan layu. Dari sini, anak belajar bahwa hasil baik menuntut proses dan komitmen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/GUNAWAN-GURU-SUKA-BANGSA.jpg)