Rabu, 10 Juni 2026

Potret Kumal Itu

Bola binar itu akan selalu pecah menjadi derai embun, yang meruap menjadi gegaris bening di permukaan wajah ovalnya tatkala menatap wajah lelaki

Tayang:
Editor: bakri
Karya  Hendra Kasmi

Bola binar itu akan selalu pecah menjadi derai embun, yang meruap menjadi gegaris bening di permukaan wajah ovalnya tatkala menatap wajah lelaki tirus itu. Alaida  selalu kulihat mendekap foto kumal selepas kami mengaji .  Tapi,  aku tak bisa melihat lakon itu berlama-lama. Hatiku seperti diiris. Lebih baik kupalingkan saja wajahku dan berlari jauh darinya. Aku ingin pergi menjauh  hingga rasa cemburu itu menghilang. Dulu aku suka sekali wajah murung Alaida,  wajah yang selalu terlihat anggun bagiku saat ia bersedih. Maka  aku selalu menggodanya  saban malam selepas kami mengaji dari Balee Manyang untuk memancing mendung di wajahnya yang sangat kunikmati. Dan hari-hari menjadi lembaran resah yang membuncah dari ceruk hati paling dalam.

Sekarang ketika melihat aura itu ada sesuatu yang membuat hatiku bergejolak, perih! Entah apa yang membuatnya berkesan pada roman lelaki di foto itu. Lelaki yang berwajah tirus dan berambut gondrong. Ada tahi lalat di pipinya.   Bagiku tentu tak ada yang istimewa.  Aku bertambah muak saja  kalau melihat potret  lelaki yang tangannya menenteng gitar  itu.

“Dari desas-desus kabar yang kudengar, Alaida pernah menjalin hubungan dengan lelaki itu. Dulu, dulu sekali ketika Alaida baru tamat SMA. Katanya lelaki itu pernah menolongnya ketika tersesat di kota saat mencari alamat Pak Cik.  Ida  kan baru masuk kuliah saat itu. Barangkali   bunga cinta itu terpahat di hati mereka saat itu juga,” ujar Umi, Ibu Alaida pada suatu malam lepas pengajian. “Ya ,mau dibilang apa, urusan hati kan tak boleh dipaksa!”

Untuk seorang perempuan kampung, ibunya  mungkin paham  ‘hak azasi manusia’ bahwa seorang  anak  harus diberikan kebebasan memilih  pendamping hidup.    Orangtua tak boleh mengatut-atur, apalagi memaksanya.   Seperti juga seorang guru yang bisa dituduh melanggar HAM dan dipolisikan, jika sedikit saja tangannya mengenai badan siwa nakal. Tapi, aku juga punya argumen lain: Bahwa seseorang harus diberikan pengetahuan yang cukup  dulu, baru kemudian diberikan kebebasan memilih, sehingga pilihan-pilihannya rasional. Kalau tidak, bisa disebut penjerumusan seorang anak. Bagaimana mungkin aku membiarkan seorang gadis  cantik ,  anak orang  terhormat pula, dirayu  oleh seorang  pengemis  jalanan hingga terpikat hatinya. Aku tak bisa terima, sekalipun  aku dituduh melanggar hukum internasional.     

“Jangan seperti itu juga. Ingat kan petuah mendiang Abunya dulu bahwa perempuan baik harus memilih lelaki yang baik juga,” ujarku. Umi hanya tertunduk lesu. “Fahri, diam-diam aku memperhatikan dirimu selepas mengajar ngaji. Kulihat ada sesuatu yang berubah darimu,” ujar Umi dengan tersenyum. “Kau selalu terburu-buru pulang saat melirik Alaida!”

“Mak, aku belum tentu menjadi lelaki terbaik bagi Alaida. Tapi jangan sampai dia dipinang orang tidak jelas.” Aku coba beradu argumen dengan ibunya. “Tapi aku takut Fahri, takut akan terjadi hal buruk jika tidak menuruti keinginannya,”ujar Umi

Aku juga membayangkan hal yang serupa. Apalagi sudah berapa hari ini ia tak makan. Sungguh aku dihadapkan pada perkara yang rumit. Tapi sebenarnya aku merasa terlalu banyak ikut campur terhadap urusan  keluarga Alaida,  padahal  tak mempunyai tali silsilah sedikit pun dengannya. Tugasku di rumah itu hanya melanjutkan pengajian warisan mendiang Abu Chik Mansur, karena beliau tak mempunyai anak laki-laki yang dapat memikul tanggung jawab ini.  Abu Chik  memang pernah berpesan  diambang sekaratnya padaku agar senantiasa menjaga dan membimbing Alaida sepeninggalnya. Hatiku langsung berbunga-bunga kala itu,  karena kutahu kemana maksud petuah Abu Chik hingga hari-hariku kemudian dilanda keresahan mendalam  jika saja ada lelaki yang coba menaruh kuntum bunga di hati Alaida.

                                                   ***

Belum sempurna remang pagi, suara  gaduh itu mulai mengusik zikirku lepas Subuh. Aku segera membuka pintu rumah. Beberapa orang berlarian dengan tergesa-gesa  ke rumah Alaida.  Keuchik Haji, tetangga sebelah, memberitahu bahwa Alaida hilang dari rumahnya. Lalu beliau  sibuk mengarahkan orang kampung beramai-ramai mencari gadis itu dengan cara berpencar. Sebagian pergi ke gunung, sebagian lagi ke kampung jiran.  Hatiku dilanda gelisah. Aku takut akan terjadi sesuatu yang tak kuinginkan. Sesampai di rumah Alaida, tangis Umi pecah ruah. Beberapa perempuan  tampak berusaha menghibur beliau.

Tiba-tiba  Saleh berlari dengan nafas terenga-engah dari kejauhan. “Alaida, Alaida terdampar di pinggir sungai. Tubuhnya terbujur kaku sambil mendekap sebuah foto kumal,” ujar  Saleh. Semua orang terperanjat.

Aku tertegun.  Aku menyesal.  Andai saja aku tidak curiga berlebihan pada lelaki gondrong hingga mengancamnya untuk tak kembali lagi,  mungkin  cinta Alaida tak akan terkatung-katung hingga patah berkeping-keping di hamparan kematian.  Alaida, semoga Tuhan mengampuni diriku yang telanjur berambisi  memilikimu.

* Hendra Kasmi
, alumnus Gemasastrin. Pengajar di SMA IT Al Fityan School

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved