Senin, 8 Juni 2026

Opini

Melawan Kemiskinan dan Kebodohan

PUASA di bulan Ramadhan di negeri kita zaman ini jauh lebih ringan dibandingkan puasa di bulan Ramadhan pada zaman Nabi

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Jamaluddin

PUASA di bulan Ramadhan di negeri kita zaman ini jauh lebih ringan dibandingkan puasa di bulan Ramadhan pada zaman Nabi saw dan juga zaman sahabat Nabi.

Betapa tidak, baru sebulan kewajiban puasa diturunkan oleh Allah, kaum muslimin sudah menghadapi perang badar. Sebanyak 315 orang Muslim ambil bagian berjihad melawan pasukan Quraisy yang berkekuatan 1.000 orang. Perang lainnya, yaitu Perang Khandaq, Fathu Mekkah, dan Perang Tabuk juga terjadi di bulan Ramadhan.

Begitu pula pada masa sahabat, perang Qadisiyah melawan pasukan jenderal Persia, perang al-Buwaib, pembebaskan Andalusia, pertahanan terkuat Romawi Bizantium di Asia kecil, perang ‘Ayn Jalut, dan pembebaskan Bosnia Herzegovina juga berlangsung di bulan ramadhan.

Bayangkan, betapa beratnya muslim generasi awal dalam menjalani puasa di bulan Ramadhan. Rasa haus dan lapar selama berpuasa ternyata tidak mengendurkan semangat beribadah, juga berjihad.

Saat ini jihad dalam artian perang dengan musuh penjajah yang kufur sudah tidak ada lagi. Ini khususnya di negeri kita. Tapi, jihad dalam artian pembangunan tidak pernah usai.

Ini musuh bersama
Melalui pembangunan perang terhadap kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran masih memanggil segenap orang beriman untuk “turun tangan”. Inilah musuh bersama anak negeri.

Bila negeri kita masih terus dilanda kemiskinan, kebodohan dan pengangguran, maka ragam kejahatan akan menjadi masalah yang dapat merenggut keamanan dan perdamaian.

Tentu saja yang diperangi bukan orangnya. Kita berjihad melawan sistem yang korup, nepotisme, dan semua perilaku-perilaku yang menghambat terwujudkan kemakmuran dan keadilan.

Akses-akses yang menghambat orang untuk memperoleh dukungan harus dilawan, praktek-praktek birokrasi yang tidak memberdayakan anak negeri menjadi mandiri dan kuat dalam bersaing mesti dilawan, dan pejabat-pejabat yang tidak melayani sebagaimana mestinya juga harus dilawan.

Tentu saja perlawanan tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang justru dapat mendatangkan kekacauan dan menimbulkan korban. Ada banyak perlawanan intelektual, hukum, dan kultural yang bisa kita lakukan.

Intinya, segala macam praktek kufur (bodoh) harus dihilangkan atau dijauhkan dari kehidupan sosial dan pemerintahan. Pemerintahan yang baik, jujur, terbuka, dan demokratis serta bersyariat wajib kita wujudkan lewat jihad-jihad penyadaran, reformasi, dan transformasi. Jika merujuk kepada perang di masa nabi dan sahabat maka barisan kaum muda harus jauh lebih gigih dalam gerakan jihad memperbaiki negeri. Anak-anak muda zaman ini tidak boleh lebih lemah dibanding Abdullah bin Umar ra, Zaid bin Tsabit ra, Usamah bin Zaid ra, Zaid bin Arqam ra, Barra bin Azib ra, Amr bin Hizam ra, Usaid bin Zhuhair ra, Urabah bin Aus ra, Abu Sa’id al Khudri ra, Samurah bin Jundub ra dan Rafi’ bin Khadij ra.

Mereka adalah anak-anak yang begitu bersemangat ingin ikut berjihad. Namun, karena ada yang berusia muda sekali, maka nabi menahan mereka. Dan, beberapa diantara mereka disertakan untuk ambil bagian dalam berjihad.

Tidak boleh pasrah
Anak-anak muda Aceh yang sudah masuk katagori pemuda tidak boleh hidup pasrah, apalagi menyerah dengan keadaan. Nasib negeri tidak akan berubah bila tanpa dilakukan perubahan. Keajaiban perubahan tidak akan datang tanpa kegigihan perjuangan untuk perubahan.

Ragam cara harus dilakukan. Menjadi pribadi yang kritis terhadap keadaan sangat penting agar orang-orang jahat tidak justru menjadi mafia yang mencengkram pembangunan. Kreativitas harus digalakkan agar ide-ide cemerlang yang dibutuhkan negeri tersedia dan terperbarui.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved