Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Berekspresi Secara Arif

PALING enak menjadi pemberontak, asal jangan ditembak mati

Tayang:
Editor: hasyim

Oleh Muhammad Mirza Ardi

PALING enak menjadi pemberontak, asal jangan ditembak mati. Mengenai apa yang diberontak, janganlah mencari korban jauh-jauh. Carilah alasan-alasan yang ada di depan hidung, kalau perlu yang bermutu kampungan sekali pun. Tidak apa-apa, pokoknya Saudara bisa menjadi pemberontak. Dan pemberontak adalah pahlawan.

Kehidupan sosial dan politik di Aceh memang perlu diberontak. Tapi seharusnya yang memberontak adalah otak: bagaimana menguasai ilmu pengetahuan dengan baik agar nanti bisa berkontribusi dan mengubah keadaan menjadi lebih bermutu. Untuk itu, orang-orang berkaliber besar perlu tampil. Ini sulit, karena pada dasarnya memberontak memang sulit.

Kalau Saudara merasa tidak berkaliber raksasa, pakailah konsep yang gampang. Jangan berpayah-payah: katakanlah pemerintah kota (pemko) Banda Aceh sekarang bobrok. Katakanlah pemko Banda Aceh lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur seperti membangun gedung dari pada membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Mantap. Sekarang Saudara sudah kelihatan nampak kritis. Makanya Saudara memberontak.

Lantas bagaimana caranya Saudara memberontak? Tak perlu berpikir keras. Ambil gampangan saja. Agar disebut melawan kemapanan, Saudara tinggal mengubah penampilan. Bila rambut masyarakat biasa disisir rapi, maka Saudara rambutnya Mohawk. Bila masyarakat mandi 2 kali sehari dan berusaha hidup bersih, maka Saudara hidupnya bergelandangan, kumuh, tidur di tempat umum, dan tak usah mandi sekalian. Dengan tampil eksentrik, Saudara telah melabrak pribahasa “di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, maka jangan heran kalau warga sekitar melihat komunitas Saudara seperti perkumpulan orang sinting.

 Komunitarianisme Aceh
Karena dianggap kurang waras, kini saudara marah-marah. Lalu berteriak “Nama Saya Gendon, Saya Punker: Ada Masalah?” Jawabannya ada. Masalahnya Saudara tidak meneliti terlebih dahulu karakter masyarakat Aceh. Padahal masyarakat Aceh ini berwatak komunitarianisme. Komunitarianisme memelihara keyakinan bahwa identitas dan alam pikiran individu hanya bermakna dan boleh bereksistensi di dalam (dan seizin) komunitas. Akibatnya, konsep kebebasan dan kemajemukan tidak dapat tumbuh dalam pergaulan warga negara. Konsep “kewarganegaraan” dan “hak sipil” menjadi sekunder dibanding”etnisitas” atau “agama”.

Komunitarianisme juga tumbuh dalam suatu metafisika fondasionalistik. Masyarakat harus berdasar pada satu doktrin final. Agama biasanya memonopoli doktrinisasi itu. Ada hirarki nilai disini: kebenaran, keindahan, dan keadilan ditentukan secara monopolistis oleh pemegang otoritas tertinggi komunitas. Komunitarianisme memonopoli alam pikiran umum dan menentukan kedudukan hierarkis sebagai wujud dari pengendalian politik. Sehingga kalau pun nampak ada harmoni sosial di dalam tatanan masyarakat komunitarian, itu semata-mata terjadi karena politik disiplin yang hirarkis.

Di dalam masyarakat komunitarian, stabilitas kelompok memerlukan pendisiplinan ketat mengikuti doktrinisasi pimpinan. Etika sosial tidak tumbuh dari sistem pertukaran filsafat ide atau budaya, melainkan pada kepatuhan absolut pada tuntutan doktrin. Monopoli nilai komunitas terhadap nilai individual inilah yang menghasilkan obsesi politik identitas (seperti citra daerah Syariat Islam) pada masyarakat itu. Akibatnya, komunikasi dengan dunia luar menjadi ancaman terhadap stabilitas komunitas (Gerung, 2011).

Saya sendiri tidak suka dengan iklim komunitarianisme, namun inilah realita sosial kita sekarang. Jadi jangan heran bila ada yang berkoar-koar “hak kebebasan berekspresi” atas nama HAM, maka dijamin mental. Ini bukan soal kesadaran hukum, melainkan psikologi masyarakat yang memiliki imunitas terhadap budaya asing (baru) yang kuat. Apalagi dengan cara berpakaian Saudara yang dianggap “tidak sopan”, bermabuk-mabukan, mengajak anak sekolahan untuk bergabung dengan kelompok Saudara, lalu nongkrong sampai larut malam di Blang Padang. Bisa jadi kalau bukan polisi yang menangkap Saudara, masyarakat sendiri yang turun tangan.  

Saudara beruntung tidak tinggal di Singapura semasa pemerintahan Lee Kwan Yew. Di Negeri Singa yang lebih maju itu, jangankan berambut Mohawk, berambut gondrong saja langsung digaruk dan mendapat denda yang besar. Dihukum tanpa ada “pembinaan”. Lee Kwan Yew tegas karena ia sadar Singapura tak punya sumber daya alam. Untuk bisa maju, Singapura harus kuat di sumber daya manusia. Di butuhkan suatu masyarakat yang disiplin, bersih, dan produktif secara ekonomi.

Di Singapura tidak hanya berambut gondrong yang dihukum. Orang yang membuang sampah sembarangan, melakukan vandalisme (perusakan barang publik), tidak tertib di jalan, bahkan yang membuang permen karet pun bakal dihukum atau dikenakan denda. Pernah seorang remaja Amerika dihukum cambuk gara-gara melakukan vandalisme. Amerika Serikat gempar. Dan pemuda itu tetap diberi hukuman cambuk. Lee Kwan Yew tidak goyah satu millimeter pun dengan gertakan luar negeri.

Saya bukannya ingin melarang Saudara berekspresi dengan gaya punk. Itu adalah hak Saudara. Tapi harus diingat akan ada konsekuensinya dari masyarakat setempat. Lebih baik Saudara mencari format baru dalam berekspresi. Mencari suatu bentuk kreatifitas baru yang akan diterima warga Aceh. Saya pikir ini adalah pilihan yang paling masuk akal bila Saudara ingin memberontak dan berekspresi dengan cara sendiri.

 Pada Mulanya adalah Otak

Bila memang serius mau memberontak terhadap kemapanan, harus diingat bahwa segala kehebatan mula-mula berpencar dari otak, dan sesungguhnya yang dinamakan pemberontakan budaya bukanlah aksi “asal bergaya beda” yang hakikatnya meniru budaya luar dan berpakaian kotor seperti pengemis.

Mempelajari band-band punkers yang hebat bukanlah dengan meniru-niru perbuatan mereka yang dalam beberapa hal ada yang acak-acakan. Mempelajari musik Ramones dan The Clash dengan tekun lebih baik dari pada melukis badan dengan tato dan mabuk-mabukan.

“Punk adalah kebebasan bermusik,” tulis penyanyi Curt Cobain. Esensinya sebagai pemberontakan terhadap genre-genre cara bernyanyi dan bermusik yang dianggap mapan. Seniman pemberontak adalah orang-orang yang mau belajar dan memperbaiki kualitas mutu seni mereka. Bukan orang yang hidupnya dari pagi sampai malam nongkrong di pinggir jalan.

Kahlil Gibran dan Chairil Anwar juga hidup seperti gelandangan (bohemian). Tapi mereka berdua terus-terusan memperbaiki kualitas karya seni mereka dengan membaca dan mempelajari hal yang baru.

Seniman dan pemberontak yang baik mempunyai sikap hidup intelektual, yaitu selalu mencari, selalu mengkaji, dan hidup dengan baik. Bukan sikap hidup pemalas, enggan belajar dan senang membuang-buang waktu. Memang, kepandiran masih merajalela di generasi muda kita.

* Penulis adalah pegiat Kelompok Studi Darussalam (KSD)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved