Senin, 11 Mei 2026

Citizen Reporter

Ziarah Ulama Aceh ke Makam Tok Pasai

ISLAM masuk ke Pattani, Thailand, pada tahun 1400 Masehi oleh ulama besar Yaman

Tayang:
Editor: bakri

OLEH H AKMAL HANIF Lc, Pendamping Jamaah Studi Banding Ulama Aceh ke Pattani, Thailand Selatan

ISLAM masuk ke Pattani, Thailand, pada tahun 1400 Masehi oleh ulama besar Yaman. Ulama tersebut datang dari Yaman menuju Aceh dan pernah tinggal di Aceh selama dua tahun.

Setelah dari Aceh, beliau hijrah ke Pattani, sehingga orang-orang Pattani memanggilnya Tok Pasai. Pasai adalah Kerajaan Samudera Pase, lokasinya di wilayah Aceh Utara saat ini.

Setelah 400 tahun Islam disebarkan di Pattani, barulah Raja Pattani memeluk agama Islam. Sekarang masih ada kuburan Tok Pasai di Pattani. Alhamdulillah, rombongan kami sempat ziarah ke makam Tok Pasai. Kami tergabung dalam rombongan Muhibbah Komparatif Ulama Kabupaten Bireuen, ke Pattani, Thailand dan Malaysia.

Kami memulai perjalanan dari Medan ke Pulau Pinang, Malaysia pada hari Selasa lalu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan via darat ke Pattani, Thailand. Sampai di perbatasan Thailand, kami mengalami kendala dengan pihak imigrasi Thailand karena salah satu jamaah kami bernama Muhammad di paspor beliau. Semua kita maklum, nama Muhammad dicurigai karena sebelumnya pernah ada orang yang bernama Muhammad ditangkap di tempat ini karena menjual senjata.

Tapi kami bisa melanjutkan perjalanan berkat bantuan seorang tentara yang memang ditugaskan menunggu kami di perbatasan hingga kami bisa melanjutkan perjalanan memasuki Negara Thailand.

Sesampai di Pattani, kami merasakan jamuan yang luar biasa. Kami disambut dengan selawat Badar dengan hangat. Kami dijamu dengan makanan yang sangat lezat dan setelah makan kami disuguhi buah-buahan segar seperti durian Thailand yang sangat nikmat.

Di Pattani kami berkunjung ke pondok pesantren. Semua penghuninya menggunakan jubah putih dan sorban. Di sini banyak pondok pesantren dan ada tempat khusus untuk wanita.

Wanita muslim di Pattani tidak ada yang buka jilbab dan tidak ada pasangan bukan muhrim yang berboncengan di atas sepeda motor, seperti yang kini diberlakukan bupati di Aceh Utara.

Wanita di pondok pesantren Pattani tidak bisa bertemu secara bebas dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Wanita di luar pondok pesantren juga berpakaian dengan sangat sopan dan sangat menjaga batasan komunikasi dengan laki-laki.

Ada satu kisah yang mengharukan saat kami di Pattani. Ada seorang intelijen Thailand yang ditugaskan untuk mengintai kegiatan Majelis Taklim Tablig di Provinsi Yala. Tapi Allah Swt memberikan ilham kepada dia dan belakangan dia masuk Islam. Setelah menjadi muslim, intel ini justru banyak membantu kegiatan keagamaan di Pattani. Baru-baru ini dia diberikan rezeki oleh Allah yaitu kenaikan pangkat menjadi jenderal.

Selama di Pattani, kami dikawal ketat oleh beberapa tentara. Mereka juga tergabung dalam anggota majelis taklim. Alhamdulillah, berkat dengan adanya tentara ini, kami bebas mau pergi ke mana saja selama di Thailand Selatan tanpa adanya gangguan, mengingat daerah ini masih dalam keadaan darurat militer dan selalu ada pemeriksaan di jalan di seluruh Thailand Selatan.

Kami akan terus dikawal oleh para tentara ini sampai kami pulang ke Tanah Air, meskipun sebagian besar rombongan kami terdiri atas ulama.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved