Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Mendambakan ‘Edison’ Aceh

Setiap hari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, listrik telah menjadi kebutuhan dan membantu pekerjaan manusia

Tayang:
Editor: hasyim


Oleh Ibnu Hajar Ibrahim

LISTRIK, hampir tidak ada orang yang tidak mengetahui dan memanfaatkannya. Setiap hari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, listrik telah menjadi kebutuhan dan membantu pekerjaan manusia. Namun, siapa pernah menyangka sebelumnya bahwa listrik yang digunakan manusia hari ini, ditemukan dan dipromosikan oleh seorang penderita pendengaran lemah yang pernah dikeluarkan dari sekolahnya? Dia adalah Thomas Alfa Edison.

Thomas Alfa Edison (1847-1931), telah menghabiskan waktu tiga tahun untuk memahami materi sekolah dasar namun masih menemui kegagalan. Karena dianggap sangat dungu, ia dikeluarkan dari sekolahnya. Setelah itu, Edison kecil belajar dari ibunya, Nancy. Hari-harinya dilewati dengan belajar secara serius dan ikhlas. Berkat ketekunannya, Edison berhasil menunjukkan sejumlah penemuannya.

Saat menutup usianya pada angka 84 tahun, tidak kurang dari seribu penemuan telah dihasilkan Thomas Alfa Edison. Tidak heran penemu yang pernah dikeluarkan dari sekolah ini dinobatkan sebagi penemu serba bisa. Tidak hanya itu, Michael H. Hart (1982), penulis buku “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah” memasukkan nama Thomas Alfa Edison dalam daftarnya. Tinta emas melukis nama sang penemu ini di urutan ke-38 (tiga puluh delapan).

 Ada sisi kesamaan
Bila diperhatikan ada sisi kesamaan antara kisah Edison dengan kasus sebelas siswa SMA Sukma Bangsa, Caleu, Kabupaten Pidie yang ramai diberitakan media beberapa hari terakhir. Sisi kesamaan tersebut adalah mereka sama-sama dikeluarkan dari sekolah. Hanya alasan pengeluaran saja yang berbeda. Bila Edison dikeluarkan karena dianggap sangat dungu, maka 11 siswa Sukma dikeluarkan karena ditengarai melihat contekan saat UN Bahasa Inggris, Selasa (17/4/2012) lalu. Namun, bila dikerucutkan, kedua alasan pengeluaran ini juga sama yakni tidak pantas mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.

Melihat contekan terlebih saat ujian akhir merupakan bagian dari kesalahan sekaligus membodohi dan membohongi diri sendiri. Sebagai akibat dari kesalahan, tentu saja ada ganjarannya terlebih larangan melihat contekan telah disepakati dan ditandatangani dalam perjanjian. Kini sebelas siswa tersebut tetap dikeluarkan dan keputusan pecat tak bisa dibatalkan (Serambi, 21/4/2012). Kasus ini sejatinya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak dalam mendidik kejujuran pada masa mendatang, termasuk bagi 11 siswa di sekolah tersebut.

Dikeluarkan dari sekolah merupakan bagian dari masalah dalam kehidupan 11 siswa Sukma Bangsa, Caleu, Kabupaten Pidie. Namun masalah tidak harus membuat mereka mundur apalagi berputus asa. Masalah datang untuk menguji kemampuan seseorang. Bila masalah tersebut mampu dihadapi, maka masalah merupakan awal keberhasilan.

Sejarah mencatat bahwa berbagai penemuan yang dihasilkan manusia berawal dari masalah. Bila kasus pemecatan dari sekolah yang menimpa 11 siswa Sukma Caleu dianggap sebagai sebuah kekurangan, sejarah juga mencatat berbagi keberhasilan yang telah diraih oleh mereka yang memiliki berbagai kekurangan itu. Thomas Alfa Edison yang dianggap dungu adalah bagian dari mereka.

Di tingkat nasional, Indonesia juga memiliki begitu banyak tokoh yang hanya pernah mengenyam pendidikan rendah. Razaly Ali (2002) mencatat, H Agus Salim, pejuang dan negarawan terkemuka di

zamannya, tidak mengenyam pendidikan formal apa pun dari sebuah sekolah. Ajib Rosjidi, pengarang dan sastrawan terkemuka, salah seorang dosen dan guru besar pada Universitas Indonesia, konon sekolah sampai kelas II Sekolah Menengah Atas. Ia memberikan privat secara profesional tentang Ilmu Bahasa dan Sastra.

 Komitmen dan kemauan
Selain Rosjidi, Razaly Ali juga mencatat Bondan Winarno, salah seorang penulis dan kolumnis manajemen di Majalah Tempo yang menghimpun tulisan-tulisan dalam “Seratus Kiat Jurus Sukses” kaum bisnis. Bondan mengaku punya pendidikan formal yang gagal, tetapi semua tulisan-tulisannya mengangkat masalah motivasi dan manajemen sukses amat mencengangkan.

Namun, perlu dicatat pula bahwa keberhasilan mereka yang tidak bersekolah tidaklah berarti bahwa bersekolah itu tidak penting. Justru sebaliknya, kisah sukses mereka seharusnya membuat kita bertambah semangat karena melihat semangat mereka dalam belajar walaupun tidak ada guru.

Melihat berbagai keberhasilan yang telah diraih para pendahulu, akan lebih baik dan menguntungkan bila 11 siswa tersebut menyikapi kasus pemecatan ini secara positif dan terus maju memacu diri dengan mengembangkan skil dan bakat masing-masing. “Keberhasilan adalah milik semua orang,” tulis Razaly Ali (2002) dalam buku “Kiat Sukses Menangguk Duit”. Tidak perlu peduli apakah ia dikeluarkan dari sekolah atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Kunci keberhasilan terletak pada komitmen dan kemauan.

Dikeluarkan dari sekolah juga bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal perjuangan sekaligus batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila semangat dan kemauan masih tertanam, dikeluarkan dari sekolah bukanlah penghambat kesuksesan. “Jika tidak ada jalan, saya akan membuat jalan. Tidak ada kata tidak bagi orang yang mau,” kata manusia jenius, Albert Einstein.

Selain mengembangkan skil, bila mau mereka juga dapat menjadikan kasus ini sebagai pengalaman untuk tidak diulang dan berperan sebagai aktifis yang memperjuangkan kejujuran. Langkah ini telah banyak ditempuh oleh para pendahulu. Mereka justru bangkit tatkala mereka dianggap tidak mampu. Dengan semangat dan kegigihan, akhirnya mereka mampu membuktikan bahwa pribadi mereka adalah bagian yang patut dipertimbangkan. Namun hal yang perlu diingat bahwa perjuangan ini harus dilandasi dengan niat dan tujuan yang benar, bersih dan ikhlas dan bukannya membalas dendam atau berbagai perilaku negatif lainnya.

 Jangan Berputus asa
Sebelas siswa SMA Sukma Caleu, Kabupaten Pidie telah dikeluarkan. Sebagai lembaga pendidikan swasta, Sukma telah menunjukkan sekaligus membuktikan komitmennya mengedepankan kejujuran (Serambi, 10/4/2012). Sikap Sukma dalam membangun kejujuran patut dihargai dan masa depan anak bangsa juga perlu dilindungi. Kepada siswa yang dikeluarkan, alangkah baiknya bila mereka menyikapi kasus ini secara positif dan bukannya mundur apalagi berputus asa. Dikeluarkan adalah masalah dan ujian dalam hidup, yang bukan tidak mungkin merupakan awal dari keberhasilan besar. Thomas Alfa Edison, penemu serba bisa juga pernah dikeluarkan dari sekolah. Namun Edison tidak mundur apalagi berputus asa. Dia terus maju dan mengembangkan ilmunya. Tambahan lagi, kalau Edison hanya pernah duduk di bangku sekolah dasar, sementara sebelas siswa Sukma telah duduk di bangku kelas III SMA. Edison berjuang dan menggalang kekuatan seorang diri, sementara mereka memiliki kekuatan sepuluh kali lipat lebih besar. Mengingat keberhasilan para pendahulu dan potensi yang dimiliki 11 siswa SMA Sukma, tidaklah salah bila masyarakat Aceh mendambakan kelahiran ‘Edison’ baru di negeri ini. Semoga!


* Ibnu Hajar Ibrahim, Alumni ESQ Leadership Training/Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara angkatan II.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved