Cerpen

Ibu di Dasar Laut

SEKARANG Bida paham apa itu rindu. Baginya rindu bukan sebatas hujan menebaskering di saat siang

Karya Ferhat Muchtar

SEKARANG Bida paham apa itu rindu. Baginya rindu bukan sebatas hujan menebaskering di saat siang. Atau seperti payung menggelembung menunggu hujan. Untuknya rindu lebih dari itu. Berdegup-degup tak mampu ditahan seumpama tiupan ombak yang datang berdepa-depa. Rasa itu selalu hadir bila mengenang Ibu. Berdua mereka kerap menghabiskan hari bersama-sama.

Belajar, mengantarnya ke sekolah, atau mengajak Bida berkeliling kota. Tak pernah sekalipun ia mendengar Ibu menghardik. Tak pernah juga melotot sampai menegang urat mata. Bagi Bida, Ibu adalah bidadari berhati peri Hingga suatu pagi Ibu tak lagi pulang. Saat bumi bergetar lalu lautan bergerak cepat menebas apa yang ada.

Dan ketika laut kembali surut. Di saat rumput kembali menjalar dan pohon tak lagi meranggas. Hanya Ayah yang menemaninya di saat senggang di rumah yang tak lagi sama. Bida menghabiskan masa sendirinya ersama kanak-kanak lainnya. Bercengekerama di meunasah, bermain tali di tanah lapang, berkeliling kampung dengan sepeda. Lalu pulang menjelang maghrib. Lantas duduk menghabiskan malam dengan Ayah seorang diri.

Di saat seperti itu rindunya menggebu. Ia teringat Ibu. “Kenapa Ibu tidak pulang, Ayah?’ Ayah hanya terdiam. Wajahnya yang kerap teduh lantas mengembun jika mendengar pertanyaan itu.“Ibu akan pulang. Tidurlah, ia akan  menjumpaimu, Bida.” Ayah benar. Ibu menjumpainya saat malam-malam larut. Memelukya hingga sesak tak mampu bernafas. Berdua mereka duduk di rumput rimbun bercahaya terang. Di bawah pohon yang teduh.

Wajah Ibu lebih berseri dengan gaun putih menjulur hingga ke tanah. Saat Bida ingin merasa nyata, selalu ia tersentak. Ibu tak ada. Tidak di kamar, di dapur, atau di ruang tamu. Ibu pergi dengan sayap kupu-kupu lalu masuk ke dalam pintu gerbang berlorong terang. Itu penggalan yang ia ingat sebelum terjaga. Tersadar, Bida hanya mampu menangis. Memanggil Ibu hingga lengking memecah malam. Ayah lalu menenangi memeluk erat tubuh mungilnya. Sungguh Bida rindu Ibu. “Apa Ibu tenggelam di laut juga, Ayah?” tanyanya suatu malam. Ucapan itu keluar selepas ia bermain dengan kanakkanak di meunasah kampung. Halimah, teman Bida, bercerita Ibu dan adiknya hilang setelah air besar itu datang. “Mak dan adikku meninggal kena tsunami. Sama juga seperti Ibumu Bida,” ujar Halimah.

Ayah hanya terdiam. Lantas mengangguk pelan berurai airmata. Lepas itu Ayah kerap mengajak Bida menuju tanah lapang berumput. Tanah lapang berundak-undak dengan sebaran batu di atasnya. “Di sini Bida bisa kirim doa untuk Ibu.” “Kenapa harus di sini?” tanyanya. “Sebab Ibu tidur di sini.” Dan Bida paham Ibunya seperti ibu Halimah. Ibunya pergi saat air menggaruk tajam. Lantas selepas itu kesedihan bergelayut sempurna. Sesekali  yah mengajak Bida ke kota melepas sedih. Sekadar bermain kereta kuda atau berbelanja baju di pasar malam. Ayah juga mengajarinya berdoa untuk mengenang Ibu. Menyisipkan setiap doa selepas shalat. Mengudara yaasiin ketika malam Jumat, berziarah makam, atau lirih beristiqhfar ketika rindu datang tiba-tiba. Itu ia lakukan selalu tanpa putus-putus. Kata Ayah, itu cara ampuh untuk meredam rindu. Ayah melakukan hal yang sama.

Terkadang Bida menangkap sendu di wajah Ayah. Lelaki itu kerap terpekurlama selepas shalat. Atau bacaan yasinnya terdengar parau ketika malam Jumat. Tapi tetap saja rindu selayak air mendidih. Meluap-luap hingga tangis buncah dan dada sesak gulana. Bida idam Ibu. Sangat. Bagi Ayah kesedihan Bida adalah masalah. Ia ingin membahagiakan Bidahingga tangisnya tak lagi muncul. Ingin membuat Bida tersenyum, hingga bibirnya melengkung membentuk lesung di kedua pipinya.

Maka kemudian seorang perempuan hadir di tengah mereka. Bida menyebutnya Bunda. Ayah menikahinya seminggu lalu dengan acara sederhana. Bida hanya terpekur melihat Ayah melamar wanita bertahi lalat di atas bibir itu. Saat itu Bida melihat Ayah tersenyum lebih cerah. Seakan sinar bulan berpindah ke wajahnya yang legam. Namun pekara itu tak berlaku bagi Bida. Untuknya Bunda seperti perempuan berjubah hitam menunggangi sapu lidi yang ia lihat di televisi. Bunda kerap menghardik Bida – keras hingga telinganya berdengung. Memelototi Bida seperti hendak menelannya bulat-bulat. Bunda juga tak peduli jika Bida menangis.

Tak juga ia mengajak Bida keliling kota atau menemaninya belajar. Bunda seringmarah. Bukan hanya padanya tapi juga  pada Ayah. Bunda dan Ayah bersilang lidah saban malam. Tapi di lain waktu di antara mereka seperti tak pernah terjadi apaapa. Kerap bercanda terlebih ketika adik Husein hadir di tengah mereka. Ayah dan Bunda semakin bahagia. Tertawa riang ingga melebar rahang. Ternyata kehadiran Bunda tak mampu memadam rindu Bida akan Ibu. Bagi Bida rindu itu masih menggantung, bahkan terasa lebih rumit. Terkadang tangisnya kerap buncah dengan rasa berbeda.

Lebih perih. Tak ada lagi Ayah datang menenanginya. Menyuruhnya tidur dan memohon berjumpa Ibu di tanah lapang benderang. Tak ada lagi nasehat Ayah sambil membelai rambutnya. Atau memintanya mengirim berdoa untuk melepas idam. Ayah beda. Ia lebih cenderung bersama Husein, adik kecil periuh rumah. Bida juga tak lagi melihat Ayah terpekur lama di atas sajadah dengan wajah teduh. Sekarang kerap ia lihat selepas shalat Ayah bergegas pergi.

Tangannya tak lagi menengadah berdoa untuk Ibu. Dan Bida pun tak lagi mendengar bacaan yaasiin Ayah ketika malam Jumat tiba. “Ibu sudah di surga, ia telah syahid,” sahut Ayah ketika Bida bertanya tentang perubahan yang terjadi. Kala itu Bida hanya mampu terdiam saat mendengar ujaran  yah. Tapi ketika  malam pikirannya bergelayut. Jika memang Ibu sudah di surga kenapa dahulu Ayah begitu tekun berdoa untuk Ibu? Ingin ia mengucapkan hal itu. Tapi lidahnya terasa kelu. Ia takut Ayah marah dan menghardiknya. Sebab, pernah sekali Ayah menghardiknya ketika Bida tanpa sengaja menumpahkan susu ke tubuh Husein. Amarah yang membuat Bida ketakutan.  Maka kerinduan Bida seakan sempurna di saat bulan menutup tahun.

Ketika hujan tumpah dan tanah basah olehnya. Bida teringat Ibu di bulan yang sama saat mereka berpisah di pusaran air. “Di sini Bida bisa kirim doa untuk Ibu,” terngiang kembali ucapan Ayah ketika itu. Tapi entah kenapa kali ini Bida harus pergi dengan Halimah – tanpa ayah. Mengendarai sepeda menuju tanah lapang berumput dengan sebaran batu di atasnya. “Ayahmu kenapa tak ikut ziarah, Bida?” Bida hanya terdiam saat Halimah bertanya keheranan. Ingin rasanya ia bercerita banyak apa yang ia lihat beberapa hari silam. Ketika Ayah membungkus baju di dalam tas. Ketika Ayah dan Bunda sibuk berburu tiket, dan rencana mereka berlibur ke pulau seberang. Bida tetap menunggu Ayah di kerumunan orang-orang yang terisak-isak sambil lirih membaca yaasiin.

Diedarkan matanya mencari sosok Ayah atau Bunda yang mungkin akan hadir mendoakan Ibu. Nihil. Mereka tak datang hingga matahari meninggi. Bida ingin menangis lebih keras. Mungkin dengan suara berbeda sambil memeluk Ibu, lebih erat hingga ke dasar lautan.

 * Ferhat Muchtar, adalah anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh dan aktif ngeblog di www.ferhatt.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved