Minggu, 25 Januari 2015
Serambi Indonesia
Home » Opini

Penanggulangan Kemiskinan

Kamis, 4 April 2013 10:22 WIB

KEMISKINAN merupakan satu masalah utama yang dihadapi Aceh saat ini. Pada September 2012, tingkat kemiskinan Aceh mencapai 18,58%, menduduki peringkat kelima tertinggi di Indonesia. Sementara untuk wilayah Sumatera, Aceh menempati posisi  teratas. Meskipun telah mengalami penurunan dari 19,48% pada September 2011, namun tingkat kemiskinan Aceh relatif masih tinggi dibandingkan tingkat kemiskinan nasional per September 2012 yang mencapai 11,66% (www.m.bisnisaceh.com, 11 Februari 2013).

Konflik keamanan yang berlangsung begitu lama dianggap banyak kalangan sebagai biang penyebab kemiskinan di Aceh. Meskipun musibah tsunami memperparah kemiskinan, namun dapat dikurangi lewat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Turbulensi keamanan di masa konflik menghancurkan infrastruktur, aset-aset produktif dan aktivitas ekonomi masyarakat. Situasi ini mengakibatkan Aceh yang memiliki kekayaan alam melimpah menjadi provinsi yang sangat miskin di Indonesia. Laporan Kajian Kemiskinan di Aceh (World Bank, 2008) mengungkapkan bahwa kemiskinan di Aceh juga terkait dengan daerah pedesaan dan rumah tangga dengan mata pencaharian di bidang pertanian, rendahnya pendidikan kepala rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan.

Lingkaran setan
Dalam perspektif ekonomi, kemiskinan pada dasarnya berhubungan dengan kepemilikan sumber daya, kualitas manusia, dan akses terhadap modal (Sharp, et al. 1996). Ketidaksamaan kepemilikan sumber daya menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Sedangkan kualitas sumber daya manusia yang rendah berimbas pada rendahnya produktivitas dan rendahnya pendapatan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini terkait dengan tingkat pendidikan, diskriminasi sosial dan keturunan. Sementara keterbatasan akses terhadap modal menyebabkan sulitnya peningkatan taraf hidup. Ketiga persoalan kemiskinan ini sering dianggap sebagai lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).

Dalam rangka menanggulangi permasalahan kemiskinan, pemerintahan pusat telah melaksanakan berbagai program, seperti Inpres Desa Tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK), dan lain-lain. Sejak 2007, pemerintah juga meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebagai payung berbagai program penanggulangan kemiskinan.

Dalam konteks Aceh, Bantuan Keuangan Peumamue Gampong (BKPG), merupakan satu program penanggulangan kemiskinan daerah yang utama. BKPG yang diberlakukan Pemerintah Aceh sejak 2009 ditujukan untuk mendukung program penanggulangan kemiskinan nasional. Program BKPG berjalan beriringan dengan program Alokasi Dana Gampong (ADG) yang didanai kabupaten/kota. Program-program ini bertujuan untuk meningkatkan akselerasi pembangunan, penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan pemerintah gampong.

Program penanggulangan kemiskinan di Aceh juga didukung oleh program/kegiatan di sektor-sektor seperti infrastruktur (misalnya pengadaan rumah layak huni bagi masyarakat miskin dan pembangunan infrastruktur antarwilayah), kesehatan (misalnya program Jaminan Kesehatan Aceh) dan pendidikan (pemberian beasiswa anak yatim, dll). Upaya yang telah ditempuh ini, meski perlu terus dikembangkan dan disempurnakan, merupakan langkah tepat karena alokasi anggaran untuk sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar akan menciptakan anggaran yang pro-poor (mendukung perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin) (Brodjonegoro, 2003).   

 Sulit diturunkan
Bagaimanapun, meski berbagai program telah dilaksanakan dan banyak dana telah dikucurkan untuk mengatasi kemiskinan, ternyata kemiskinan masih begitu sulit diturunkan. Ini sebenarnya bukan hanya persoalan di Aceh, tetapi juga masalah nasional. Selama 2002-2009, misalnya, walaupun pemerintah pusat telah mengeluarkan dana Rp 319,5 triliun untuk pengentasan kemiskinan, tingkat kemiskinan di Indonesia hanya turun sekitar 4% (Saidi, 2010).

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 108

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 108

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 108

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 108

Atas