Rabu, 10 Juni 2026

Gedung di Aceh Harus Punya Escape Building

Di Jepang, gedung sekolah sudah dirancang sekaligus sebagai tempat evakuasi

Tayang:
Editor: hasyim


* Isu Gempa 12 SR Menyesatkan

BANDA ACEH - Peneliti dari Pusat Riset Gempa Universitas Tokyo, Jepang, Dr Yozo Goto, menyarankan agar sekolah-sekolah dan gedung-gedung publik lainnya di Aceh, dibangun dengan konsep tahan gempa sekaligus bisa menjadi tempat penyelamatan (escape building).

“Di Jepang, gedung sekolah sudah dirancang sekaligus sebagai tempat evakuasi. Sehingga, murid-murid dan warga di sekitar sekolah bisa menyelamatkan diri ke sekolah itu untuk menghindari tsunami,” kata Dr Yozo Goto, kepada Serambi, Jumat (27/4).

Ini, kata Dr Goto yang didampingi penerjemah dari TDMRC Unsyiah, Dr M Aman Yaman, merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban tsunami saat menyelamatkan diri ke tempat yang lebih jauh dari pantai, menggunakan sepeda motor atau mobil.

“Tapi, gedungnya harus didesain benar-benar kuat agar masyarakat percaya bahwa menyelamatkan diri ke escape building lebih aman daripada harus lari ke tempat yang lebih jauh, tapi akhirnya terjebak macet di jalan dan terkena tsunami,” katanya.

Dr Yozo Goto datang ke Aceh baru-baru ini untuk meneliti tentang cara mempercepat proses evakuasi pascagempa. Hal ini dilakukannya berdasarkan kepanikan warga Banda Aceh yang terjebak macet di jalan pascagempa Rabu, 11 April 2012.

Menurut ahli desain simulasi tsunami dari Jepang ini, ada beberapa hal yang harus segera dilakukan pemerintah dan dinas terkait. Antara lain, kata Dr Goto, pihak terkait harus segera membenahi persimpangan-persimpangan jalan. Pemerintah harus menata jalan, tidak hanya untuk kelancaran lalu lintas, tapi juga harus memudahkan warga saat evakuasi pascagempa.

“Secara keseluruhan, kondisi jalan sudah bagus. Tinggal lagi harus ditata agar tidak membuat warga sulit saat menyelamatkan diri. Jika perlu harus ada jalan layang,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga harus membuat tanda atau rambu-rambu atau petunjuk arah pelarian untuk menuntun warga. Tanda ini, menurut dia, selama ini sering diabaikan dan dianggap sepele. Pemerintah juga bisa menyediakan transportasi seperti bus yang standby di lokasi-lokasi dekat pantai.

Sedangkan hal yang paling penting adalah, pemerintah harus terus- menerus melakukan sosialisasi tentang proses evakuasi kepada masyarakat. “Ini terbukti di Jepang. Masyarakat di satu kota yang terus-menerus disosialisasi tentang cara evakuasi, tingkat keselamatan warga jauh lebih besar dibanding kota lain yang tidak mendapat sosialisasi dengan baik,” kata Dr Yozo Goto.

Terkait penelitiannya di Aceh, ia berharap bisa menyelesaikan video tentang proses evakuasi, dalam waktu tiga bulan. Video tersebut dirancang dengan perangkat khusus berdasarkan peta jalan-jalan di Kota Banda Aceh. Ia berharap video tersebut nantinya bisa dibagikan gratis kepada seluruh masyarakat Aceh.

 Bantah isu gempa

Sementara itu, menyikapi beredarnya sms mengenai akan terjadinya gempa berkekuatan 12 skala Richter (SR) di sekitar Pulau Sumatera, sehinga telah meresahkan masyarakat, terutama masyarakat Aceh yang bermukim di wilayah pantai, sejumlah lembaga terkait di Aceh mengklarifikasi isu yang menyesatkan itu.

Kumpulan lembaga tersebut terdiri atas Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, BMKG, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)-Aceh, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia-Aceh (HAGI), Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Radio Antarpenduduk Indonesia (RAPI), dan Tagana.

Jumat lalu mereka mengeluarkan siaran pers bersama untuk mengklarifikasi isi sms tersebut. Ditegaskan bahwa informasi yang berkembang tentang gempa 12 SR itu tidak benar. Redaksi sms yang beredar itu pun salah dari sudut pandang ilmiah, karena menggunakan SR (skala Richter) yang sebenarnya tidak dapat digunakan untuk gempa skala besar.

Ditegaskan bahwa gempa bumi dengan SR hanya sampai 10 SR atau lebih tepatnya 10 Mw (dalam satuan yang besarnya hampir sama dengan SR).

Selain itu, sumber informasi yang dicantumkan di dalam sms tersebut tidak dikenal di kalangan ilmuwan kegempaan di dunia.

Sampai saat ini, sebagaimana disebutkan dalam pers rilis, belum ada satu pun ilmuwan di dunia yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa secara tepat. Oleh karena itu, prediksi gempa yang mengikutkan prediksi waktu adalah keliru dan menyesatkan.

Masyarakat diimbau untuk tidak meneruskan sms-sms gempa bumi yang mencantumkan prediksi gempa 12 SR dan waktu terjadinya.

“Jumat kemarin, brosur berisi bantahan tentang gempa dahsyat itu juga disebarkan ke masjid-masjid di Aceh, agar masyarakat tenang dan tidak terprovokasi,” ujar Hendra Syahputra dari TDMRC Unsyiah. (saf/dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved