Ziarah Tanah Gersang
Kata apa lagi yang hendak kurangkai Tinta ini telah lama kering digerus musim
Kata apa lagi yang hendak kurangkai
Tinta ini telah lama kering digerus musim
Hingga trembesi saja terus
mendendangkan nyanyian luruh
Entah sampai kapan
Ataukah harus menunggu pelataran bumi sekarat
Dan batang-batang kerontang letih menuai dedaunan rapuh
Gegaris apa lagi yang hendak kuukir untuknya
Kanvasku telah ternoda
Diterpa debu-debu yang terus saja bertebaran
Dari lembah yang kini tak lagi perawan
Sepanjang kelam malam
Keangkuhan bergantian menggagahi
Kudapati mereka terkapar pada pagi
Bayi-bayinya menjerit
Langit berkabung dalam warna kelabu
Lalu badai selalu setia mengantarkan pesan duka untukku
Lewat abu yang bertebangan
Hingga hatiku larut dalam murung
di bawah sisa sebatang trembesi
Lewat ziarah senyap ini
Dan embun yang terus saja berlinangan
Haruskah kuhapus semua jejak kekasihku
Agar lenyap semua gundah dari imajinasiku
Lalu harus pula kupupus semua cerita
Pada anak cucuku kelak
Bahwa di sini, di tanah gersang ini
Perawan bermata bening
Pernah menawarkan surga dan cinta
Hendra Kasmi, alumnus Gemasastrin, anggota FLP Aceh