Kamis, 11 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Ketimpangan Wilayah dan Sumber Daya: Akankah UTU Menjadi Transformator Barsela?

Dalam konteks Barsela, peran tersebut berpotensi dimainkan oleh Universitas Teuku Umar.

Tayang:
Editor: Subur Dani
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Ketimpangan pembangunan antara Pantai Timur dan Pantai Barat Aceh bukanlah fenomena yang lahir dalam satu atau dua dekade terakhir. Ia merupakan produk sejarah panjang yang berlangsung selama berabad-abad. 

Ketika kita berbicara tentang kesenjangan ekonomi, infrastruktur, investasi, dan kualitas sumber daya manusia antara kedua kawasan tersebut, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang warisan sejarah yang dibentuk oleh geografi, perdagangan, kekuasaan politik, dan arah pembangunan yang berlangsung lintas generasi.

Sejak masa awal pembentukan peradaban Aceh, pusat-pusat kekuasaan dan perdagangan tumbuh di wilayah yang menghadap Selat Malaka. 

Baca juga: KPIA Laporkan Perkembangan Pengawasan Medsos Aceh ke Komisi I DPRA

Kesultanan Perlak, Samudra Pasai, hingga Kesultanan Aceh Darussalam berkembang karena kedudukannya yang strategis pada jalur perdagangan internasional yang menghubungkan India, Timur Tengah, dan Tiongkok. 

Selat Malaka pada masa itu merupakan salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia. Siapa yang menguasainya memperoleh keuntungan ekonomi, politik, dan budaya yang sangat besar.

Dalam konteks tersebut, wilayah Pantai Timur dan Utara Aceh memperoleh keuntungan geografis yang luar biasa.

Pelabuhan berkembang, perdagangan tumbuh, penduduk terkonsentrasi, dan aktivitas pemerintahan berkembang di kawasan tersebut. 

Baca juga: Bupati Abdya Safaruddin Jagokan Portugal dan Prancis di Piala Dunia 2026

Sebaliknya, wilayah Pantai Barat dan Selatan - Aceh Jaya hingga Singkil -yang menghadap Samudra Hindia relatif berada di luar arus utama perdagangan internasional.

Bukan berarti kawasan ini tidak memiliki sumber daya atau potensi ekonomi, tetapi posisinya berada di pinggiran jaringan perdagangan yang menjadi sumber kemakmuran Aceh pada masa itu.

Di sinilah akar ketimpangan wilayah mulai terbentuk.

Memasuki masa kolonial, pola tersebut tidak berubah, bahkan semakin menguat. Pemerintah kolonial membangun infrastruktur terutama untuk mendukung aktivitas ekonomi yang telah berkembang sebelumnya.

Jalan, pelabuhan, perkebunan ekspor, pusat administrasi, dan berbagai fasilitas ekonomi lebih banyak dibangun di kawasan timur. Investasi mengikuti pusat pertumbuhan yang telah ada.

Akibatnya, modal, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi semakin terkonsentrasi di wilayah yang memang sudah lebih maju.

Tidak Setara

Sementara itu, Pantai Barat dan Selatan tetap berkembang lebih lambat. Wilayah ini kaya sumber daya alam, tetapi tidak memperoleh tingkat investasi infrastruktur yang setara.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved