Wapres Hanya Satu Jam di Banda Aceh
Wakil Presiden (Wapres) RI, Boediono yang Jumat (13/4) kemarin melakukan kunjungan kerja ke Aceh, hanya berada satu jam di Banda Aceh
* Kepala BNPB Apresiasi Relawan
BANDA ACEH - Wakil Presiden (Wapres) RI, Boediono yang Jumat (13/4) kemarin melakukan kunjungan kerja ke Aceh, hanya berada satu jam di Banda Aceh. Tujuan utamanya adalah melihat langsung dampak yang timbul akibat gempa 8,5 skala Richter (SR) yang mengguncang Aceh pada 11 April lalu.
Sesuai bertemu Pj Gubernur dan anggota Muspida Aceh serta para Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) di pendapa gubernur pagi kemarin, Wapres dan rombongan langsung kembali ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Seterusnya Wapres terbang ke Medan, Padang, dan Bengkulu untuk tujuan yang sama, yakni melihat dari dekat kondisi daerah yang terkena dampak gempa.
Dalam pertemuan singkat itu, Wapres Boediono meminta rakyat Aceh meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana gempa dan tsunami, mengingat Aceh yang berada di Pulau Sumatera tergolong daerah yang jarang sepi dari berbagai bencana alam.
“Gempa 8,5 skala Richter yang terjadi Rabu sore lalu yang melanda wilayah Aceh dan daerah lainnya di Sumatera, bisa saja terulang kembali dengan skala yang lebih besar, sehingga menimbulkan tsunami,” ujar Wapres.
Menurut Boediono, bencana gempa Rabu lalu itu, memberikan arti bahwa rakyat Aceh telah melewati dengan baik dua ujian besar sekaligus pada bulan April ini. Ujian pertama adalah pelaksanaan pilkada gubernur/wakil gubernur dan pilkada 17 kabupaten/kota yang berjalan aman, damai, dan demokratis. Ujian kedua adalah bencana gempa yang sangat dahsyat, tapi tidak banyak menelan korban jiwa, kerusakan, dan kerugian.
Wapres mengingatkan, letak Pulau Sumatera yang berada pada pergerakan dua lempeng bumi, membuat daerah ini sering dilanda gempa bumi dan ancaman tsunami. Oleh karena itu, jauhkan permukiman penduduk dari pinggir pantai. Kalaupun penduduknya masih banyak yang suka tinggal di pinggir pantai, maka bangun gedung-gedung tinggi berlantai empat sebagai tempat penyelamatan mereka pada waktu terjadi tsunami.
“Selanjutnya, bangun pula jalan desa dengan diameter yang lebar agar pada waktu terjadi tsunami, penduduk bisa secepatnya melarikan diri ke daerah yang lebih aman,” wejang Wapres seraya menimpali, “Kita semua harus selalu siap, sebab bencana itu tidak tahu kapan datangnya.”
Terkait pilkada, Wapres mengatakan, pemerintah pusat awalnya khawatir saat Pilkada 9 April 2012 bakal ada sedikit gangguan. Tapi ternyata berjalan sukses, aman, dan damai. “Kalaupun ada daerah yang sedikit rusuh, itu dampak dari demokrasi. Aparat keamanan di Aceh dan KIP harus secepatnya mengambil langkah-langkah penyelesaikan kerusuhan itu, agar tidak meluas ke daerah yang pelaksanaan pilkadanya sudah aman,” imbuh Wapres.
Penjabat Gubernur Aceh, Tarmizi A Karim sebelumnya melaporkan, gempa 8,5 SR yang melanda Aceh Rabu sore lalu telah membuat masyarakat Aceh panik selama 2,5 jam. Mereka belajar dari pengalaman bencana tujuh tahun lalu bahwa setiap ada gempa besar, masyarakat langsung berlari ke tempat yang lebih aman. Dan ini memperkecil risiko bencana.
Kunjungan kerja Wapres Boediono ke Aceh kemarin, didampingi Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Perhubungan AE Mangindaan, Mendikbud Muhammad Nuh, dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, Samsul Maarif.
Wapres yang semula direncanakan akan meninjau Pantai Ulee Lheue untuk melihat Tsunami Early Warning System (TEWS), urung ke tempat itu karena kondisi kerusakan yang terjadi di Aceh tidak terlalu berat.
Beri apresiasi
Kepala (BNPB) Pusat, Syamsul Maarif kemarin melakukan pertemuan dan mendengarkan laporan pascagempa dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Asmadi Syam.
Syamsul didampingi Kepala BPBA juga meninjau sistem teknologi pada Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Kebencanaan di Kantor Gubernur Aceh.
Menjawab Serambi seusai meninjau sistem teknologi Pusdalops, secara khusus Kepala BNPB menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerja sama cukup baik dalam penanggulangan bencana, termasuk pengurangan risiko bencana. “Keterlibatan relawan dalam penanggulangan bencana juga kita hargai. Relawan yang baik adalah yang mampu memberdayakan diri sendiri agar bisa membantu orang lain,” kata Syamsul yang ikut didampingi Ketua Organisasi Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI) Aceh, T Feriansyah (JZ01BC).
Seperti diketahui, ketika gempa 8,5 SR mengguncang Aceh, Rabu (11/4) sore, puluhan relawan komunikasi RAPI dikerahkan ke lapangan untuk meredam panik, termasuk memantau pergerakan air laut, kemudian menginformasikan secara luas dan real time kepada masyarakat melalui sistem komunikasi darurat bencana.
Sementara itu, Direktur RSUZA Banda Aceh, dr Taufiq Mahdi SpOG yang dimintai penjelasannya mengatakan, sampai Jumat kemarin belum ada korban bencana gempa dari kabupaten/kota yang dirujuk ke RSUZA. Kondisi ini mengisyarakatkan, peristiwa bencana gempa yang terjadi Rabu lalu tidak banyak menelan korban yang meninggal dunia, maupun yang patah tulang, luka, dan lainnya. (her)