SerambiIndonesia/

Pelajaran Penting dari Pilpres Taiwan

TUNTUTLAH ilmu hingga ke negeri Cina. Begitu bunyi salah satu sabda Nabi Muhammad saw. Tidak dapat dipungkiri bahwa Cina dari dulu

Pelajaran Penting dari Pilpres Taiwan
KHAIRUL RIJAL
OLEH KHAIRUL RIJAL, Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia-Taiwan, melaporkan dari Taichung

TUNTUTLAH ilmu hingga ke negeri Cina. Begitu bunyi salah satu sabda Nabi Muhammad saw. Tidak dapat dipungkiri bahwa Cina dari dulu sampai sekarang adalah bangsa yang terdepan dari sisi keilmuan walaupun menganut paham komunis.

Taiwan atau disebut juga Republik China berbeda dengan Republik Rakyat China/RRC yang beribu kota di Beijing. Ada persoalan politik yang mengganjal akibat masa lalu, namun “anehnya” dari sisi ekonomi kedua negara ini seiring sejalan.

Tanggal 14 Januari 2012 akan ada pesta demokrasi empat tahunan terbesar di Republik Cina, yaitu pemilihan presiden (pilpres) dan wakil presiden Taiwan ke-13 dan juga menjadi pemilihan secara langsung yang kelima kalinya. Pemilihan ini bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif Taiwan.

Hampir sama dengan Pilkada Aceh, dari tiga capres baru ada dua kandidat yang bersaing cukup ketat dalam beberapa hasil polling di Taiwan, yaitu sang incumbent, Presiden Ma Ying-jeou yang juga Ketua Partai Koumintang (Partai Nasionalis Cina/PNC) dan Ketua Partai Progresif Demokratik/PPD yang juga seorang perempuan, Tsai Ing-wen.

Janji kampanye kedua kandidat ini sangat berbeda, sehingga memecah suara pemilih. Walaupun PNC adalah partai yang mendirikan Negara Taiwan saat berselisih dengan RRC pada tahun 1949, namun arus politik partai telah berubah. Mereka mempunyai visi untuk bersanding dengan RRC dalam hal kerja sama ekonomi dan perdagangan dan tidak menutup kemungkinan untuk bersatu di masa mendatang.

PPD mengusung ide nasionalisme dengan mengangkat kebebasan politik dan kemajuan Taiwan yang sudah mereka raih dan khawatir ini semua akan berubah saat bekerja sama, apalagi bergabung jadi satu dengan RRC. Perbedaan ideologi ini membuat analis sulit memprediksi siapa pemenang kali ini.

Data terakhir dari Global Views Survey Research Center, Presiden Ma unggul tipis dari Tsai dengan 38,9% berbanding 38,6%. Isu-isu yang dikembangkan sangat “panas” dan media mengupasnya secara provokatif. Namun, di kalangan masyarakat tidak ada aksi unjuk rasa untuk menunda pemilihan maupun mengubah UU Pemilu, apalagi aksi kekerasan. Masyarakat Taiwan sangat patuh kepada peraturan perundang-undangan dan menghormati setiap keputusan lembaga tinggi negara.

Suasana kampanye pemilihan presiden di Taiwan sangat berbeda dengan Indonesia. Saya bersama seorang teman, Usuluddin Andrea, pada Jumat malam, 4 Oktober 2011 berkesempatan mengikuti kampanye Presiden Ma. Acara kampanye tertutup ini dilaksanakan di Gedung Gymnasium Asia University, Taichung, Taiwan Tengah.

Pengamanan gedung luar biasa ketat oleh pasukan pengamanan presiden (paspampres), namun tidak berlebihan. Tidak ada jalan yang ditutup, tidak ada blokade ring 1, 2, 3 dan seterusnya. Kami bahkan diizinkan masuk ke dalam gedung untuk menyaksikan secara langsung kampanye tersebut.

Presiden Ma sangat bersahabat. Saat diberi kesempatan bicara, secara spontan dia turun dari panggung dan menyapa seluruh peserta kampanye yang hadir sekitar 2.000-an orang. Dia berdialog dan memaparkan programnya ke depan langsung dengan rakyatnya. Gaya dan aksinya sangat lincah walau kami tidak fasih berbahasa Mandarin, tapi bisa menangkap maknanya bahwa dia akan meneruskan program pemerintah dan akan membawa Taiwan ke arah yang lebih baik.

Di akhir acara ada sesi salaman dan foto bersama di panggung. Semua peserta kampanye boleh ikut naik panggung. Bayangkan, betapa hebatnya presiden ini, mau duduk-bangun dan menyalami ribuan orang dalam waktu yang singkat serta menjadi orang yang terakhir pulang saat semua peserta kampanye sudah pulang. Sampai-sampai saya ingin naik panggung untuk bersalaman dan berfoto. Tapi akhirnya dilarang dengan santun oleh paspampres, karena saya bukan peserta, juga bukan warga negara Taiwan. Saya warga Indonesia kelahiran Pidie yang saat ini kuliah S2 di Asia University, Taichung, Taiwan.

Sepanjang yang saya amati, tidak ada pembagian “angpau” dan barang apa pun kepada peserta, kecuali bendera kecil Taiwan dan beberapa brosur berupa program kerja dari Presiden Ma.

Sungguh pengalaman yang sangat berkesan dan banyak pelajaran penting yang bisa diambil untuk Indonesia, lebih khusus lagi untuk Aceh yang bakal segera menggelar pilkada.

Taiwan telah membuktikan bahwa model berpolitik santun seperti ini mampu membawa mereka menjadi salah satu negara yang maju di dunia walaupun tidak semua negara, termasuk Indonesia, mengakui mereka sebagai sebuah negara. (*)  

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help