Opini
Air dan Dunia yang Berubah
DALAM perkembangan termutakhir, air telah mengalami perlawanan di darat dan dilaut. Di kedua sumbu kehidupan manusia
Oleh Hanif Sofyan
DALAM perkembangan termutakhir, air telah mengalami perlawanan di darat dan dilaut. Di kedua sumbu kehidupan manusia, air sama-sama telah tercemar, terdegradasi dan kehilangan fungsinya sebagai penyambung hidup manusia. Dan sejak lama pula Alquran (QS. Ar-Rum: 41), menggarisbawahi soal kerusakan yang kian parah “sesungguhya telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia”.
Dari lembah Narmada nun jauh di India, Arundati Roy seorang perempuan pemikir yang juga arsitek dalam bukunya The Cost of Living melakukan ‘perlawanan’ yang disebutnya bukan sebagai bentuk anti-kota dan anti-pembangunan, namun pembangunan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat banyak yang ditentangnya.
Kegusarannya menjawab suara hati lebih dari 600 juta orang India tanpa sanitasi dasar yang layak. Walaupun terdapat pembangunan 3.300 bendungan, namun 200 juta orang di India sedang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan air minum. Arundhati Roy mengkalkulasi dampak pembangunan dam besar India yang telah membuat 50 juta orang menjadi tunawisma karena kehilangan rumah. Pembangunan bendungan itu makan banyak ongkos dan menjadi racun bagi lingkungan (Judy, 8/2/2010).
Realitas ini tentu saja kontradiktif dengan impian banyak orang menjadikan air sebagai sumber kehidupan baru. Ketika air justru tidak memberikan kesejahteraan sebagai sumber pangan dan sumber energi. Karena persoalan ketidakberesannya berkutat pada niat dasar pengelola pembangunan yang salah kaprah, diliputi kejahatan di dalamnya
Malapetaka lingkungan
Jika World Water Day, yang digagas United Nation Water (UN Water) pada setiap 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia dan 22 April sebagai Hari Lingkungan Hidup sebagaimana diperingati belum lama ini, adalah sebuah seremoni, setidaknya momentum peringatan itu mestilah kita jadikan sebuah ruang kontemplasi-perenungan.
Memang sebagian besar permukaan bumi diisi oleh air (sekitar 70%), namun tidak semua air yang terdapat di bumi ini adalah air yang dapat dikonsumsi. Sekitar 97% dari ketersediaan air di muka bumi adalah air asin, dan hanya 2,5% saja yang merupakan air tawar (fresh water). Menurut beberapa sumber dari 2,5% itu hanya sekitar 0.4% saja yang dapat dikonsumsi oleh penduduk di muka bumi, tentu ini sangat memprihatinkan karena diperparah dengan pola hidup kita yang amburadul. Pembangunan tidak ramah lingkungan, kebiasaan boros air, dan perubahan area tangkapan air menjadi permukiman. (Darmawan, 1/2015)
Bahkan laut sebagai pemenuh sumber pangan dan energi yang dianggap menjadi ekosistem yang sedikit jauh dari jangkauan manusia, tidak lagi menjadi bagian ekosistem yang aman dari limbah. Bahkan fakta yang cukup dramatis, samudera Pasifik menyimpan Great Pacific Garbage Patch --”pulau sampah” terbesar di bumi. Di ujung dunia yang lain, para peneliti Badan Nasional Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) pada 1988 berbasis data temuan puing konsentrasi tinggi akibat arus samudera di Alaska serta ekstrapolasi di Laut Jepang telah memprediksi dan berhipotesis bahwa “gunung sampah” akan terjadi di bagian lain di Pasifik.
Pada 1997, Kapten Charles Moore, seorang pelaut menjadi orang pertama di bumi yang menemukan tempat sampah plastik terbesar di dunia tersebut di bagian utara Samudera Pasifik terletak kira-kira antara 135°-155° W dan 35°-42° N. Dan sebagaimana dirilis Washington State University Today (Sabtu, 10/4/2010), diperkirakan ada sekitar 100 juta ton plastik terjebak dalam pusaran arus laut di The Great Pacific Garbage Patch, “pulau sampah”. Sampah meluas sampai ke sebuah wilayah yang sangat luas, diperkiraan berukuran seluas negara bagian Texas bahkan bisa seluas dua kali daratan Amerika, namun ukuran yang tepat tidak diketahui.
Faktanya sepuluh persen dari 200 milyar pon plastik diproduksi secara global berakhir dilaut kita, sekitar 46.000 potong sampah platik mengambang di setiap mil laut kita. Porsinya 80% berasal dari daratan dan 20% berasal dari kapal-kapal. Sedangkan 1.700 mil massa sampah plastik berada di tengah pasifik Utara dan membunuh tak kurang dari 100.000 mamalia laut, kura-kura laut, anjing laut dan burung setiap tahunnya.
Bahkan serpihan-serpihan plastik yang mengambang seperti yang biasa dijumpai di Great Pacific Garbage Patch, sebagai mikroplastik --partikel dari benda lebih besar yang rapuh karena sinar matahari dan terkoyak atau pecah jadi kepingan oleh gelombang-- kini telah menjadi masalah bagi Great Lakes, kawasan perairan air tawar terbesar di dunia. Fakta ini terungkap dalam pertemuan komunitas ilmiah terkemuka, National Meeting & Exposition of the American Chemical Society (ACS).
“Produksi massal plastik yang dibarengi oleh pengelolaan limbah yang tidak layak telah membuat serpihan plastik menjadi polutan yang paling banyak memenuhi pantai dan lautan di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan Great Lakes,” kata Lorena M Rios Mendoza, juru bicara tim penelitian tersebut (Phys.org, 4/2013). Menurut hasil studi berbasis data ekspedisi ke lima pilinan subtropis, pesisir Australia, Teluk Benggala, dan Laut Mediterania, diperkirakan ada 5,25 triliun partikel sampah plastik. Fantastik!
Pengelolaan ZEE
Bagi Indonesia, laut memberi kehidupan dengan 17.508 pulau, bergaris pantai 81.000 Km, dengan luas teritorial perairan 3,1 juta Km persegi. Plus hak pengelolaan dan pemanfaatan zona ekonomi eksklusif (ZEE) hingga 12-200 mil dari garis pantai titik terluar kepulauan Indonesia seluas 2,7 juta Km persegi. Kekayaan hayati dan nonhayati dari laut saja mencakup 5,8 juta Km persegi, dengan 6,1 juta ton ikan yang dapat ditangkap secara lestari dengan komposisi hanya 80% yang dapat diambil berdasarkan aturan Code of Conduct for Responsibility Fisheries dari Food And Agricultural Organization (FAO), begitupun capaianya baru 60%, sebagiannya bahkan telah manjadi areal tangkap lebih (overfishing).
Dulu, ketika air minum dalam kemasan (AMDK) pertama kali muncul, banyak orang skeptis. Air dijual mahal dalam kemasan, namun hingga dekade terakhir AMDK sebagai kebutuhan dan gaya hidup. Sampai akhir 2014, kebutuhan AMDK diprediksi naik menjadi 24 miliar liter atau naik 18,2% jika dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu sebanyak 20,3 miliar liter. Tahun ini sebuah perusahaan besar Aqua menargetkan produksi 10 miliar liter AMDK yang bersumber dari 17 pabriknya. Setiap tahun perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi 10% (Kontan, 20/8/2014).
Permintaan fantastik ini, memancing privatisasi air yang menggila, apalagi didukung oleh UU No.7 Tahun 2004 tentang Privatisasi Air yang makin meledakkan industri berbasis air minum. Padahal air sebagaimana amanat UU adalah “kekayaan”, sumber kehidupan yang harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Air mengalami degradasi yang massif dalam dekade belakangan, ketika industri dijadikan sebagai alasan orang mempercepat pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain mendorong tingkat polusi dengan polutan yang meningkat cepat.