Catatan Kecil Dari Piasan Seni 2014

“DOM itu apa?” tanya seorang siswi kepada kami. Lantas, salah satu di antara kami menjawab

Karya Reza Mustafa dan Idrus Bin Harun

“DOM itu apa?” tanya seorang siswi kepada kami. Lantas, salah satu di antara kami menjawab. Siswi itu pun mendengar khidmat. Kemudian, dengan antusias dia menatap ke sebuah desain baju kaos bergambar KTP Merah Putih, yang di sudut atas gambarnya bertuliskan “Artefak Darurat Militer”. Itu terjadi di stand Komunitas Kanot Bu, Sabtu (30/8).

Saat mereka, serombongan pelajar SMP Sukma Bangsa Lhokseumawe, masuk melihat-lihat sambil menyempatkan diri mewawancarai kami;meminta penjelasan tentang benda-benda yang dipajang dalam stand dan sebagian besar mengusung tema konflik bersenjata RI-GAM belasan tahun silam; ada semacam kegetiran yang tak berperi.

Semua hal itu terbuka pada Piasan Seni 2014, di Taman Sari Banda Aceh. Sejak tiga tahun terakhir, Piasan Seni telah menjadi agenda tahunan Pemerintah Kota sebagai bentuk perhatian terhadap perkembangan seni budaya di Banda Aceh. Piasan Seni, dengan rangkaian acara seperti pameran seni, lomba, dan performance art, adalah ruang bagi kantong-kantong komunitas seni se-Banda Aceh untuk menunjukkan perkembangan dan kemajuan masing-masing.

“Seni adalah medan tempur simbolik,” tulis Prof. Joost Smiers dalam buku Art Under Pressure. Pada Piasan Seni, ungkapan-ungkapan yang metaforis, simbolis atau vulgar saling berebut ruang apresiasi dalam pelbagai bentuk karya seni.  Namun demikian, tidak semua seni sampai pada taraf ungkapan seperti kami sebutkan di atas atau gagal, jika hanya berangkat dari landasan seni untuk seni.

Seni untuk seni adalah istilah yang menolak seni dijadikan sebagai media penyampaian ekspresi, penolakan, dan dukungan seniman pada sesuatu hal yang berkembang dalam masyarakat. Dalam perkembangannya, Piasan Seni yang beberapa pekan lalu usai diselenggarakan, adalah tempat di mana pelaku seni di Banda Aceh dapat menentukan arah berkesenian mereka.

Tema Satu Dalam Keberagaman untuk perhelatan Piasan Seni 2014 adalah tepat. Suasana ini dapat dilihat muncul pada isi stand setiap komunitas yang ikut. Di mana nafas kesenian berhembus mengepulkan udara yang plural dalam banyak ungkapan.

Berangkat dari pertanyaan siswi, “DOM itu apa?”, maka komunitas berbasis seni untuk rakyat lebih menarik untuk dibicarakan. Apa pasal? Itu tidak lain karena kami sepakat bahwa pembelajaran tidak hanya terbatas pada ruang-ruang sekolah dan universitas. Pada titik ini, sebuah karya seni hendaknya lazim diproses melalui perenungan, pengendapan dan dialog intens antara `aku’ dan `saya’ tentang apa yang akan dihasilkan dan pesan apa yang ingin disampaikan.

Di stand Apotek Wareuna misalnya, karya rupa Iswadi Basri yang berjudul ‘Di Tepi Zaman’ adalah wujud dari sejarah Aceh yang diimajinasikannya mendekati puisi. Melalui sapuan-sapuan warna dan goresan kuasnya yang khas, lukisan ini memperlihatkan guci retak dan bongkahan tembok yang ‘terdampar’ dalampaya (rawa-rawa atau orang-orang Paru di Pidie Jaya menyebutnya maka). Dengan kekhasan warnanya pula terasa adaatmosfer amat sunyi dari objek-objek yang terlukiskan.Jauh dan tak terjamah walau pun di belakangnya Pinto Khop berdiri kokoh.Monumental.Seperti ingin mengukuhkan diri bahwa warisan masalalu tak akan roboh meski zaman berganti.

Dengan karya seni rupanya Iswadi mengungkapkan betapa masa lalu jauh lebih kokoh daripada zaman kita. Kekinian Aceh seperti tembok dan guci, walaupun terlihat kuat namun tak ada jaminan untuk tidak retak. Iswadi sadar benar atas apa yang diungkapkan.

Di pihak lain, lunturnya narasi-narasipada masa konflik memang bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab seniman. Namun jelas, narasi-narasi yang gampang rapuh ituakan lebih bernilai  seberapa pun pahitnya  ketikadiserap oleh imajinasi seniman. Sebab seniman sebagai subjek dalam hal ini, tidak sehari dua dalam mengikat narasi-narasi tersebut dari himpunan yang tercerai berai. Meminjam istilah seorang kurator lukisan, Mikke Susanto, proses kreatif seorang seniman dalam menghasilkan sebuah karya seperti membangun monumen sejarah. Lebih lugas, Mikke menyebutnya, sebagai monumentasi sejarah yang dalam prosesnya adalah pekerjaan artistik.

Monumen yang dimaksud terbangun melalui sumbersejarah maupun pengalaman orang lain. Riwayat kelam masa lalu seperti apa yang pernah dialami sebagian besar masyarakat Aceh pada masa DOM dan Darurat Militer yang kian luntur dari hari ke hari adalah akibat ketidakberhasilan kita dalam ‘me-monumentasi sejarah’ secara kolektif, terutama lemah betul di kalangan seniman.

Di Piasan Seni, kami sepakat seniman adalah sebaik-baik perawi atas matan-matan sejarah yang ada. Tak peduli tentang sejarah gemilangnya masa silam yang kerap berefek pada sifat jumawa berlebihan atau bahkan sebaliknya. Jika tidak, mungkin dua puluh tahun lagi akan ada yang bertanya, “Tsunami itu apa?”

* Reza Mustafa dan Idrus bin Harun, keduanya mugee bajee Geulanceng dan bergiat di Komunitas Kanot Bu.

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help