• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

UN untuk Guru, Mengapa tidak?

Sabtu, 20 April 2013 11:10 WIB

Oleh Nazar Shah Alam


SEJAK berlakukannya keharusan mengikuti Ujian Nasional (UN) sebagai syarat dan standar kelulusan bagi siswa sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA/MA/SMK) serta siswa sekolah menengah pertama (SMP/MTs/sederajat), ada rasa mencekam pada saat menjelang, saat menghadapi, dan setelahnya pada segenap siswa, guru, sekolah, dan segenap pejabat lingkungan pendidikan, bahkan termasuk kepala daerah.

Bagaimana pun, UN dirasakan telah menjadi semacam ‘teror’ paling menakutkan bagi mereka yang menghadapinya maupun lingkungannya. Ada semacam ketakutan hinggap. Maka demi melaluinya, segala cara dilakukan, baik dengan hal-hal logis maupun tidak. Maka tepatlah UN dianggap sebagai “ujian nasional” sesungguhnya sehingga untuk menghadapinya rasanya perlu melakukan ritual tolak bala atau doa bersama.

 Berbagai ‘ancaman’ baru
Keluhan-keluhan terhadap prosesi akhir sekolah ini telah sangat banyak dilontarkan oleh berbagai pihak. Pemerintah dalam hal ini nampaknya lebih memilih menutup telinga. Malah UN semakin diketat-ketatkan dan dirancang dengan berbagai “ancaman” baru. Tentu saja harapan mereka logis, demi peningkatan mutu pendidikan. Tapi apakah harapan itu logis pula dilaksanakan mengingat keadaan pendidikan kita hari ini yang terlalu banyak persoalan?

Ada banyak ketimpangan yang terjadi di ranah pendidikan kita. Dari ketidak-adilan sarana prasarana antara sekolah tertentu hingga ketidak-adilan informasi pendidikan yang dirasakan bersebab satu dan lain hal. Dalam pada ini saja setidaknya bisa kita lihat bahwa UN lebih tepat diaggap sebagai bentuk penjajahan terbesar bagi mereka yang bersekolah di tempat yang penuh dengan kekurangan dan ketidak-adilan secara nasional dalam bidang pendidikan.

Kalau pun UN dipaksa juga untuk dilaksanakan, maka tentu lebih baik mencari akar dari pendidikan itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa gurulah dasar dari pengetahuan para siswa? Maka UN lebih baik dan cocok diberikan untuk para guru kita hari ini. Guru-gurulah yang patut ditambah mutunya, di-upgrade pengetahuannya terlebih dulu.

Siswa akan pandai jika gurunya pandai. Maksudnya pandai dalam berbagai hal. Sebab memiliki banyak pengetahuan tentang yang diajarkan saja belum cukup untuk mengajar dengan baik. Guru juga mesti pandai menarik minat siswa untuk belajar dan pandai berimprovisasi terhadap hal-hal tertentu yang dibutuhkan siswa ketika mengajar.

Tanggung jawab peningkatan mutu pendidikan formal di sekolah itu mutlak ditentukan oleh guru. Sementara hal-hal lain hanya memberi ilmu sedikit pada mereka. Sampai saat ini siswa kita masih saja kurang minat mengunjungi pustaka atau membaca tentang pendidikan mereka dengan berbagai alasan. Artinya informasi yang mungkin akan mereka dapatkan dari buku atau media lain kurang tersampaikan.

Siswa semakin tidak layak mengikuti UN bila mengingat mereka kerap terkungkung dengan prosesi belajar yang stagnan dan memosankan di sekolah. Mereka kerap sedikit mendapatkan informasi di kelas sebab kebanyakan yang mereka lakukan hanya menjawab soal dan mengerjakan tugas setiap hari.

Dari sedikit informasi pengetahuan yang diberikan guru --beruntung jika informasi itu adalah yang terbaru dan bukan yang ada di buku paket-- rerata hanya bertujuan kepada tugas. Kebiasaan. Boleh datang ke segenap sekolah tanpa memberi tahu terlebih dahulu, dapatlah dilihat betapa banyak guru yang melaksanakan proses belajar seperti itu.

Memang tidak semua guru bersikap demikian. Hanya saja terlalu banyak. Bisa jadi sikap serupa adalah tularan generasi dan sistem pendidikan kita pada masa silam. Jika memang benar, sungguh tepatlah UN ditujukan kepada guru saja. Mereka perlu belajar banyak. Jangan puas dengan ilmu yang sudah ada, melainkan terus mencari pengetahuan terbaru sesuai bidang ilmu masing-masing.

Masih banyak guru yang hanya berpedoman pada buku panduan dan hanya mengajarkan hal-hal serupa pada segenap lintas generasi. Tidak ada upaya memajukan pengetahuan sendiri. Pengetahuan tambahan hanya didapat dari seminar atau workshop, itu pun kalau mereka serius mengikuti, bukan hanya berharap sertifikat di akhir acara.

Sekali lagi, kondisi dan perilaku tersebut tentu tidak semua guru, tapi masih sangat banyak. Lalu, apakah dengan keadaan dan proses belajar yang demikian bisa membuat siswa siap lahir dan batin menghadapi ujian sejati tersebut?

 Grafik kelulusan
Kalau melihat kenyataan pada grafik kelulusan setiap tahunnya, barangkali kesimpulan yang bisa ditarik adalah siswa nyatanya semakin siap. Namun coba lihat pada fakta yang terjadi di lapangan. Seketat apa pun UN dilaksakan, tetap saja akan disusupi intrik kolaborasi antara guru, pengawas, penjaga keamanan, dan siswa.

Pada akhirnya, barangkali UN memang tidak bisa lagi diandalkan, sebab pendidikan kita mesti terus diperbaiki mutunya. Namun rasanya percuma memulainya dari siswa jika gurunya adalah guru serupa bertahun-tahun tanpa ada penambahan berarti pada pengetahuan mereka.

Guru adalah objek utama yang perlu diujiankan bertahun-tahun, agar mereka belajar juga, semakin cerdas dalam melakoni tugasnya, sehingga tidak hanya terkejut ketika UN. Lagi pun, UN untuk siswa hampir tidak ada gunanya selain dari menambah nilai kebohongan, keuntungan pencetak buku paket, dan naiknya harga pensil bermerek.

Nazar Shah Alam
, Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Banda Aceh. Pegiat di Komunitas Jeuneurob. Email: nazarshah.alam@yahoo.com
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
180754 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas