Sabtu, 28 Februari 2015
Home » Opini

UN untuk Guru, Mengapa tidak?

Sabtu, 20 April 2013 11:10 WIB

SEJAK berlakukannya keharusan mengikuti Ujian Nasional (UN) sebagai syarat dan standar kelulusan bagi siswa sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA/MA/SMK) serta siswa sekolah menengah pertama (SMP/MTs/sederajat), ada rasa mencekam pada saat menjelang, saat menghadapi, dan setelahnya pada segenap siswa, guru, sekolah, dan segenap pejabat lingkungan pendidikan, bahkan termasuk kepala daerah.

Bagaimana pun, UN dirasakan telah menjadi semacam ‘teror’ paling menakutkan bagi mereka yang menghadapinya maupun lingkungannya. Ada semacam ketakutan hinggap. Maka demi melaluinya, segala cara dilakukan, baik dengan hal-hal logis maupun tidak. Maka tepatlah UN dianggap sebagai “ujian nasional” sesungguhnya sehingga untuk menghadapinya rasanya perlu melakukan ritual tolak bala atau doa bersama.

 Berbagai ‘ancaman’ baru
Keluhan-keluhan terhadap prosesi akhir sekolah ini telah sangat banyak dilontarkan oleh berbagai pihak. Pemerintah dalam hal ini nampaknya lebih memilih menutup telinga. Malah UN semakin diketat-ketatkan dan dirancang dengan berbagai “ancaman” baru. Tentu saja harapan mereka logis, demi peningkatan mutu pendidikan. Tapi apakah harapan itu logis pula dilaksanakan mengingat keadaan pendidikan kita hari ini yang terlalu banyak persoalan?

Ada banyak ketimpangan yang terjadi di ranah pendidikan kita. Dari ketidak-adilan sarana prasarana antara sekolah tertentu hingga ketidak-adilan informasi pendidikan yang dirasakan bersebab satu dan lain hal. Dalam pada ini saja setidaknya bisa kita lihat bahwa UN lebih tepat diaggap sebagai bentuk penjajahan terbesar bagi mereka yang bersekolah di tempat yang penuh dengan kekurangan dan ketidak-adilan secara nasional dalam bidang pendidikan.

Kalau pun UN dipaksa juga untuk dilaksanakan, maka tentu lebih baik mencari akar dari pendidikan itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa gurulah dasar dari pengetahuan para siswa? Maka UN lebih baik dan cocok diberikan untuk para guru kita hari ini. Guru-gurulah yang patut ditambah mutunya, di-upgrade pengetahuannya terlebih dulu.

Siswa akan pandai jika gurunya pandai. Maksudnya pandai dalam berbagai hal. Sebab memiliki banyak pengetahuan tentang yang diajarkan saja belum cukup untuk mengajar dengan baik. Guru juga mesti pandai menarik minat siswa untuk belajar dan pandai berimprovisasi terhadap hal-hal tertentu yang dibutuhkan siswa ketika mengajar.

Tanggung jawab peningkatan mutu pendidikan formal di sekolah itu mutlak ditentukan oleh guru. Sementara hal-hal lain hanya memberi ilmu sedikit pada mereka. Sampai saat ini siswa kita masih saja kurang minat mengunjungi pustaka atau membaca tentang pendidikan mereka dengan berbagai alasan. Artinya informasi yang mungkin akan mereka dapatkan dari buku atau media lain kurang tersampaikan.

Halaman123
Editor: hasyim
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas