Jurnalisme Warga
Melawan Narkoba Lewat Literasi Digital
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi.
M. ZUBAIR, S.H., M.H, Kadis Kominsa Bireuen, melaporkan dari Bireuen
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Di satu sisi, kemajuan ini membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Namun, di sisi lain, ruang digital juga menghadirkan tantangan serius, termasuk maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang kini merambah dunia maya. Dalam ha ini, literasi digital menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Menyikapi permasalahan tersebut Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Kabupaten (BNNK) Bireuen, pada hari Rabu, 6 Mei 2026, menggelar Bimbingan Teknis Pegiat P4GN di Ruang Rapat Kantor BNNK Bireuen. Salah satu topik yang diagendakan panitia pelaksana ķadalah Literasi Digital/Media Sosial dalam Konteks P4GN.
Saya sebagai pemateri tema tersebut banyak menyerap aspirasi dari peserta yang berasal dari penyuluh Keluarga Berencana se-Kabupaten Bireuen pada sesi tanya jawab.
Dalam sesi tanya jawab tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penyuluhan tentang bahaya narkoba bagi wanita usia subur untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan mendewasakan usia perkawinan serta meningkatkan kesejahteraan keluarga lebih efektif dilakukan melalui media sosial selain tatap muka.
Hal ini karena media sosial yang menggunakan saluran internet bisa menjangkau ke seluruh pelososk desa tanpa batas ruang dan batas waktu.
Hari ini, media sosial bukan lagi sekadar ruang berbagi cerita atau hiburan. Ia telah menjadi medan pertarungan informasi, termasuk informasi yang menyesatkan dan berbahaya. Jaringan peredaran narkoba memanfaatkan celah ini dengan cerdik. Mereka menggunakan platform digital untuk mempromosikan, menjual, hingga merekrut pengguna baru, terutama dari kalangan generasi muda. Dengan teknik komunikasi yang halus dan terselubung, narkoba dikemas seolah-olah sebagai sesuatu yang “biasa” atau bahkan “keren”.
Fenomena ini tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika dulu transaksi narkoba identik dengan ruang gelap dan tertutup, kini semuanya bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari.
Anonimitas di dunia digital menjadi tameng bagi para pelaku untuk menghindari jerat hukum. Di sinilah letak urgensi literasi digital sebagai benteng pertahanan masyarakat.
Literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, serta memahami risiko dan dampak dari aktivitas digital.
Masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik akan lebih mampu mengenali konten berbahaya, termasuk propaganda narkoba yang sering diselipkan dalam berbagai bentuk, seperti konten hiburan, meme, hingga pesan privat.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan sekaligus paling strategis dalam upaya ini. Sebagai pengguna aktif media sosial, mereka berada di garis depan dalam menerima dan menyebarkan informasi. Tanpa bekal literasi digital yang memadai, mereka dapat dengan mudah terpapar dan terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan. Sebaliknya, jika dibekali dengan pemahaman yang kuat, mereka justru dapat menjadi agen perubahan dalam menyuarakan gerakan antinarkoba di ruang digital.
Sementara itu, penyuluh keluarga berencana juga dapat menjadi kretor konten positif dengan memanfaatkan platform digital seperti, Instagram, TikTok, reel, dan sebagainya untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya narkoba.
Selain itu, juga dapat berkaloborasi dengan influencer-influencer karena mereka sudah banyak viewer-nya. Apabila hal ini mampu dilaksnakan secara maksimal diperkirakan dapat meminimalisasi peredaran narkoba yang saat ini marak menimpa masyarakat Aceh khusunya dan Indonesia pada umumnya. Di Aceh sedikitanya 80.000 orang terpapar narkoba, di Indonesia sekitar 3,4 juta jiwa.
Para penyuluh keluaraga berencana dapat membuat drma-drama singkat tentang rusaknya keluarga karena narkoba atau bentuk lainnya yang bersifat edukasi guna memberi pemahaman, terutama kepada wanita usia produktif. Mereka menggunakan platfrom digital untuk penyebaran informasi tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ZUBAIR-BARU-LAGI-LAGI.jpg)