Pojok Humam Hamid
Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh
Ekosistem Leuser bukan sekadar bentang alam konservasi. Ia adalah infrastruktur alami yang menopang seluruh arsitektur kehidupan di Aceh bagian hilir
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
Ada sebuah ironi yang berulang dalam sejarah pembangunan di banyak wilayah dunia: manusia selalu percaya bahwa mereka dapat mengendalikan alam lebih cepat daripada alam mengoreksi kesalahan mereka.
Aceh hari ini sedang berdiri tepat di dalam ironi itu.
Baru saja kita memperingati Hari Lingkungan Hidup seolah-olah ia adalah ritual kesadaran kolektif. Namun sejarah tidak bekerja dengan simbol. Ia bekerja dengan konsekuensi.
Dan konsekuensi ekologis hampir selalu datang terlambat untuk dicegah, tetapi cukup cepat untuk menghukum.
Baca juga: Nasib Mahasiswa Rantau di Tengah Inflasi yang Merobek Kantong
Di jantung persoalan Aceh terdapat satu sistem ekologis yang tidak pernah benar-benar dipahami secara serius dalam logika pembangunan modern: Ekosistem Leuser.
Ekosistem Leuser bukan sekadar bentang alam konservasi. Ia adalah infrastruktur alami yang menopang seluruh arsitektur kehidupan di Aceh bagian hilir, termasuk wilayah seperti Aceh Tamiang.
Dalam istilah ekonomi politik klasik, Leuser adalah “modal alam” yang tidak bisa digantikan oleh investasi apa pun.
Namun justru karena ia tidak memiliki harga pasar yang jelas, ia sering kali diperlakukan seolah-olah tidak memiliki nilai politik yang setara dengan sumber daya tambang di bawahnya.
Baca juga: Serangan Udara Israel Guncang Beirut, Delapan Tewas dan Belasan Luka
Di sinilah kontradiksi utama pembangunan Aceh muncul: apa yang terlihat bernilai di bawah tanah sering kali mengaburkan apa yang secara sistemik tak tergantikan di atas permukaan.
Kita berbicara tentang aktivitas pertambangan di wilayah hulu, termasuk yang berada dalam radar publik seperti PT Gayo Mineral Resources di Gayo Lues dan PT Linge Mineral Resources di Aceh Tengah.
Perdebatan biasanya dimulai dari pertanyaan legalistik: apakah izin itu sah, apakah prosedurnya terpenuhi, apakah batas wilayahnya jelas.
Tetapi sejarah kebijakan publik menunjukkan bahwa pertanyaan yang benar jarang sekali bersifat administratif pada tahap awal.
Konsekuensi Jangka Panjang
Pertanyaan yang lebih penting selalu bersifat struktural: apa konsekuensi jangka panjang dari membuka akses manusia ke sistem ekologis yang selama ribuan tahun stabil karena keterisolasiannya?
Di titik ini, kita harus jujur mengatakan satu hal yang tidak nyaman: eksplorasi bukanlah aktivitas netral. Ia adalah fase pertama dari transformasi ruang.
Baca juga: Tarif Fantastis di Selat Hormuz, Iran Tarik Biaya Jutaan Dolar untuk Kapal Asing
pojok humam hamid
Humam Hamid
Prof Humam Hamid
tambang
LEUSER
Aceh
Meaningful
Ekosistem Leuser
Hari Lingkungan Hidup
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Universitas-Syiah-Kuala-USK-Prof-Humam-Hamid-6-6.jpg)