Menjaga Rumoh Aceh Agar tak Tinggal Nama

MINIATUR rumah tradisional Aceh Singkil bertengger menyambut kedatangan peserta workshop yang dihelat Dinas

Menjaga Rumoh Aceh Agar tak Tinggal Nama
Miniatur rumah adat Aceh Singkil yang dipajang pada Workshop Inventarisasi dan Dokumentasi Arsitektur Rumah Tradisional Etnis-Etnis di Aceh di Hotel Kuala Radja, Banda Aceh, Selasa (5-6/5). SERAMBI/ NURUL HAYATI 

MINIATUR rumah tradisional Aceh Singkil bertengger menyambut kedatangan peserta workshop yang dihelat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Warna kuning dan merah mendominasi replika rumah adat tempat ulama mahsyur, Abdur Rauf As-Singkili. Ditingkap putih dan hijau yang menyembul di sana-sini, menjadi warna ‘wajib’.

Bukan tanpa alasan karena setiap warna mewakili kelompok masyarakat yang berdiam di dalamnya. Pembagian fungsi ruangan terang dipengaruhi agama dan budaya yang hidup di dalamnya. Ornamen berupa ukiran pucuk rebung, bunga kangkung, hingga temali menyimbolkan 16 raja tempo dulu yang berkuasa. Terbuat dari kayu kapur yang konon hanya tumbuh di kabupaten itu, rumah Singkil mengukuhkan identitas salah satu etnis yang berdiam di provinsi paling barat nusantara.

Hari itu, Selasa (5/5), di Hotel Kuala Radja, Banda Aceh sebanyak 40 pemangku adat, sejarawan, arsitek, dan tukang bangunan yang datang dari 23 kabupaten/kota dan mewakili delapan etnis di Aceh berkumpul mengulik arsitektur tradisi warisan leluhur. Selama dua hari workshop tersebut mengupas orisinalitas hingga filosofi yang terkandung pada setiap rumah tradisional. Disbudpar selaku pihak yang ditunjuk pemerintah sebagai penjaga dan pelestari nilai-nilai budaya mencoba menginventarisir dan mendokumentasikannya sehingga keberadaan rumah adat tidak tergerus bersama zaman.

“Bagaimana nilai tradisi dan adat bisa dilestarikan dengan cara didokumentasikan dan disosialisasikan. Harapannya semoga nuansa tradisi bisa diaplikasikan pada bangunan modern,” papar Kadisbudpar Aceh, Reza Fahlevi.

Aceh yang menjadi daerah modal negeri ini didiami oleh delapan etnis yaitu: Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Singkil, Kluet, Aneuk Jame, dan Simeuleu. Setiap etnis mempunyai budaya yang menunjukkan identitas masing-masing. Tak terkecuali rumah tradisional yang dimiliki oleh masing-masing etnis. Aceh yang menjadi etnis mayoritas yang berdiam di sepanjang pesisir pantai timur-utara provinsi tersebut pun tak luput dari pengaruh modernisasi. Gaya minimalis yang diterapkan pada rumah pribadi hingga perkantoran menjadi arsitektur yang paling digemari. Sentuhan modern pada bangunan mewakili gaya hidup masyarakat urban yang praktis dan dinamis.

Tak heran jika lantas rumoh Aceh menjadi pemandangan langka sekarang-sekarang ini. Adalah Gampong Lubuk, Aceh Besar, yang disebut-sebut masih mempertahankan rumah tradisonal khas Aceh. Selebihnya keberadaan rumoh Aceh ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Miris. Bahkan gedung-gedung pemerintahan masih mengadopsi gaya kolonial yang sekian lama bercokol di Aceh. Tak berlebihan rasanya kalau kemudian kita lebih mudah menyusuri jejak kolonial yang tertinggal bersama bangunan-bangunan tua daripada napak tilas rumah warisan endatu.

Padahal menurut pakar arsitektur nasional berdarah Aceh, Dr Ir Kamal A Arif MEng rumoh Aceh bukan sekedar tempat hunian tapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Di dalamnya kita bisa melihat budaya, pola hidup, dan nilai-nilai yang diyakini oleh warganya. Ekspresi keyakinan diwujudkan dengan pembangunan rumah yang memanjang menghadap kiblat, seuramo, serta keberadaan guci sebagai simbol penyucian diri (thaharah). Sementara adaptasi dengan alam terlihat dari penggunaan elemen yang kesemuanya terbuat dari kayu pilihan sebagai penyangga, dinding dari papan, atap rumbia dengan lantai terbuat dari bilah bambu. Bahkan untuk menggabungkan kesemua elemen, tak digunakan paku melainkan pasak atau tali pengikat dari rotan. Tak heran rumoh Aceh bisa berumur hingga 200 tahun dan dikenal tahan gempa. Sementara unsur budaya membersit dalam penataan ruang dan ornamen berupa ukiran pada fasad dan ventilasi.

Keberadaan rumoh Aceh menampilkan wajah lain lewat hukum adat yang dihidupkan pada masa Putroe Phang (istri Sultan Iskandar Muda) abad ke-17. Di mana sepeninggal suami, rumoh Aceh menjadi milik istri dan anak-anak perempuan sehingga tidak masuk dalam hukum waris (faraidh). Qanun ini melindungi kehidupan seorang janda, itulah mengapa istri dalam Bahasa Aceh disebut peurumoh (yang punya rumah). Ya, setiap etnis mempunyai jati diri dan seyogianya identitas itu semakin kukuh dengan keberadaan rumah tradisional. Karakter keacehan itu memburat dalam hadih maja: Ie, ie bit, bu pih bu bit/ Peunajoh timphan, piasan rapa-i/ Meunoye kon ie, leuhob, meunyoe kon droe, gob. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved