Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Ikrar Damai Harus Di-'Tasdik' Hati

IKRAR harus dimulai dari tasdik (diterjemah) oleh hati. Damai itu bukan pada ikrar lidah, tapi di hati. Karena dari hatilah bermula segala keadaan

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Ampuh Devayan

IKRAR harus dimulai dari tasdik (diterjemah) oleh hati. Damai itu bukan pada ikrar lidah, tapi di hati. Karena dari hatilah bermula segala keadaan --kebaikan atau keburukan yang mengakibatkan perkataan lidah dan tindakan seseorang. Karenanya, lidah mesti dibingkai hati agar tidak menjadi liar dan plin plan. Jangan sebaliknya, hati dipermainkan lidah, sehingga hati menjadi munafik.

Nah, pernahkah kita, apalagi para pemimpin, politikus, dan orang-orang pandai nan hebat pula bercermin pada hati mereka? Tampaknya soal “ikrar hati” lebih utama dari sekedar “ikrar lidah” jika hendak mewujudkan pilkada damai di Aceh. Para kandidat calon gubernur/wakil gubernur, calon bupati/wakil bupati, dan calon wali kota/wakil wali kota yang akan bertarung pada Pilkada 2012 ini, telah menggelar Ikrar damai Pilkada.

Ikrar yang dihadiri para kandidat calon kepala deaerah itu, memang penting dilakukan untuk menjaga proses poliitik Aceh tetap damai dan rakyat bisa menjatuhkan pilihan mereka secara normal tanpa was-was apalagi terancam jiwanya. Untuk mewujudkan damai, sesungguhnya tidak sebatas ramai-ramai berikrar dengan lidah, tapi mesti di-tasdik dengan hati, dan diekpresikan lewat perbuatan para yang ditunjukkan oleh pucuk pimpinan.  

Elite atau pemimpin menjadi acuan apakah suatu keadaan itu buruk atau baik. Ibarat ikan, jika ingin mengetahui apakah ikan itu busuk atau tidak, maka periksalah kepala atau insangnya. Jika kepala atau insangnya busuk, maka busuklah bernama makhluk ikan. Demikian halnya dalam suatu oganisasi-pemerintahan, komunitas, atau partai politik -- pemimpin sangat menentukan keadaan baik dan buruk ini.

Agaknya sikap yang diaplikasikan lewat prilaku pemimpin yang diingatkan kembali Ketua Komite Pemilihan Umum (KPU) Pusat, A Hafiz Anshary ketika menyampaikan pidatonya di depan para kandidat calon gubernur, calon bupati dan calon walikota pada Deklarasi Damai Pilkada Aceh yang berlangsung di halaman Halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu (14/3).

 Tak saling menghujat
Di antara harapan ketua KPU adalah para kandidat tidak saling menghujat, tapi menyampaikan visi misi saudara untuk membangun Aceh. Kecuali itu, jangan saling intimidasi dan berbuat curang untuk memenangkan dirinya. “Perlu saudara ketahui, pemimpin yang menang dengan cara jurang, maka haram menjabat selama kepemimpinannya. Sedangkan, jika ada petugas dalaam pilkada, mulai dari KIP, PPK, hingga panitia tingkat TPS melakukan kecurangan, maka pecat,” tegas Hafiz yang disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir.

Tentu hal itu sangat ditentukan sejauh mana kebeningan hati para kandidat sebagai calon pemimpin mampu menerjemahkan pesan moral Ketua KPU Pusat itu. Dan filosofi hati sebagai mizan Tuhan, seperti selembar cermin yang akan memantulkan apa pun obyek di depannya sama besar, jarak bayangan sama, tegak dan berlawanan arah. Tidak peduli apakah si objek adalah beridentitas sebagai benda mewah atau murahan, keras atau lembut, indah atau jelek, semuanya akan dipantulkan. Di benda (cermin) itu kita mulai mengamati siapa di baliknya.

Alam Semesta adalah sumber inspirasi pengetahuan kehidupan. Mulai air, bunga, bebatuan, semut, hingga benda yang satu ini: Cermin dapat kita gunakan sebagai sumber inspirasi roda kehidupan. Apa yang dapat kita pelajari cermin adalah dari hakikat cermin itu sendiri apakah cermin datar, cembung atau cekung.

Sebuah cermin akan memantulkan apa pun obyek di depannya. Maka semakin bersih permukaan cermin, maka bayangan cermin akan tampak semakin jelas seperti aslinya. Namun jika permukaan cerminnya kotor atau retak/pecah, maka cermin akan memberi bayangan terdistorsi dari aslinya.

Dari sifat cermin di atas, maka pada hakikatnya hati manusiapun tidak berbeda dengan cermin, begitu juga hakikat cermin tidak berbeda dengan hati. Hati yang bersih akan melihat semua fenomena/kejadian dengan “kaca mata” bening tanpa memberi embel-embel.

 Hati yang bersih
Hati yang bersih bak cermin akan menghargai semua fenomena dengan apa adanya. Hati yang bersih tidak akan mendiskriminasikan si kaya atau si miskin, si cantik atau si jelek, si pintar atau si bodoh, semuanya akan diperlakukan layaknya sebagai manusia yang manusiawi.

Hati bersih tidak akan memberi “bumbu” atau noda kepada setiap entitas, bukan pujian, bukan pula celaan. Ia akan memperlakukan terbaik, ia akan memberi dukungan terbaik, dan memberi nasihat terbaik untuk berubah menjadi lebih baik. Hati yang bersih bukanlah penjilat yang membesarkan suatu bayangan, bukan pula penipu yang menyembunyikan realitas dengan menghalangi suatu obyek pada permukaan cermin.

Hati bukanlah cermin, dan cermin bukan pula hati. Namun dari sifat fenomena cermin, kita sebenarnya dapat menemukannya dalam hati terdalam kita yang mana dipermukaan masih diselubungi oleh noda dan bintik. Noda hati adalah pemikiran dan pandangan diskriminasi. Sedangkan intisari hati adalah pemikiran nondiskriminasi, suatu pikiran yang tidak membeda-bedakan. Inilah mati hati, mata cinta kasih, mata kebijaksanaan.

Kita berharap deklarasi damai yang diikrarkan oleh lidah-lidah para kandidat calon kepala daerah (gubernur/wakil gubernur,  bupati/wakil bupati atau wali kota/wakil wali kota) dan ketua-ketua partai tim sukses masing-masing pasangan calon, hendaknya bukan sekedar ucapan lidah yang tak bertulang tapi mesti di-tasdik dari hati bening dan tulus. Semoga!

* Ampuh Devayan adalah Wartawan Harian Serambi Indonesia Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved