Rabu, 10 Juni 2026

Laksamana

Gegap gempita teriakan membahana, membelah langit malam. Ratusan tentara dari armada

Tayang:
Editor: bakri

Karya Rinal Sahputra

“Aceh menang. Aceh berjaya. Allahu akbar! Allahu akbar!”Gegap gempita teriakan membahana, membelah langit malam. Ratusan tentara  dari armada laut yang dipimpin langsung oleh Sultan Al Mukammil seakan meruah, menutupi permukaan Laut Haru. Asap membumbung tinggi mengangkasa dari remah kapal-kapal galey yang terbakar. Setelah menempuh pertempuran yang sangat melelahkan, pasukan Portugis berhasil dipukul mundur.  Kabut yang semula mengawangi malam, perlahan beranjak, menampakkan rembulan separo yang memantul pada permukaan air.

Kemeriahan tadi mendadak senyap. Semua menundukkan muka ketika Sultan mulai maju ke tengah-tengah buritan. Salah satu komandan tampak berbisik dan Sultan menyimaknya dengan serius. Para prajurit menanti dengan harap cemas tentang apa yang akan disampaikan oleh Sultan.

“Atas nama Allah yang telah menciptakan makhluk dari ketiadaan dan mengembalikannya pada ketiadaan. Selawat dan salam kepada junjungan Muhammad saw. Saat ini, kita bersukaria untuk kemenangan yang telah berhasil kita raih. Tetapi, kita harus ingat bahwa kemenangan ini adalah semata-mata karena anugerah Allah.” Sultan terlihat menarik napas dengan berat dan sesaat menatap jauh ke arah laut Haru.

“Wahai mujahid-mujahidah sejati, setiap kemenangan terkadang membutuhkan pengorbanan dan kali ini, kita telah kehilangan dua laksamana tangguh dan juga seribu prajurit yang selama ini selalu memberikan yang terbaik untuk Kerajaan Aceh. Tidak ada yang perlu disedihkan karena dalam pribadi setiap muslim seharusnya terpatri semangat jihad. Beruntunglah mereka yang telah menjadi syahid dalam pertempuran ini.”

Keheningan merayap berbalur kesedihan. Laksamana merupakan panglima tertinggi angkatan laut dan saat ini Kerajaan Aceh kehilangan dua orang laksamana yang ketangguhan mereka di medan laga tak diragukan lagi. Harga yang cukup mahal untuk membayar kemenangan yang baru saja mereka raih.

Di tengah keheningan yang menggantikan kemeriahan sesaat, terdengar isakan, berbaur dengan hembusan angin yang menyusup di antara tiang-tiang kapal yang mulai berbalik arah menuju Kutaraja. Mengenakan baju perang, lengkap denga kerudung warna merah hati, orang akan jelas mengenal sosoknya. Dialah Keumalahayati, putri dari Laksamana Mahmud Syah, keturunan dari Sultan Salahuddin Syah, yang memerintah Kerajaan Aceh sejak tahun 1530 sampai 1539. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah yang dikenal sebagai pendiri kerajaan Aceh Darussalam.

“Keumala, aku mengenalmu sejak kecil. Kau masih ingat, ketika kita berdua nekat mendaftarkan diri sebagai taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis? Meskipun teungku lebih menyarankan kita untuk tetap melanjutkan belajar di dayah, kita tetap bersikeras bahwa angkatan lautlah cita-cita kita. Kau masih ingat Keumala, saat hari-hari penuh perjuangan kita lalui di akademi. Latihan yang sangat melelahkan dari instruktur-instruktur Turki. Bahkan, meskipun kakekmu adalah seorang laksamana, sedikit pun mereka tidak mengurangi beban latihanmu.” Keumala bergeming dan sekuat tenaga menahan isakannya.

