Selasa, 28 April 2026

Citizen Reporter

Duta Aceh Terkubur di Middlebourgh

NIAT saya mengunjungi Kota Middlebourgh di Negeri Belanda akhirnya tercapai juga, setelah menunggu lama saat kegiatan kuliah di Belanda

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Duta Aceh Terkubur  di Middlebourgh
ISMAIL SULAIMAN
OLEH ISMAIL SULAIMAN, Dosen STAIN Zawiyah Cot Kala, Langsa, melaporkan dari Belanda

NIAT saya mengunjungi Kota Middlebourgh di Negeri Belanda akhirnya tercapai juga, setelah menunggu lama saat kegiatan kuliah di Belanda tak terlalu padat. Kota ini saya kenal dan langsung membuat saya tertarik setelah bincang-bincang dengan Profesor Teuku Iskandar, sejarawan Aceh yang terkenal dan menetap di Belanda.

Ia ceritakan kepada saya sejarah perjalanan utusan Kerajaan Aceh Darussalam ke Belanda. Salah satu kota yang didatangi delegasi  Aceh itu adalah Middlebourg.

Kota ini menyimpan cerita dan sejarah panjang tentang hubungan bilateral antara Kerajaaan Aceh dengan Belanda. Kota yang terletak di bagian Provinsi Zeeland itu merupakan wilayah pesisir yang masih terjaga keasriaannya. Perjalanan ke sini menyita waktu dua jam dari Leiden dengan menggunakan kereta listrik.

Setibanya di Middlebourg langsung terlihat gedung balai kota yang sudah tua, tapi masih terawat rapi di square kota. Terlihat juga  sejumlah gedung tua klasik yang masih berdiri kokoh.

Tapi sesuatu yang menarik dan ingin sekali saya lihat adalah di mana gerangan makam Tuanku Abdul Hamid? Beliau adalah Kepala Utusan Raja Aceh pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil yang mengunjungi Belanda kala itu (1602). Singkatnya, boleh disebut beliau duta Aceh yang diutus ke Belanda saat itu.

Menurut Prof Teuku Iskandar, pada masa Sultan Alauddin Righayat Syah Sayed Almukammil berkuasa, tibalah kapal Belanda pertama di Aceh dan memilih berlabuh. Umur beliau lebih dari 100 tahun. Setelah beliau mangkat, kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya. Puncak kejayaan Aceh kemudian tercapai ketika cucunya, Sultan Iskandar Muda yang memimpin Aceh.

Pada fase berikutnya, pasukan Belanda yang diangkut empat kapal yang disediakan Verehigde Zeeuwse Compagnie, tiba di Aceh pada Agustus 1601 di bawah komando Gerard de Roy dan Laurens Bickers.

Kerajaan Belanda menyiapkan berbagai hadiah untuk Sultan Aceh, termasuk cenderamata serta sepucuk surat dari Pangeran Maurits. Isi surat tersebut adalah ajakan menjalin persahabatan dan permohonan pembebasan atas tawanan asal Belanda di Aceh, Frederik de Houtman. Pada masa itu hubungan Aceh dengan Portugis makin dingin. Tibanya kapal Belanda itu justru dijadikan momentum yang tepat oleh Sultan Aceh untuk menjalin hubungan dengan Kerajaan Belanda. Para tawanan dilepas, hubungan perdagangan pun dimulai. Belanda diberi izin menggiatkan perdagangan di Aceh.

Lauren Bickers pun kembali ke Belanda dengan isi kapal yang melimpah ruah. Di kapal itu ikut Ketua Utusan Sultan Aceh, yakni Tuanku Abdul Hamid, Panglima Aceh Laksamana Sri Moehammad, seorang bangsawan Mir Hasan sebagai penerjemah, seorang warga Luxemburg Leonard Werner, beberapa pelayan, dan teknisi yang berasal dari Arab.

Pada Juli tahun 1602 kapal itu tiba di Zeeland, meski sempat dihadang oleh pasukan Spanyol di St Helena. Takdir berkata lain, sesaat tiba di darat, Tuanku Abdul Hamid pun wafat di Middlebourg, lalu dimakamkan di Gereja Middleburgh pada 10 Agustus 1602.

Pada bulan September, utusan Sultan Aceh yang tersisa bertemu Pangeran Maurits dan menerima ucapan belasungkawa. Utusan diterima oleh pangeran di campnya, Grave di North Branbant dengan segala kehormatan berupa surat dam hadiah. Utusan itu kembali ke Aceh pada Desember 1603.

Akan tetapi, karena banjir besar melanda Middlebourgh tahun 1940-an, banyak bangunan yang rusak dan musnah, termasuk makan Tuanku Abdul Hamid. Tapi Kerajaan Belanda membangun kembali monumen peringatan untuk mengenang tokoh utusan dari Kerajaan Aceh itu dengan membangun prasasti yang terbuat dari marmer di Oude Kerk Middlebourg. Diresmikan oleh Pangeran Bernard, disaksikan Duta Besar Indonesia di Netherland Mr Darma Putra, Abu Bakar, Gubernur Zeeland, dan Wali Kota Middlebourgh pada 28 Oktober 1978.

Ke makam inilah saya berziarah baru-baru ini. Saat ziarah terkenang akan saya sebuah ungkapan Allan Neven, “History is actually a bridge connecting the past with the present and pointing the road to the future.” Sejarah adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang, juga sebagai titik awal perjalanan untuk masa depan.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved