Citizen Reporter
Euforia Malam Jumat
SUDAH hampir tiga bulan saya berada di Libya, negeri yang penuh tanda tanya ini
OLEH RIYADI S HARUN, alumnus MAS Ruhul Islam Anak Bangsa, Aceh Besar, melaporkan dari Tripoli, Libya
SUDAH hampir tiga bulan saya berada di Libya, negeri yang penuh tanda tanya ini. Libya sekarang baru saja memasuki musim semi. Seharusnya saya merasa sangat nyaman. Tapi keadaan di Libya saat ini tidak seperti di Tanah Air, khususnya di Aceh setelah perjanjian damai tahun 2005 lalu.
Hal ini disebabkan belum adanya pihak yang benar-benar bisa mengatur stabilitas negara dan pemerintahan yang baik di Libya, sehingga sampai saat ini masih ada beberapa kelompok yang ingin merebut kekuasaan secara otoriter dan kami (mahasiswa asing) sangat dilarang untuk membicarakan hal-hal yang berbau politik di sini.
Akan tetapi, saya heran melihat perilaku masyarakatnya yang seakan mereka hidup di negara paling aman. Inilah yang membuat saya menggelari Libya ini dengan negeri penuh tanda tanya.
Suara letusan senjata api sudah tak asing lagi bagi masyarakat di sini, karena terkadang tembakan yang dilepaskan bukan untuk menandakan perang dimulai, tetapi hanya untuk sekadar meluapkan kegembiraan, sekadar euforia. Aneh bukan? Terkadang kondisi seperti ini saya manfaatkan untuk sekadar bernostalgia dengan apa yang dulu pernah saya rasakan semasa konflik Aceh berkecamuk.
Satu lagi, pemandangan Triploi yang sebelumnya tak pernah saya lihat di Aceh. Bahwa ketika malam hari, langit Tripoli selalu dihiasi dengan berbagai corak warna mercon atau petasan yang sengaja dibakar oleh warga. Namun, karena hari libur nasional di sini pada hari Jumat dan Sabtu, sehingga setiap Kamis malam atau malam Jumat kami sering dihibur oleh indahnya pecahan mercon yang lebih meriah daripada malam-malam yang lain.
Pernah sekali waktu saya tanyakan hal ini kepada masyarakat di sini. Menurut mereka, membakar mercon adalah salah satu cara mereka untuk meluapkan rasa gembira dan biasanya setiap Kamis malam selalu ada keluarga yang melangsungkan haflatuzzawaji (pesta pernikahan). Maka, tidak lengkap rasanya kalau merayakan pesta pernikahan tanpa dimeriahkan oleh pancaran warna-warni mercon di udara Tripoli.
Khusus pada malam Jumat, isyarat suara mercon dan indahnya warna yang dihasilkan menandakan bahwa di tempat tersebut sedang berlangsung sebuah pesta.
Suatu kebiasaan yang mungkin membuat kami, khususnya mahasiswa asing, agak sedikit heran dengan perilaku masyarakat di sini. Tapi terkadang juga membuat kami salut kepada mereka dan konsistensi mereka menjaga tradisi. Inilah wajah lain Libya, tempat anak-anak ideologis Dr Hasan Tiro pernah dilatih semikomando.
Soalnya, dengan kondisi pemerintahan yang serbapas-pasan mereka masih bisa meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Sebagai bandingan, beberapa hari lalu ketika Indonesia diguncang dengan turunnya nilai tukar rupiah, namun yang terjadi di Libya malah sebaliknya. Terkadang saya merasa hidup di negara yang penuh tanda tanya seperti ini jauh lebih sejahtera daripada negeri yang sudah lama merdeka, tapi belum mampu membuat masyarakatnya merasa “merdeka”.
* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/riyadi-s-harun_20150430_103024.jpg)