Rabu, 10 Juni 2026

Dirampok Keponakan, Nuriyanti Tewas Ditikam

Nuriyanti (38) warga Jalan Bunga Cempaka, Medan Selayang tewas seketika setelah dianiaya keponakannya sendiri yang berniat menyatroni

Tayang:
Editor: bakri
MEDAN - Nuriyanti (38) warga Jalan Bunga Cempaka, Medan Selayang tewas seketika setelah dianiaya keponakannya sendiri yang berniat menyatroni kediamannya, Kamis (13/9) dini hari. Ironisnya, pelaku yang berjumlah empat orang itu juga menghujani tikaman anak korban sebanyak 32 liang.

Korban yang sempat disekap di kamar itu akhirnya tewas bersimbah darah saat menuju RS Elisabeth. Sedangkan anaknya, Nazwa (8) kritis dan saat ini masih dirawat di RS Siti Hajar. Tim medis menyebutkan bocah malang itu menderita 32 liang tikaman, dan mengalami depresi.

“Dia tak mau bertemu orang asing, masih trauma,” kata seorang perawat. Pembantaian sadis ala empat remaja yang masih duduk di bangku SMA itu diawali dengan berpura-pura bertamu. Korban diyakini tidak menaruh curiga, karena salah satu pelaku merupakan keponakannya, Imanuel (16). Tak lama berselang, ia bersama tiga rekannya, Satria, Nanang, dan Sugi yang juga remaja langsung menyekap korban.

Menurut Kapolsek Medan Sunggal AKP Bakhtiar Marpaung, sempat terjadi perlawanan sehingga keempat korban melakukan penganiayaan. Puncaknya, pelaku langsung mengambil pisau di dapur dan menikam Nuriyanti hingga tewas.

Pembunuhan itu ternyata disaksikan anak bungsu korban, Nazwa, yang kemudian juga ditikam para pelaku sebanyak 32 liang. “Mereka hanya berdua di rumah. Saya belum dapat kabar mengenai suami dan anak sulungnya,” kata Bakhtiar.

Keributan di rumah korban itu belakangan diketahui warga, sehingga para pelaku memilih kabur, dan hanya mengambil cincin korban. Hanya berselang dua jam, keempatnya berhasil diringkus polsisi. Bakhtiar mengatakan pihaknya turut menyita sebilah pisau dapur berlumuran darah yang digunakan membunuh korban, serta cincin tersebut.

“Unsur perampokan dan pembunuhannya jelas. Karena mereka sudah kedapatan membawa kabur cincin korban,” tukasnya.

Dalam pemeriksaan itu, IPB mengaku nekat merampok dan membunuh bibinya karena terlilit utang. Rencananya uang hasil dari kejahatan itu digunakan untuk melunasi utang tersebut. Tapi ketika didesak, ia tak merinci utang yang menjeratnya. Hingga Kamis (13/9) siang, jasad korban masih disemayamkan di rumah orangtuanya, Jalan Perjuangan, Medan Perjuangan.(mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved