Opini
Dzulhijjah, Bulan Pendidikan: Belajar dari Nabi Ibrahim Mendidik Anak dan Keluarga
Dzulhijjah pada dasarnya bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan yang menyimpan kurikulum pendidikan keluarga yang sangat kaya.
Oleh: Dr. Muhammad Haikal, Lc., M.H.I. *)
BAGI banyak orang, Dzulhijjah identik dengan haji, kurban, takbir, dan hari raya. Semua itu benar. Namun, ada satu sisi penting yang sering luput dibicarakan: Dzulhijjah juga dapat dibaca sebagai bulan pendidikan.
Pada bulan inilah umat Islam tidak hanya diajak mengenang perjalanan spiritual Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail, tetapi juga diajak mempelajari bagaimana sebuah keluarga dibentuk melalui iman, dialog, keteladanan, kesabaran, dan pengorbanan.
Dzulhijjah pada dasarnya bukan sekadar bulan ritual, tetapi bulan yang menyimpan kurikulum pendidikan keluarga yang sangat kaya. Manasik haji, ibadah kurban, pembangunan Ka’bah, hingga kisah penyembelihan Ismail, semuanya menunjukkan bahwa keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga yang dididik langsung dengan nilai-nilai tauhid.
Karena itu, bila Ramadan sering disebut bulan tarbiyah ruhiyah, maka Dzulhijjah sangat layak disebut sebagai bulan pendidikan keluarga.
Dalam perspektif sejarah Islam, hubungan Dzulhijjah dengan pendidikan keluarga Nabi Ibrahim sangat jelas. Ka’bah yang menjadi pusat ibadah umat Islam dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail. Al-Qur’an merekam momen itu dalam firman Allah, “Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail…” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Ayat ini bukan hanya bicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan generasi. Ismail tidak ditempatkan sekadar sebagai anak yang melihat dari jauh, tetapi dilibatkan dalam kerja suci ayahnya. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan terbaik tidak lahir dari ceramah yang panjang, melainkan dari keterlibatan anak dalam amal saleh yang nyata.
Pendidikan tauhid
Dalam kacamata pendidikan Islam, pelajaran pertama dari Nabi Ibrahim adalah pendidikan tauhid. Ibrahim tidak memulai pendidikan keluarga dari urusan duniawi, tetapi dari penanaman iman. Ia berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala” (QS. Ibrahim [14]: 35).
Doa ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terbesar seorang ayah saleh bukan semata-mata soal kemiskinan, pendidikan formal, atau status sosial anak, tetapi keselamatan iman keluarganya.
Di sinilah letak kekuatan pendidikan Islam. Pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan orientasi hidup.
Anak harus tahu siapa Tuhannya, untuk apa ia hidup, dan nilai apa yang harus dijaga. Nabi Ibrahim memberi teladan bahwa keluarga harus dibangun di atas akidah yang kokoh. Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa Ibrahim mewasiatkan agama ini kepada anak-anaknya agar tetap hidup dan mati dalam kepasrahan kepada Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 132).
Dengan kata lain, keluarga yang kuat adalah keluarga yang memiliki arah spiritual yang jelas.
Pelajaran kedua adalah pendidikan ibadah. Ketika Nabi Ibrahim menempatkan sebagian keluarganya di lembah tandus dekat Baitullah, beliau menjelaskan tujuannya dengan sangat tegas: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan salat” (QS. Ibrahim [14]: 37). Ini sangat penting.
Nabi Ibrahim tidak mendidik keluarganya hanya untuk bertahan hidup, tetapi untuk hidup dalam ibadah. Artinya, dalam pandangan pendidikan Islam, rumah tangga bukan sekadar tempat makan, tidur, dan mencari nafkah.
Rumah tangga adalah tempat lahirnya manusia yang mengenal salat, doa, syukur, sabar, dan tawakal. Orang tua bukan hanya penanggung biaya hidup anak, tetapi juga penanggung jawab tumbuhnya iman di dalam rumah. Maka, Dzulhijjah mengingatkan para orang tua bahwa pendidikan anak tidak cukup dengan menyekolahkan, tetapi juga harus menanamkan ibadah sebagai denyut kehidupan keluarga.
Pendidikan dialogis
Pelajaran ketiga yang sangat kuat adalah pendidikan dialogis. Kisah paling agung dalam Dzulhijjah tentu adalah perintah penyembelihan Ismail. Yang menarik, Nabi Ibrahim tidak menyampaikan perintah itu secara otoriter. Beliau berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu” (QS. Ash-Saffat [37]: 102). Kalimat ini sangat mendidik. Ibrahim tidak memaksa dengan bahasa kekuasaan, tetapi mengajak anak berdialog, memahami, dan ikut memiliki keputusan moral itu.
Dalam sudut pandang psikologi pendidikan, cara ini sangat modern. Anak yang diajak berdialog akan lebih mudah menginternalisasi nilai daripada anak yang hanya dibiasakan taat secara mekanis. Nabi Ibrahim memberi ruang pada Ismail untuk menjawab, dan jawaban Ismail menunjukkan kematangan luar biasa: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Saffat [37]: 102).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Haekal-0406.jpg)