Breaking News
Senin, 13 April 2026

Citizen Reporter

Melihat San Siro dari Dekat

KARENA akhir minggu lalu saya tak punya kegiatan yang sudah terjadwal, saya coba jalan-jalan ke San Siro, stadion bola kaki terbesar di Milan

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Melihat San Siro dari Dekat
SEHAT IHSAN SHADIQIN
OLEH SEHAT IHSAN SHADIQIN, Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry, kuliah di Universita degli Studi di Milano-Bicocca, melaporkan dari Italia

KARENA akhir minggu lalu saya tak punya kegiatan yang sudah terjadwal, saya coba jalan-jalan ke San Siro, stadion bola kaki terbesar di Milan, Italia. Jujur saja, berkunjung ke San Siro sudah lama saya inginkan, bahkan sejak sebelum saya tiba di Milan.

Lalu saya ambil peta, mencari tahu jalan mana yang paling dekat ke San Siro. Ternyata stasiun metro (subway) terdekat dengan San Siro adalah Lotto. Tak terlalu jauh dari kediaman saya. Hanya setengah jam perjalanan. Cuma, dari stasiun itu saya harus berjalan kaki dua kilometer barulah sampai di stadion kebanggaan warga Milan ini.

Dari jauh stadion itu sudah tampak, bangunan bundar yang tinggi menjulang. Ketika semakin dekat, “perang supporter” melalui grafiti mulai terlihat. Di dinding-dinding banyak tulisan yang memuji Inter Milan, lalu di bawahnya ada tulisan yang menjelekkannya dengan warna cat yang berbeda. Atau sebaliknya, ada tulisan yang memuji AC Milan, lalu di atasnya tampak ada coretan berlapis-lapis, kemudian di bawahnya ada tulisan lain yang bernada ejekan.

Hari itu San Siro sedang tidak menyelenggarakan pertandingan, sehingga jalan ke sana agak lempang. Saya sampai di bagian belakang stadion. Di bagian belakang ini tersedia loket penjualan tiket pada hari pertandingan dan toko bungong jaroe (souvenir) Inter dan Milan yang hanya buka pada hari pertandingan.

Pada hari biasa, masuk ke dalam stadion harus lewat pintu depan dan membeli tiket. Kalau hanya mau melihat museum, tiketnya tujuh euro (sekitar Rp 85.000). Sementara kalau mau melihat museum dan masuk ke tribun penonton, mau lihat tempat ganti baju, dan bagian lain di dalam ruangan, maka harus bayar 12,50 euro (sekitar Rp 150.000). Semua hal mereka bisniskan.

Museum San Siro terletak di bagian dalam stadion, di bawah tribun penonton. Di sana ada sebuah ruangan yang mungkin hanya 15x20 meter. Dalam ruangan itu dipajang beberapa piala Inter Milan dan AC Milan. Di sana juga dipajang sejarah perjalanan kedua klub. Di sisi kanan pintu masuk ruangan Inter Milan, sedangkan di sebelah kiri ruangan AC Milan. Namun, di bagian belakang kedua ruangan itu tetap berhubungan. Jadi, kita bisa masuk dari salah satunya dan ke luar dari bagian yang lain.

Ruangan ini disekat dalam petak-petak lebih kecil. Tersedia juga ruang pemutaran film dan ruang pajang baju yang pernah dipakai tim tamu yang pernah bermain di San Siro.

Di ruang pajang, saya lihat display  kostum yang pernah dikenakan pemain kebanggaan kedua klub. Di bagian Inter Milan, antara lain, ada kostum Ronaldo, Zamorano, dan beberapa pemain top lainnya. Sementara di bagian AC Milan ada nama Beckham, Paulo Maldini, Kaka, dan Ibrahimovic yang saat ini masih bermain di AC Milan.

Di sana juga ada beberapa miniatur Stadion San Siro yang terbuat dari kayu, juga ada yang terbuat dari tembaga. Ada juga beberapa buku tentang kedua tim ini.

Tepat pukul 16.00 sore, seorang perempuan muda memanggil orang-orang di dalam ruangan itu untuk memulai tur masuk ke dalam stadion. Kebanyakan pengunjung adalah orang asing, hanya beberapa saja orang Italia. Si guide ini menjelaskan dalam bahasa Inggris dan Italia.

Saat masuk ke dalam stadion, ternyata kami masih berada di bawah. Kami diminta naik ke tribun penonoton dan si pemandu mulai menjelaskan sejarah stadion itu. Antara lain ia katakan bahwa stadion itu adalah milik bersama antara Inter Milan dan AC Milan. Semula hanya AC Milan yang bermarkas di San Siro. Tapi pada tahun 40-an, Inter Milan juga masuk ke sana. Jadi sekarang, kedua tim kebanggaan masyarakat Milan itu menjadikan San Siro sebagai homebase mereka. Namun, mereka tidak bermarkas di sana, masing-masing klub ada markasnya sendiri di tempat lain.

Dari tribun penonton kami dibawa ke bawah. Ditunjukkan pintu yang biasanya dilalui pemain saat masuk ke lapangan. Biasanya pemain dari kedua kesebelasan yang akan bertanding ke luar ke lapangan dari pintu itu dengan menggandeng tangan anak-anak.

Terakhir, kami dibawa ke ruang konferensi pers. Di bagian dindingnya terdapat papan yang dilengketi nama-nama sponsor. Setiap kali pertandingan usai, wajib bagi pelatih kedua kesebelasan memberikan keterangan pers kepada wartawan yang menunggu di sana.

Ruangan ini adalah ruang terakhir yang diperkenalkan kepada kami. Setelah itu tur selesai dan kami ke luar dari pintu masuk semula. Saat tiba di luar, hari mulai remang. Mentari hampir tenggelam, padahal belum jam lima sore. Udara dingin mulai menusuk kulit. Saya putuskan untuk segera kembali ke rumah. Dalam hati saya berdoa, suatu saat bisa menonton bola di San Siro. Mudah-mudahan ada yang traktir. (*)

* Anda punya informasi menarik? Kirimkan naskah dan fotonya serta identitas plus foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved