Minggu, 26 April 2015
Home » Opini

Shalat di Masjid Haram

Jumat, 7 Oktober 2011 09:55

Shalat di Masjid Haram
Al Yasa‘ Abubakar

JAMAAH calon haji sudah mulai berangkat ke Tanah Suci. Sesampai di sana nanti, tentu mereka akan melihat Ka’bah dan menunaikan shalat fardhu secara berjamaah di Masjid Haram. Shalat di Masjid Haram merupakan ibadah yang sangat berkesan karena dilakukan di depan dan bahkan mungkin dengan menatap Ka’bah. Penulis yakin, jamaah yang serius dan ikhlas akan merasa rugi kalau karena sesuatu sebab mereka tidak dapat mengikuti shalat berjamaah di Masjid Haram.

Shalat fardhu berjamaah di Masjid mempunyai beberapa keunikan dan kelebihan, serta sejarah yang mungkin dapat dikatakan kelam.  Paling kurang ada tujuh keunikan menunaikan shalat fardhu di Masjid Haram dibandingkan dengan shalat berjamaah di masjid manapun di tempat lain. Pertama, jamaah berada langsung di depan Ka’bah dan dapat menatapnya. Bagi banyak jamaah melihat dan menatap Ka’bah adalah sebuah kenikmatan, dan keharuan yang sukar dijelaskan.

Kedua, shaf shalat di Masjid Haram berbentuk melingkar mengelilingi Ka‘bah. Bentuk seperti ini hanya ada Masjid Haram. Sedang di masjid lain, termasuk dalam masjid-masjid yang masih di dalam kota Makkah sendiri bentuk shaf haruslah lurus (memanjang), tidak boleh melengkung atau bengkok.

Ketiga, aturan bahwa shaf jamaah perempuan harus di belakang shaf jamaah laki-laki tidak berlaku di Masjid Haram. Pada dasarnya untuk jamaah perempuan disediakan tempat khusus, yang kanan kirinya dipisahkan oleh jalan, sedang depan dan belakangnya dipisahkan dengan rak-rak Al-qur’an. Jadi tempat-tempat jamaah perempuan tersebut seperti pulau di tengah jamaah laki-laki. Tetapi jumlah tempat ini tidak memadai, sehingga banyak jamaah perempuan yang tidak kebagian tempat di sana. Mereka tidak mempunyai pilihan selain dari masuk ke tempat yang disediakan bagi laki-laki, atau berada di luar masjid, bahkan di luar halaman, sekiranya tetap meyakini bahwa mereka harus shalat di belakang shaf laki-laki.

Lebih dari itu, jamaah perempuan diberi izin untuk melakukan thawaf sepanjang waktu, sama seperti jamaah laki-laki. Maka wajar, ketika azan dan iqamat berlangsung ada jamaah perempuan yang masih menunaikan tawaf dan karena itu harus diberi tempat untuk mengikuti shalat di dekat Ka‘bah, berdampingan dengan orang laki-laki yang juga diberi izin untuk menunaikan thawaf pada waktu yang “kritis” ini.

Keempat, di Masjid Haram tidak ada mihrab, dan posisi imam pun sering berpindah-pindah pada setiap waktu shalat. Dalam keadaan biasa untuk shalat Maghrib, ‘Isya dan Shubuh posisi imam biasanya dekat Multazam, beberapa meter dari Ka`bah. Sedang untuk shalat Zhuhur dan Ashar imam berada sampai beberapa belas meter dari Ka`bah searah Multazam, untuk menghindari sengatan panas. Sedang pada musim haji karena jumlah jamaah yang relatif banyak, walaupun panas menyengat imam tetap berada dekat dengan Ka`bah. Kelima, ketika shalat fardhu, jamaah yang betul-betul berada di belakang imam hanyalah sekitar setengah lingkaran, yaitu yang langsung berada di belakangnya. Sedang yang setengah lingkaran lagi, yang berada di sisi Ka`bah yang berhadapan dengan imam, diberi izin lebih maju dari shaf imam. Jadi shaf pertama jamaah yang berhadapan dengan imam lebih dekat kepada Ka`bah dari shaf pertama jamaah yang berada di belakang imam.

Keenam, pahala shalat di Masjid Haram adalah seratus ribu kali lebih banyak dari shalat di masjid yang lain. Sedang pahala shalat di Masjid Nabawi hanya seribu kali dari shalat di masjid yang lain. Karena itu harusnya jamaah menganggap shalat berjamaah di Masjid Haram lebih penting dari shalat berjamaah di Masjid Nabawi.  

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas