Jumat, 15 Mei 2026

Biola Aceh yang Hilang

Mop-mop atau biola Aceh menurut beberapa sumber telah hidup lama di Aceh, yakni semenjak zaman Kolonial Belanda. Pada tahun 50-an

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Zulfadli Kawom

Mop-mop atau biola Aceh menurut beberapa sumber telah hidup lama   di Aceh, yakni  semenjak zaman Kolonial Belanda. Pada tahun 50-an, baru Aceh Utara, Aceh Besar, dan Pidie, yang memulai kesenian ini. Penamaan terhadap kesenian ini karena penggunaan instrumen biola sebagai instrumen utamanya. Di Aceh Utara, kesenian ini diberi nama Mop-mop, sedangkan di Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, biola Aceh ini disebut Geunderang Kleng. Biola yang digunakan adalah biola violin.

Kesenian ini dimainkan paling banyak 5 (lima) orang pemain, masing-masing satu orang bertindak sebagai violis (syeh) yang merangkap vokalis, pemimpin grup sekaligus sebagai sutradara yang menyusun dialog untuk menyanyi. Penabuh gendang, penyanyi, dan dua orang lagi sebagai penari dan pelawak, berperan sebagai Linto Baro dan Dara Baro (suami-istri) yang melakukan gerak tari  sesuai irama biola dan pukulan rapa’i. Di Aceh Utara, pertunjukan diadakan biasanya pada malam lapanblah (17 Agustus Malam ), yakni pada  malam kemerdekaan dengan panggung alakadar yang ditopang dengan drum minyak dan beralaskan papan 4 meter.

Di Aceh Utara pada awal perkembangannya pada tahun 60-an dan 70-an, kegiatan ini  dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena ada sebagian ulama berpendapat kesenian ini haram. Ada yang mengharamkan karena mereka mengubah  gaya laki-laki menjadi perempuan. Malah kadang-kadang mereka sering mendapat perlakuan ekstrim dari beberapa orang yang tidak setuju dengan jenis kesenian ini. Ada yang dirhom  ngen boh leupieng dan nuga (dilempari dengan kelapa dan kayu) sewaktu mereka berlatih di hutan bak rangkang gle. Ada  juga yang  harus lari dari rumah karena dikejar oleh orang tuanya karena dianggap aeb (aib) keluarga.

Ciri Mop-mop

Yang sangat khas dari mop-mop adalah adanya tarian, cerita (dialog), nyanyian lewat berbalas pantun dengan ungkapan-ungkapan lucu, menggelikan, dan penuh humor, serta para pemainnya memakai pakaian yang warnanya kontras. Biola Aceh komunikasi disampaikan lewat kekuatan humor dan secara tidak langsung terselip nilai kritik sosial melalui pantunnya yang kocak, sehingga memikat para penonton

Terbukti dari setiap kali pertunjukan mendapat sambutan meriah dari penonton. Penyulut tawa adalah pantunnya yang jenaka, segar, dan menggelitik. Terkadang terkesan berbau porno. Meskipun pola dasarnya paduan musik dengan nyanyian, namun magnitude-nya justru pada gerak tubuh dan tingkah pemainnya yang kocak. Inilah yang  membuat penonton bertahan sampai dini hari. Pantun dan nyanyian, serta dialog dari penari berisi cerita lucu tentang perkawinan, dan rumah tangga yang sarat dengan masalah sosial. Juga diselingi cerita mertua atau istri yang cerewet. Kisah rumah tangga tentang wanita bersuami, tetapi mencintai pria lain. Sebaliknya,  juga ada cerita pria beristri,  namun masih mencari wanita lain. Mari kita nikmati salah satu pantunnya:

Takoh lipah tapula lipah
Pucok jih reubah u dalam paya
Meunyoe hiem nyoe jeut neupeuglah
Jadeeh meunikah geutayoe dua
Artinya:
Tebanglah pohon nipah dan tanam kembali
Pucuknya jatuh ke dalam rawa-rawa
Kalau teka-teki ini bisa dijawab
Jadilah menikah kita berdua

Penonton turut terbahak-bahak menyaksikan bunyi biola yang terdengar sumbang; terkadang suaranya mirip su glang lam prut (suara cacing) ditingkahi suara gendang, dan disahuti pantun yang jenaka. Apalagi dihadiri penari joget, yakni lelaki yang  berperan sebagai wanita. Tampil dengan dandanan menor dan mencolok, terkadang mengenakan rok dan blus, tak jarang memakai kebaya dengan selendang berwarna hijau atau merah menutup kepala. Sementara penari pria mengenakan pakaian biasa, namun baju atau jasnya dipakai terbalik, terkadang juga memakai sepatu yang kebesaran. Jadi, menyaksikan pertunjukan biola Aceh, menyaksikan pemain biola, penabuh gendang,  yang dikombinasikan dengan berpantun, menari, dan melawak.

Kesenian biola Aceh dalam proses adaptasi menyerap nilai-nilai budaya Islam, tampak pada teknik memainkannya yaitu mengiringi vokal dengan mengikuti melodi vokal yang ditambah dengan nada hias. Melodi dasar lagu sama dengan melodi dasar biola serta digarap secara bervariasi.

Sampai kini masih hidup empat orang penggesek biola, yaitu Syeh Abdul Gani Krueng Mane, Syeh Maneh, dan Syeh Ma’e (Ismail), serta Syeh Ali Basyah, sementara Pak Baka Cot Usi dan Syeh Seuhak serta Syeh Dawood (Trio Biolis) dari Krueng Mane, ketiga-tiganya telah almarhum. Menurut mereka, biola sebagai alat musik instrumen kesenian tradisi Aceh yang berasal dari Mesir, walau biola pertama sekali diperkenalkan di Italia tahun 1719. Sama persis seperti alat musik konvensional barat. Perbedaannya terletak pada metode dalam memainkannya. Penggesek biola Aceh memainkan biolanya secara terbaik. Progresi melodi pada biola Aceh membentuk harmoni vertikal dengan interval kwint. Teknik memainkannya sangat mirip dengan rabab di Minangkabau: Satu nada ditahan sementara nada lainnya bergerak membentuk progesif melodi.

Selayaknyalah kesenian ini perlu dilestarikan karena ini hanya media atau alat, tidak semata-mata tujuan yang perlu dicurigai apalagi disepelekan. Terjadinya konflik bersenjata dan tsunami di Aceh secara tidak langsung generasi muda mengalami fase a-history, dan kurangnya pengetahuan, bahkan banyak yang tidak mengenal tentang biola Aceh. Di samping itu, perkembangan musik modern mengakibatkan minat generasi muda terhadap biola Aceh menurun. Padahal, biola Aceh sebagai salah satu seni tradisi yang populer dapat menjadi media komunikasi sosial antara sesama warga  Aceh yang multi-etnis. Semoga saja kesenian ini tetap lestari di Bumi Aceh.

* Zulfadli Kawom
, warga  Gampong Paloh Raya, Mukim Krueng Mane, Aceh Utara

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved