Abrasi Ancam Kantor Bupati Singkil
Abrasi pantai di Pulau Sarok, yang berjarak sekitar 250 meter dari kantor Bupati Aceh Singkil, kian mengganas. Pohon cemara yang menjadi
Pantauan Serambi, Selasa (18/12) kemarin, garis pantai yang tergerus abrasi sepanjang mata memandang. Mulai dari Pelabuhan Feri di belakang Pendapa Bupati, melewati lapangan sepak bola di depan kantor bupati, hingga ke belakang kantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKKD).
“Abrasi makin parah saja, lihat saja pohon cemara sudah tercabut sampai akar-akarnya karena tergerus air,” kata Mansur, PNS di lingkup Pemerintah Aceh Singkil, saat memantau keganasan abrasi.
Pulau Sarok adalah sebuah desa di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. Desa ini merupakan tempat berdirinya hampir semua perkantoran pemerintah dan swasta, sejak dari kantor bupati hingga kantor bank.
Akibat tidak ada penahan ombak, air laut sudah masuk ke daratan Pulau Sarok. Umpamanya di belakang Polsek Singkil dan kantor Satuan Polisi Air Polres Aceh Singkil yang posisinya berdampingan. Air laut hanya berjarak 200 meter dari kantor itu. Bahkan bangunan sarang walet milik warga posisinya nyaris terkena hantaman ombak, padahal sebulumnya cukup jauh dari pantai.
Warga berharap Pemkab Aceh Singkil, membangun tanggul penahan ombak. Serta melakukan penghijauan di sekitar pantai Pulau Sarok. Mengingat yang terancam abrasi tidak hanya rumah penduduk, juga kantor pemerintah dan fasilitas umum.(c39)
Erosi di Kluet Meluas
TAPAKTUAN - Ratusan hektare lahan perkebunan rakyat di Gampong Lawee Sawah, Kecamatan Kluet Timur dan Gampong Koto Indarong, Kecamatan Kluet Tengah Kabupaten Aceh Selatan dilaporkan sudah sangat terancam keberadaannya akibat digerus erosi sungai. Hal itu terungkap ketika anggota DPRK Aceh Selatan dari Partai SIRA, Kasmans bersama Muspika setempat mengunjungi kawasan tersebut Minggu (16/12).
“Hasil pantauan langsung saya bersama Muspika dua Kecamatan setempat pada Minggu (16/12) kemarin, bahwa situasi arus sungai Krueng Kluet saat ini sudah sangat membahayakan dan sudah sangat mengancam perkebunan masyarakat di dua Kecamatan tersebut. Jika tidak segera ditanggulangi akan berdampak kerugian besar bagi masyarakat sekitar,” ungkap Kasman kepada Serambi, Senin (17/12).
Kasman mengatakan, kondisi sungai Krueng Mungkap Lawee Melang saat ini sudah terlalu sempit sehingga begitu terjadinya banjir kiriman, bibir sungai tersebut langsung ambruk karena tidak sanggup lagi menampung debit air yang melaju cukup deras. “Jika kondisi ini tidak segera diantisipasi kami khawatirkan penduduk disekitar DAS tersebut akan terusik kenyamanannya,” ungkas Kasman.(tz)