Kamis, 11 Juni 2026

IDI Selidiki Dugaan Pelanggaran Kode Etik

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Subulussalam menyatakan akan melakukan investigasi terkait laporan dokter yang diduga

Tayang:
Editor: bakri
* Terkait Balita Meninggal di RSUD Subulussalam

SUBULUSSALAM - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Subulussalam menyatakan  akan melakukan investigasi terkait laporan dokter yang diduga melakukan pelanggaran kode etik hingga menyebabkan meninggalnya seorang pasien balita berusia 1,7 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam, Jum’at (29/3) lalu.

Hal itu disampaikan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kota Subulussalam, dr Sarifin Usman Kombih kepada Serambi, melalui BlackBerry Messenger (BBM), Sabtu  (31/3) malam kemarin.

Sarifin yang juga kepala Puskesmas Penanggalan mengatakan belum dapat menyimpulkan sanksi yang akan dikenakan terhadap dokter Evi Hendri yang piket pada malam kejadian, namun keluar meninggalkan rumah sakit untuk mengikuti pengajian dan baru kembali setelah pasien menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 22.00 WIB.

Dalam kasus tersebut, kata Sarifin, pihaknya akan terlebih dahulu memanggil dokter Evi Hendri  guna menelusuri kronologis sejak awal kejadian serta tindakan yang telah dilakukan sang dokter. “Kami akan melakukan investigasi dulu, bagaimana duduk perkara sebenarnya biar jangan salah mengambil tindakan,” ujar Sarifin.

Ketika ditanyakan apakah tindakan dokter jaga meninggalkan ruangan atau kompleks rumah sakit merupakan pelanggaran kode etik atau indisipliner, Sarifin mengatakan tergantung peraturan rumah sakit itu sendiri.

Tetapi, lanjut Sarifin, biasanya dokter jaga tidak boleh meninggalkan tugasnya untuk kegiatan lain yang tidak ada hubungan dengan rumah sakit. Dan kalaupun terpaksa meninggalkan tugas jaganya, kata Sarifin, sang dokter sejatinya meminta bantuan dokter jaga pengganti lain sehingga tidak terjadi kekosongan.

Sebelumnya diberitakan, seorang pasien usia 1,7 tahun bernama Zamra Tirta Saragih yang mengalami penyakit infeksi paru-paru, Jum’at (29/3) malam meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam. Ketika sang bocah mengalami masa kritis (emergency) dokter jaga pada malam itu dilaporkan tidak sempat menangani pasien karena telah keluar ruangan dan baru kembali setelah bocah itu menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 22.00 WIB.

Sementara dokter Evi Hendri yang merupakan dokter piket pada malam itu ketika dikonfirmasi Serambi, Sabtu (30/3) dinihari  membenarkan dirinya masuk sebagai dokter jaga pada pukul 20.00 WIB dan meminta izin kepada kepala ruangan untuk keluar mengikuti pengajian dan berpesan jika terjadi hal-hal emergency agar menghubunginya.

”Saya memang meminta izin untuk keluar sebentar mengikuti pengajian di belakang Bank Aceh, saya pikir karena jaraknya dekat jadi bisa keluar dan berpesan apabila ada masalah ditelepon,” terang dr Evi.

Ia pun mengaku bahwa dirinya memang terlambat datang untuk melihat kondisi pasien. Terhadap hal ini, dokter tersebut mengaku salah dan menyesal atas kejadian meninggalnya pasien balita pada malam tadi. Dokter Evi berjanji pihaknya akan segera memperbaiki masalah tersebut.(kh)

Tak Boleh Terjadi Lagi
KETUA DPRK Subulussalam, Pianti Mala, menilai kasus meninggalnya seorang pasien balita berusia 1,7 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam sebagai peristiwa mengenaskan dan mencoreng citra rumah sakit. Menurut Pianti, kondisi tersebut terjadi lantaran minimnya perhatian pemerintah dan masih buruknya pelayanan rumah sakit.

“Kasus ini tidak boleh terjadi lagi, ini sangat fatal harus menjadi pelajaran bagi pihak rumah sakit dan pemerintah,” tegas Ketua DPRK Pianti Mala kepada Serambi, Sabtu (30/3).

Hal senada diungkapkan H Mukmin Pardosi, anggota DPR Kota Subulussalam. Politisi partai Hanura ini juga menyatakan kekecewaanya atas kejadian meninggalnya pasien balita tersebut. Mukmin tidak menyalahkan para perawat RSUD tersebut tetapi yang disesalkan menyangkut ketiadaan dokter dalam kondisi pasien mengalami gawat darurat.

“Ini harus dituntaskan, jangan sampai kasus ini terulang lagi. Terus terang kami sangat kecewa atas layanan rumah sakit. Jadi wajar kalau warga datang kemari ramai-ramai, jangankan masyarakat saya sendiri kecewa dan datang ke rumah sakit ini. Intinya yang kami persoalkan pelayanannya, katakanlah nyawa tidak bisa dihalangi tapi setidaknya dokter ada,” tandas Mukmin.(kh)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved