Kupi Beungoh
Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh
“Bek syeh syoh” bukan sekadar teguran, tapi cermin budaya rapat kita. Gangguan kecil yang dianggap sepele justru perlahan merusak kualitas musyawarah.
M. Shabri Abd. Majid
Ada ironi dalam banyak rapat di Aceh: semakin penting pembahasannya, semakin banyak syeh syoh di dalam ruangan. Pintu berbunyi, langkah kaki lalu-lalang, bisik-bisik tumbuh di sudut forum, perhatian pecah sedikit demi sedikit.
Tidak gaduh, tidak pula kacau. Justru karena tampak sepele, syeh syoh dibiarkan menjadi kebiasaan, padahal banyak forum kehilangan kejernihannya bukan karena kurang gagasan, tetapi karena terlalu banyak gangguan kecil yang menggerus fokus bersama.
Karena itu, ketika Gubernur Aceh, Mualem, berkata “bek syeh syoh,” kalimat itu terasa seperti kritik telanjang terhadap budaya rapat kita sendiri.
Aceh adalah negeri syariat yang membanggakan adab dan penghormatan terhadap majelis. Namun mengapa syeh syoh justru hidup di ruang musyawarah kita? Mengapa begitu sulit menjaga ketenangan saat orang lain berbicara?
Dan jangan-jangan, masalah terbesar kita hari ini bukan kurangnya aturan atau orang pintar, tetapi karena syeh syoh perlahan berubah dari gangguan kecil menjadi budaya yang dianggap biasa?
Baca juga: Catat! Mei 2026 Punya 6 Tanggal Merah dan 3 Long Weekend, Siap-Siap Libur Panjang
Makna Syeh Syoh
Syeh syoh adalah istilah khas Aceh untuk perilaku kecil yang diam-diam merusak ruang bersama. Ia muncul ketika forum membutuhkan tenang: langkah kaki yang tak perlu, bisik-bisik yang memecah konsentrasi, keluar-masuk ruangan tanpa urgensi, hingga kegelisahan untuk terus terlihat aktif meski tanpa kontribusi.
Kelihatannya sepele, tetapi cukup untuk mematahkan fokus, mengaburkan alur pikir, dan membuat forum kehilangan kejernihannya sedikit demi sedikit.
Dalam bahasa akademik modern, syeh syoh dekat dengan behavioral noise (gangguan perilaku), social distraction (distraksi sosial), busybody syndrome (sindrom terlalu ikut campur), hingga crisis of attention (krisis perhatian).
Ia bukan sekadar keributan fisik, melainkan gangguan perilaku yang memecah perhatian kolektif dan merusak kualitas dialog.
Ironisnya, perilaku seperti ini sering disamarkan sebagai bentuk keaktifan dan kepedulian, padahal pada titik tertentu ia justru menjadi distraksi yang menggerogoti kualitas musyawarah.
Fenomena syeh syoh dapat ditemukan hampir di semua forum publik: dari musrenbang hingga rapat gampong, dari seminar kampus hingga kantor pemerintahan.
Aceh ingin bergerak cepat mengejar masa depan, tetapi sering tersandung oleh hal paling dasar: kemampuan untuk duduk tenang, mendengar penuh, dan menghormati ruang musyawarah.
Sebab sebuah masyarakat tidak selalu melemah karena krisis besar; kadang ia kehilangan kualitas berpikirnya perlahan-lahan hanya karena terlalu lama membiarkan gangguan kecil menjadi kebiasaan.
Baca juga: AS Kaget, Jet F-5 Iran yang Dianggap Jadul Jebol Pertahanan Udara, Bombardir Pangkalan AS di Kuwait
Syeh Syoh: Sepele tapi Mengganggu
Dalam banyak forum resmi di Aceh, pemandangannya hampir selalu sama: pembicara sedang menjelaskan hal penting, tetapi pintu lebih sibuk bergerak daripada perhatian peserta rapat.
| Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan |
|
|---|
| PERTI Aceh: Menjaga Sanad, Merawat Tradisi, dan Menata Arah Keberagamaan |
|
|---|
| Di Aceh, Siapa yang Melindungi Perempuan? |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian |
|
|---|
| Menghindari JKA Sebagai Sumbu Konflik: Urgensi Cooling Down bagi Elite Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)