Opini
Faktor Risiko Penyakit Jantung pada Anak Muda
Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Don’t Miss a Beat” dengan tujuan menekankan pentingnya tidak mengabaikan detak jantung
Elidayani, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran USK
JANTUNG merupakan organ yang vital, penting, dan esensial. Fungsinya memengaruhi hampir seluruh organ tubuh yang lain. Pada setiap 29 September diperingati sebagai Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Don’t Miss a Beat” dengan tujuan menekankan pentingnya tidak mengabaikan detak jantung serta mengambil tindakan proaktif untuk menjaga kesehatan jantung. Tema ini juga berfokus pada pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan rutin, serta meningkatkan kesadaran tentang penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Selama dua dekade terakhir, penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi, termasuk di Indonesia.
Kesehatan jantung merupakan aspek penting dalam menjaga kualitas hidup. Akan tetapi, penyakit jantung atau kardiovaskular, yang meliputi gangguan pada jantung dan pembuluh darah, masih menjadi momok menakutkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, penyakit kardiovaskular merenggut 17,9 juta nyawa setiap tahun. Angka kematian tersebut bahkan diperkirakan akan meningkat menjadi 20,5 juta pada 2020 dan 24,2 juta pada 2030.
Generasi milenial dan Gen Z dikenal sebagai generasi digital. Mereka tumbuh dengan berbagai kemudahan teknologi yang mempercepat akses informasi dan hiburan, tetapi di saat yang sama terpapar pada budaya konsumsi instan. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, minuman manis dalam kemasan, begadang, kurang tidur, stres akibat pekerjaan maupun media sosial, serta rendahnya aktivitas fisik karena lebih banyak duduk di depan gawai, menjadi faktor risiko nyata terhadap kesehatan jantung. Meski tampak sehat di luar, generasi muda sering kali tidak menyadari bahwa “bom waktu” sedang berdetak di dalam tubuh mereka.
Dalam pandangan penulis, kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kesehatan jantung masih rendah. Banyak yang beranggapan bahwa penyakit jantung baru akan muncul ketika usia sudah tua. Padahal, gaya hidup tidak sehat yang dijalani sejak remaja atau awal dewasa akan menumpuk risikonya hingga memunculkan penyakit pada usia yang lebih muda. Hal ini sejalan dengan konsep determinan sosial kesehatan, di mana perilaku, lingkungan, dan pola hidup menjadi faktor dominan yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Di era digital, milenial dan Gen Z sebenarnya memiliki akses informasi kesehatan yang jauh lebih mudah dibanding generasi sebelumnya. Masyarakat dapat lebih cepat mengambil langkah awal ketika mengalami gejala tertentu sebelum berkonsultasi langsung dengan tenaga medis. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kesadaran untuk memilah informasi yang benar dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Data WHO tahun 2022 menyebutkan bahwa 19,8 juta kematian di seluruh dunia disebabkan oleh penyakit jantung, setara dengan 32 persen dari total kematian global. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan fakta mengejutkan: kelompok usia 25–34 tahun menjadi yang terbanyak menderita penyakit jantung, mencapai 140.206 orang, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 15–24 tahun dengan 139.891 orang. Fenomena ini memprihatinkan karena penyakit jantung yang dulu identik dengan usia tua kini justru mengancam usia produktif. Di Aceh, misalnya, kasus Penyakit Jantung Koroner (PJK) tergolong sangat tinggi. Provinsi ini bahkan termasuk dalam 10 besar wilayah di Indonesia dengan prevalensi PJK tertinggi, yakni mencapai 1,6 % .
Selain faktor risiko umum seperti kurangnya aktivitas fisik, stres, dan kebiasaan merokok, budaya kuliner juga memiliki pengaruh signifikan terhadap tingginya kasus penyakit jantung di Aceh. Masakan khas daerah ini terkenal kaya rempah dan cita rasa, banyak menggunakan santan kental pada hidangan ikonik seperti kuah beulangong dan kari kambing. Walaupun lezat dan menjadi bagian dari tradisi, hidangan tersebut cenderung mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan tanpa diimbangi pola hidup sehat, dampaknya bisa memicu penumpukan plak pada pembuluh darah, yang merupakan penyebab utama penyakit jantung.
Edukasi dan pencegahan
Penulis berpendapat bahwa urgensi edukasi kesehatan jantung bagi generasi milenial dan Gen Z bukan hanya isu medis, melainkan juga isu sosial dan ekonomi. Penyakit jantung yang menyerang usia produktif berpotensi menurunkan produktivitas, meningkatkan beban biaya kesehatan, sekaligus berdampak pada pembangunan nasional. Karena itu, investasi pada edukasi dan pencegahan jauh lebih bijak dibanding menanggung biaya pengobatan yang mahal di kemudian hari. Sudah saatnya kita bergeser dari paradigma “mengobati” menjadi “mencegah.” Dengan edukasi yang tepat, kita tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga membantu generasi muda memiliki masa depan yang lebih sehat dan produktif.
Strategi promotif dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Media sosial dan platform digital bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kampanye kesehatan dalam bentuk konten kreatif, mulai dari video pendek, infografis, hingga podcast yang membahas mitos seputar kolesterol. Kehadiran influencer yang mempromosikan gaya hidup sehat juga dapat menjadi role model efektif bagi generasi muda. Lingkungan pendidikan, baik sekolah maupun kampus, dapat mengintegrasikan materi kesehatan jantung dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, pengembangan aplikasi berbasis gamifikasi untuk melacak aktivitas fisik, pola makan, atau tingkat stres juga dapat menjadi inovasi menarik.
Tidak kalah penting, terbentuknya komunitas—baik online maupun offline—yang fokus pada isu kesehatan jantung akan memberi ruang berbagi pengalaman dan motivasi. Pemerintah bersama sektor swasta pun bisa meluncurkan gerakan nasional pencegahan penyakit jantung, melalui kegiatan olahraga bersama, penyediaan ruang publik sehat, hingga kampanye anti-rokok.
Upaya preventif juga wajib ditanamkan sejak dini. Masyarakat perlu dibiasakan menjalani pola makan sehat dengan mengurangi konsumsi garam, gula, serta lemak jenuh, dan memperbanyak asupan buah, sayur, biji-bijian, ikan, serta kacang-kacangan. Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, seperti jalan cepat, bersepeda, jogging, atau senam, sangat dianjurkan. Kebiasaan merokok harus dihentikan karena terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung hingga tiga kali lipat, begitu pula konsumsi alkohol berlebihan yang dapat merusak jantung. Mengendalikan berat badan, mengelola stres dengan relaksasi, meditasi, olahraga, maupun aktivitas sosial positif, juga merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan jantung.
Di tengah gaya hidup serba cepat, kita perlu selalu mengingat bahwa jantung adalah mesin paling berharga yang Tuhan ciptakan. Rawatlah ia dengan baik, sebab tidak ada suku cadang yang bisa menggantikannya.
| Masa Depan Pertanian Aceh Pascabanjir |
|
|---|
| Transformasi Digital dan Stabilitas Makroekonomi Mesin Penggerak Pertumbuhan Ekonomi |
|
|---|
| Polri sebagai Penopang Harapan di Tengah Bencana |
|
|---|
| Belajar Sabar dari Aceh yang Terluka |
|
|---|
| Saat Pemimpin tak Hadir di Tengah Bencana: Dilema Etika Antara Hak Personal & Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Elidayani.jpg)