Selasa, 5 Mei 2026

Opini

Kemenag Rawan Korupsi?

PENGHUJUNG tahun lalu, di sela-sela doa dan kenduri untuk almarhum Abu kami, seorang pengacara yang ikut hadir dan diskusi, memancing sekaligus

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Muhammad Yakub Yahya

PENGHUJUNG tahun lalu, di sela-sela doa dan kenduri untuk almarhum Abu kami, seorang pengacara yang ikut hadir dan diskusi, memancing sekaligus ‘menguji’ emosi saya, “Apa benar Kemenag rawan korupsi?” Sebagaimana juga pembelaan dari instansi lain, jika institusinya `dihina orang’, saya sebagai salah satu staf yang terus terang lebih lama hidup bukan sebagai PNS, kerja lebih lama tidak di bawah langsung Kemenag, dengan alasan klise (klasik) coba beranalogi, “Bagaikan kain putih, jika ternoda sedikit saja, Kemenenag itu kelihatan sekali belangnya. Sedangkan institusi lain, bagaikan kain berwarna warni, jika ternoda walaupun belepotan, tak kontras kelihatannnya.”

Dia pun sepertinya setuju, sekaligus menguatkan ‘eksepsi’ (keberatan) saya, seraya membandingkan dengan data-data dari LSM, perihal ‘permainan halus’ dan ‘licik’ elite kita di provinsi dan kabupaten, dalam menyikat dan ‘mengikat’ uang rakyat, di luar Kemenag (Kementerian Agama), yang jauh lebih ‘dahsyat’, ketimbang olah anggaran ‘cilet-cilet’ di Kemenag. Semoga data pengacara itu juga, ‘dongeng’ dan ‘hikayat uleue’ di siang itu. Walau sulit memilah dan memilih, mana isi (asoe) dan mana pula nangka (boh panah)--mana yang akurat, valid, dan ‘shahih’, dan mana yang hanya ‘konon’ dan ‘katanya’.

Kita berlindung dari hamba Allah, dari tipologi yang doyan mencaci dan menggunjing, tapi alpa dengan kebobrokan diri. Sembari kita juga berdoa dijauhi dari raja, elite, yang ‘menggendutkan’ cuma perut kafilah, ‘kabilah’, dan ‘puak’nya, tapi abai dengan derita ‘saingan’nya. “Paleh rakyat dimeu-upat rata sagoe; paleh raja dipeusapat peng bandum keudroe,” isyarat hadih majah Aceh ‘soal orang-orang celaka’, yang tak boleh kita iyakan.

Wajar Menag (Menteri Agama) RI, Suryadharma Ali, sebagai ‘bapak’ yang membawahi sebagian ilhwal keagamaan, kembali merajut doa-doa dan mengirimkan pada pagi milad ke 66 (3 Januari 1946-3 Januari 2012), buat ‘anak-anak’ di Kanwil dan jajarannya di daerah, “Hindarkanlah kami dari segala bentuk fitnah dan keburukan yang merusak, sebab tak ada kekuatan lain yang mampu menghindarkannya dari kami, kecuali Engkau, ya Allah. Tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikan kepada kami kekuatan untuk mengikuti dan menegakkannya. Dan tunjukkan kepada kami yang salah itu adalah salah dan berilah kami kesempatan serta keberanian untuk menjauhinya.”

“Dengan kepemimpinan yang baru, Kemenag Aceh kita harapkan menjadi teladan dan pelopor kemajuan dan kebaikan ke depan. Toleransi dan kerukunan di Aceh selama ini mesti terpupuk dan mekar lebih berkembang lagi. Menyahuti 2012, pejabat baru Kemenag kita harapkan agar mampu menggerakkan kerja keras seluruh jajaran, dengan koordinasi, komunikasi, tulus hati. Ke depan kinerja lebih bersinar lagi, terutama untuk kerukunan umat dan kedamaian bangsa. Kita memberi penilain baik untuk kinerja Kakanwil sebelumnya. Walaupun belum maksimal, itu suatu hal yang wajar-wajar saja di tengah pertarungan berbagai kepentingan di Aceh pada masa transisi,” ulas dan balas Yusny Saby, `guru bangsa Aceh’

Menag memang baru saja mengganti Kanwil Kemenag Aceh--dari A Rahman Tb, kepada Ibnu Sa’dan pada Senin 24 Oktober 2011, juga meminta kita mengaminkan penggalan bait-bait pintaan pada Allah, pagi Selasa ini, di kebisingan kota dan di lembah sunyi, “Allah moga Engkau `mengetuk pintu hati’ semua kita; mudah-mudahan dari Pemilukada akan menang yang sayang pada rakyat dan takut pada Rabb.” Walaupun nestapa tembakan warga masih ada, meski riuh kebijakan pilkada masih terasa. Semoga penjara kian sepi, bukan tambah sesak, apalagi bersama orang Kemenag.

Beberapa oknum pejabat yang ‘di-Nusakambangan-kan’, ‘di-Salemba-kan, atau di sel lainnya di nusantara, memang itu orang Kemenag, Namun pegawai dari kementerian, staf dari badan, bawahan dari lembaga lain, jauh lebih banyak daripada pegawai Kemenag yang mendarmabaktikan di ‘kementerian jalan surga’ itu. Keluar masuk sel, itu ibrah bagi kita--pembaca yang ‘makan gaji’ dari Kemenag atau ‘dikasih makan’ oleh ‘bendahara’ di luar Kemenag--bahwa mamang ada satu Menag (Menteri Agama) RI pada era Presiden Megawati yang alim dan qari, juga guru besar, sedang menghabiskan masa tuanya di penjara, lantaran kasus ‘sisa uang haji’. Namun kekeliruan menafsirkan situasi, dan berhadapan terhadap sistem saat itu, lebih beralasan dia di penjara, daripada aspek lainnya. Sebagaimana juga oknum Ketua KPU, yang baru usai menjalani masa tahanan, yang juga guru besar itu, atau ketua lainnya, itu mengambil kebijakan yang patut di masa transisi itu, tapi kelak diperkarakan penegak hukum.

Namun, sejatinya, eloknya tak boleh setetes pun noda korupsi, juga dosa besar lainnya, ‘bergetah’ apalagi membandel di baju pegawai Kemenag. Sampai dengan milad pada usia ‘kepala enam’, lewat Hari Amal Bakti (HAB), motto ‘Ikhlas Beramal’ (hati bak malaikat atau kunci surga), di bawah logo kitab/buku (kompas, petunjuk) dan bintang (obor, suluh), yang diapit padi dan kapas (tanda sejahtera), Kemenag tetap menargetkan yang terdepan dalam teladan dan semangat beramal salih.

Lantaran sudah ‘uzur’, Depag yang lahir lima bulan usai RI merdeka, Kemenag memang relatif ‘banyak dosa’ yang bisa disorot, dibandingkan dengan lembaga yang baru berumur setengah atau satu dekade saja. Dituding, bagus ‘orang tua’ jika tak gampang marah. Dihujat, mulia ‘pak tua’ jika senang memaafkan. Tak suka banyak energi buat membela diri, dan pembenaran diri. Kemenag, karena ‘tua’ butuh ‘tongkat penyangga’, ingin banyak kawan, pengawas--termasuk pers, dan penasehat--guna menapaki kebenaran, saat berkiprah dan berdakwah, meski nasihat itu sakit, karena cubitan dan sentilan beragam pihak. Swasta dapat menyumbang banyak ‘tongkat’ buat Kemenag.

Kemenag sudah ‘tua’ dan ‘keriput’. Kian lama hidup, tentu lebih banyak kawan, bukan malah tambah lawan, apalagi sesama mitra yang sudah ‘berumur’. Para muda, tuntunlah ‘tongkat ayah Kemenag’ yang sudah ‘uzur’ itu meniti tahun ini bersama-sama. Ikhsanuddin MZ, Ketua DPD KNPI Aceh pernah meminta. “Lebih spesisifik lagi, untuk Penamas, perlu memberikan pemahaman yang akurat tentang ajaran sesat. Agar masyarakat Aceh tidak terjebak lagi ke depan seperti tahun-tahun yang sudah. Millata Abraham, masih ‘mencari mangsa’. Khusus untuk Urais, terus meng-online-kan data nikah di setiap KUA. Supaya tiada lagi penipuan pada setiap individu dan pasangan, tentang status perkawinan, perceraian, dan rujuknya.

“Moga kita taat beragama, rukun, damai, cerdas, mandiri, makmur dan sejahtera lahir-batin, di bawah naungan ridha Ilahi: baldatun thayyibatun warabbun ghafûr,” begitu asa dan doa Kemenag hari jadi ini, dan tiap pagi esok hari. Di usia yang sudah dua pertiga abad, di tengah riuh rendah pembasmian `tikus berdasi’, Kemenag RI--dulu Depag (Departemen Agama)--yang mengusung tema, “Memperteguh Komitmen untuk Membangun Kementerian Agama yang Bebas dari Korupsi” tahun ini, moga itu pun bukan ilusi, ‘sawan’, sakit ‘alzeimer’, pikun, pelupa, mimpi buruk sambil omong (wen-wen), atau ‘linglung (jawai)’ dari orang ‘uzur’, melainkan harap besar, obsesi, misi-visi, dari ‘tetua’ yang telah `lama’ hidup, banyak makan asam garam, dan ‘asam sunti’. Salam HAB Kemenag ke 66.

* Penulis adalah Direktur TPQ Plus Baiturrahman dan staf Kanwil Kemenag Aceh

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved