Opini
‘Balad al-Fisbukiyah’
WELL, biarkan saya berikan beberapa tips yang sangat praktis
“WELL, biarkan saya berikan beberapa tips yang sangat praktis. Pertama-tama, saya peringatkan kepada semua orang untuk berhati-hati menuliskan sesuatu di Facebook, karena di zaman YouTube, apa pun yang kalian tulis, akan kembali lagi kepada kalian. Karena kalian masih muda, kalian membuat kesalahan dan melakukan beberapa hal bodoh.” (Barack Obama).
Ada apa sebenarnya di balik Facebook, sehingga Obama harus mengeluarkan warning kepada warganya, di Washington, pada September tahun lalu itu? Padahal Facebook juga diciptakan oleh warga Amerika itu sendiri. Facebook adalah sebuah situs jaringan sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg pada 4 Februari 2004.
Penemu situs pertemanan itu adalah seorang mahasiswa yang dikeluarkan (droup out) dari Universitas Harvard Amerika Serikat, karena keisengannya menciptakan beberapa website yang dinilai tidak bermanfaat dan seringkali memperburuk citra kampus. Namun tiga bulan sejak di droup out, ia berhasil meluncurkan jejaring sosial yang diberi nama Facebook.
Pada awalnya, Facebook yang memakai situs www.facebook.com sebelumnya bernama thefacebook dengan situs www.thefacebook.com. Oleh Mark Zuckerberg, tujuan facebook digunakan untuk memudahkan komunikasi antar mahasiswa Universitas Harvard. Hanya dalam 24 jam setelah diluncurkan, 1.200 mahasiswa Harvard sudah menjadi anggota dan sebulan kemudian, separuh warga Harvard telah menjadi anggota.
Keberhasilan ini membuat Zuckerberg membuka keanggotaan The Facebook untuk seluruh mahasiswa di Boston. Setelah beberapa waktu, pada bulan September 2006, Zuckerberg cs membuka pendaftaran untuk umum, dengan target pengguna adalah seluruh mahasiswa dan masyarakat umum di seluruh penjuru dunia. Karena banyaknya yang merespon, Mark Zuckerberg memasukkan dua temannya untuk membantu mengembangkan facebook.
Kejeniusan dan kreativitas lewat Facebook membuat anak muda yang dilahirkan pada 14 Mei 1984 ini menempatkan dirinya dalam jajaran 400 orang terkaya di Amerika Serikat versi Majalah Forbes edisi September 2008, tepatnya peringkat 321 dengan total kekayaan 1,5 miliar dollar AS (Forbes: 2008). Pada tahun 2007, tercatat penambahan user/pengguna setiap pekannya mencapai satu juta lebih, atau setara 200 ribu pengguna perharinya.
Di Indonesia sendiri, facebook baru dilirik oleh masyarakat pada awal 2008. Beberapa bulan kemudian, facebook telah melonjak menjadi lima besar situs paling banyak dikunjungi se-Indonesia, dan menobatkan Indonesia sebagai Negara Asia Tenggara yang paling cepat perkembangannya. Sampai 2009 pengguna facebook telah mencapai 1,4 juta di seluruh Indonesia, dan 175 juta di seluruh dunia.
Facebook hadir di tengah-tengah masyarakat luas pada umumnya dan mahasiswa atau siswa pada khususnya, adalah untuk menjalin hubungan silaturrahim, memudahkan pertemanan, komunikasi, melebarkan jaringan, dan memudahkan satu individu dengan yang lain dalam pemenuhan kebutuhan sebagai makhluk sosial untuk saling bergantung dan berkomunikasi. Namun hanya sedikit yang betul-betul memanfaatkan untuk tujuan silaturrahmi.
Fenomena Facebook telah menjadi polemik di kalangan ulama modern. Ada yang dengan tegas mengharamkan, di antaranya Dr Ali Al-Maliki dari Arab Saudi. Ia meminta pemerintah untuk memblokir situs ini dan menganggap sebagai pintu syahwat. Pemerintah Iran dan Syiria juga telah melarang penggunaan facebook untuk seluruh kalangan di negara tersebut. Ada juga para intelektual muslim yang membolehkan, namun tentunya dengan tetap memberikan batasan-batasan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.
Dampak negatif
Pertama, terjebak dalam kesyirikan. Ini disebabkan karena salah satu fitur facebook yaitu memanjakan penggunanya dengan aplikasi ramalan setiap harinya. Ramalan apa pun bentuknya seperti ramalan bintang, nasib, rezeki, dan juga shio adalah termasuk salah satu hobi masyarakat jahiliyah sebelum Islam, dan kemudian diharamkan oleh Islam karena mengandung unsur kesyirikan. Alasan Islam mengharamkan adalah karena ramalan mengandung ketergantungan dan keyakinan adanya mafsadah (manfaat) dan mudharat (kerugian) dari selain Allah. Rasulullah pernah bersabda: “barangsiapa mendatangi juru ramal, menanyakan sesuatu, lalu membenarkannya, maka Allah tidak menerima shalatnya selama 40 hari.” (HR Muslim)
Kedua, munculnya budaya pamer (riya’ dan sum’ah). Budaya pamer seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari facebook. Orang-orang yang telah teradiksi dengan facebook, akan mengabarkan apa saja yang dia alami di dinding facebook-nya, membuat status setiap selesai suatu pekerjaan/aktivitasnya. Niat mereka tidak lain supaya manusia tahu apa yang telah ia perbuat, sehingga menimbulkan decak kagum mereka. Padahal Allah tidak akan menerima amalan yang bercampur dengan riya’. Muncullah yang namanya sikap narsistik (mencintai diri sendiri secara berlebihan). Dengan dalih kebebasan berekspresi, banyak orang terjebak dalam pola hidup yang ghuluw (berlebih-lebihan), sampai harus mengumumkan segala tingkah laku, dan pikirannya kepada orang lain setiap menitnya.
Ketiga, lahirnya namimah (adu domba), fitnah dan dusta. Menurut Andi Wicaksono, di Facebook, jari kita yang berbicara, bukan mulut. Fungsi jari di-qiyas-kan dengan lisan. Batasan Islam dalam berbicara secara lisan pun berlaku, meskipun hanya komunikasi secara tertulis. Sebagaimana telah dimaklumi, komunikasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, namun syariat juga telah memberikan batasan-batasan, sehingga ngomong bukan hanya untuk memuaskan nafsu. Sering kita dapati di sekeliling kita ada yang tiba-tiba marah hanya berawal dari satu kalimat di status facebook, ada yang iseng telah mengejek dia yang kemudian berakibat fatal.
Keempat, mempengaruhi kondisi kejiwaan seseorang. Seorang dosen filsafat di Universitas Indonesia, Rocky Genung mengatakan, evolusi tubuh manusia dirancang untuk bertemu secara fisik dan psikis. Dari kedua hal ini, manusia diarahkan untuk masuk dalam situasi konflik. Dengan cara inilah manusia bisa bertahan hidup. Dengan adanya kontak fisik, manusia bisa mengasah kewaspadaannya, mampu mengenali orang lain, dan bisa membaca emosi seseorang. Ada pun orang yang teradiksi membangun pertemanan melalui internet, tanpa disertai pertemuan fisik dengan orang-orang, maka ia akan kehilangan pijakan dalam dunia nyata, dia berada dalam dunia simulasi seolah-olah banyak teman, padahal tidaklah demikian.
Kelima, hilangnya waktu produktif. Ini mungkin hal yang paling sering diabaikan. Kita lupa menghitung berapa jam sudah kita habiskan waktu kita untuk melihat-lihat, meng-up date status, memberi komentar dan aktivitas lainnya di Facebook. Islam sangat memperhatikan masalah waktu, diantaranya Allah sebutkan dalam surah Al-Ashr. Rasulullah juga pernah bersabda: “di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
Facebook adalah sebuah media yang telah menjadikan Indonesia sebagai Negara yang pantas dijuluki balad al-fisbukiyah, dilihat dari fakta-fakta terkini. Telah merambah semua golongan dan menembus semua lapisan masyarakat tanpa batas. Sekarang kembali kepada kita dalam menyikapinya, apakah facebook membawa manfaat atau justru menambah mudharat.
* Penulis adalah Santri Dayah Modern Darul Ulum YPUI Banda Aceh.