“Jika kau sudah lupa, aku masih mengingatnya, Keumala. Sekali pun tak pernah kudengar keluh dari bibirmu. Bahkan kau selalu tersenyum dan menjadi sumber semangat bagi kami, perempuan-perempuan yang lain untuk tetap bertahan di akademi. Keumala, kumohon, jangan biarkan kehilangan ini membuatmu menjadi lemah. Benar seperti yang disampaikan Sultan, bahwa laksamana, suamimu telah meretas jalan menuju ke syurga.” Air mataku turut mengalir ketika tubuh rapuhnya kupeluk. Beberapa prajurit wanita lain, yang suaminya juga telah gugur sebagai syuhada saling berbagi semangat lewat pelukan.

Selama ini, Keumala dikenal sebagai taruna dengan tekad sekokoh karang, kecerdikan seorang jenius sejati, dan kecantikan dewi. Semuanya menyatu pada diri Keumala. Kehilangan suaminya, Sang Laksamana adalah kali pertama bagi kami nelihat dia menitikkan air mata.

Keumala menyeka sisa air matanya dan berdiri menghadap ke Laut Haru yang semakin jauh tertinggal. Semangat seperti membanjiri tubuhnya, meluap-luap hingga membuatku seolah terhisap ke dalamnya.

“Kau benar Cut. Tidak sepantasnya aku bersedih. Kenapa aku bisa melupakan pribadi Nasibah, seorang shahabiah yang merelakan suami dan anak-anaknya syahid di medan perang bersama Rasulullah. Bahkan dirinya sendiri ikut dikorbankan ketika membela rasulullah dalam perang uhud. Akulah Nasibah, Cut. Aku akan bertekad, atas nama Allah, tidak akan membiarkan para penjajah itu bisa merebut kerajaan Aceh. Hingga tetes darah terakhir, akan kita pertahankan Cut.” Keumala berbalik menghadap kami, para janda yang baru saja kehilangan belahan jiwa kami.

***

Sultan, izinkanlah saya untuk membentuk pasukan khusus. Tidak ada sedikit pun maksud di hati saya untuk membuat pemisahan ataupun upaya-upaya lain yang mungkin Sultan dengar dari pihak-pihak yang tidak senang dengan usul saya. Saya bisa mengerti karena mungkin mereka belum paham dengan konsep yang saya tawarkan. Kondisi semakin genting, tidak hanya dihadapkan pada pasukan Portugis yang sudah menguasai Malaka. Tetapi, intrik di dalam istana juga tidak bisa dianggap sepele, Sultan. Tanpa berniat untuk memfitnah, tapi saya yakin Sultan bisa merasakan kemelut ini. Ada beberapa pihak yang berniat menyingkirkan Sultan. Saya sungguh berharap, dengan membentuk pasukan khusus ini, setidaknya saya bisa memberikan sesuatu untuk kerajaan Aceh.”

 Keumala menatap ke arah Sultan tanpa ada guratan keraguan di wajahnya. Ruangan khusus Sultan nampak lengang, selain beberapa prajurit yang bertugas jaga di depan. Sultan duduk membisu, termenung dan terlihat menerawang jauh pada langit-langit istana. Beberapa panglima yang lain, duduk melingkar pada meja musyawarah, menatap lekat ke arah Sultan. Beberapa dari mereka sempat tersedak ketika Keumala dengan berani menyinggung intrik di istana yang sedang terjadi. Aku yang duduk di samping Keumala terus berdoa agar usul tadi diterima. Hingga akhirnya Sultan mengangguk setuju dan menutup musyawarah.

Hari-hari penuh tantangan pun menghadang, seperti kembali pada masa-masa sulit saat diharuskan mengikuti latihan-latihan berat selama di akademi. Sungguh tidak mudah menggkoordinir pasukan khusus, yang digelar armada inong balee oleh Keumala. Beranggotakan seribu janda yang suaminya meninggal pada pertempuran di Laut Haru yang lalu, kami menjadikan Teluk Lamreh Krueng Raya sebagai pangkalan. Di bawah bimbingan Keumalahayati, aku dan pasukan yang lain membangun benteng inong balee di daerah perbukitan, dengan tembok selebar tiga meter menghadap ke arah laut. Dan meriam-meriam ditempatkan tepat mengarah ke pintu teluk.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved