Bahasa dan Pembangunan Karakter Bangsa

Karakter diinterpretasikan sebagai realisasi operasional jati diri atau identitas seseorang atau suatu

Oleh Teguh Santoso, Peneliti Bahasa dan Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh

Karakter diinterpretasikan sebagai realisasi operasional jati diri atau identitas seseorangatau suatu bangsa jika seseorang atau suatu bangsa dihadapkan kepada masalah yang harus diselesaikan atau diatasi untukmencapai kesejahteraannya.

Dengan kata lain, sifat jati diri atau identitas dapat dibedakan dari karakter sebagai berikut: jati diri bersifat konseptual sedangkan karakter bersifat operasional, jati diri merupakan kapasitas sedangkan karakter merupakan realitas, jati diri bersifat statis sedangkan karakter bersifat dinamis operasional. Selanjutnya, satu unsur jati diri dapat direalisasikan oleh lebih dari satu karakter. Misalnya, seseorang yang memiliki jati diri jujur dapat merealisasikan identitasnya itu dalam berbagai kegiatan atau perbuatan nyata, seperti (1) memberikan informasi secara berimbang kepada yang memerlukan, (2) menyampaikan pesan kepada orang yang diamanahkan, (3) tidak mengambil harta orang tanpa seizin pemiliknya, dan lain ebagainya.

Seperti dikemukakan terdahulu istilah karakter lebih umum mencakup ke karakter yang baik atau yang positif. Dengan demikian, bahasan mengenai karakter dalam makalah ini dikaitkan dengan karakter baik atau karakter positif saja. Hubungan bahasa dengan jati diri dan karakter suatu bangsa adalah hubungan realisasi. Bahasa suatu komunitas atau bangsa yang sudah bermuatan ideologi, budaya, dan situasi membangun jati diri suatubangsa. Ketika dihadapkan kepada masalah aktual jati diri didayagunakan dalam bentuk karakter.

Karakter bangsa Indonesia dapat dibangun secara kartografi atau berdasarkan sifat hakiki tata bahasa atau pemakaianbahasa Indonesia. Sebagai contoh, tiga karakter bangsa potensial dikembangkan sebagai berikut. (1) Dalam contoh (1) terdahulu dikemukakan bahwa tata bahasa bahasa Inggris berupa Tense, Singular, dan Persons telah membangun jati diri atau identitas cermat waktu, cermat angka, dan cermat posisi atau kedudukan orang pada penutur bahasa Inggris atau bahasa-bahasa Eropah lainnya.

Jati diri ini telah didayagunakan dan telah membangun karakter penuturnya bersifat individualisme dalam budaya Barat, keberanian mengambil risiko, semangat kewirausahawanan, kebebasan dan pendewaan individu. Nilai individualisme ini telah melahirkan kreasi dan inovasi yang cemerlang berupa penemuan dalam bidang sains dan teknologi.

Penemuan mesin uap, mesin pencetak, radio, telepon, telegraf, teknologi kedokteran, sampai ke pesawatruang angkasa merupakan realisasi karakter bangsa yang individualis, kreatif, inovatif, dan kewirausahaan. Sebanyak 180 pemenang Hadiah Nobel adalah dari penutur bahasa Barat (Hassan 2008). Penemuan baru sebagain besar dibuat oleh penutur bahasa-bahasa di Barat, terutama pemakai bahasa Inggris. (2) Jepang tidak terkenal sebagai pembuat temuan baru tetapi sebagai bangsa pemodifikasi temuan Barat.

Dengan kata lain, Jepang memiliki karakter membuat tiruan sesuatu benda. Dalam bahasa Jepang terdapat konsep bonsai, yakni budaya atau kata dengan pengertian mengecilkan atau mengerdilkan sesuatu yang besar agar berterima dalam ruang yang terbatas. Mengecilkan atau membuat tiruan benda nyata merupakan identitas bangsa Jepang. Barat berhasil dengan ciptaan mereka berupa mobil, traktor, kompor gelombang mikro, dan komputer yang besar.

Tetapi temuan Barat itu kurang menarik bagi orang Asia karena terlalu besar. Dengan konsep bonsainya,Jepang telah berhasil membangun karakter bangsanya sebagai pemodifikasi temuan orang lain atau benda dalam alam semesta. Dengan kata lain, dengan karakter membuat tiruan atau membuat sesuatu menjadi kecil bangsa Jepang telah sukses merebut pasar mobil, traktor tangan, televisi, komputer, dan kompor gelombang mikro di seluruh dunia.

Beberapa contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa bahasa suatu komunitas, etnik, atau bangsa pada awalnya mengatur cara erbahasa (lisan, tulisan, dan isyarat). Aturan berbahasa atau tata bahasa itu dibentuk setelah melalui kurun waktu yang lama yang berkembang sesuai dengan tuntutan atau potensi ideologi, budaya, dan situasi suatu komunitas atau bangsa. Aturan bahasa atau tata bahasa terealisasi dalam konsep dan menjadi jati diri atau identitas sesuatu komunitas atau bangsa. Kemajuan suatu bangsa bersumber pada jati diri suatu bangsa dan kemampuannya mendayagunakan karakter atau hikmah budaya bangsa itu yang terealisasi oleh dan menyatu dengan bahasa.

Dengan kata lain, bagi bangsa atau kaum yang cemerlang dan mau berpikir bahasanya adalah sumber daya untuk mengembangkan kreasi dan inovasi. Fakta menunjukkan semua bangsa yang berjaya adalah bangsa yang telah berhasil mengembangkan nilai dan hikmah budayanya dalam bahasanya. Tidak ada bangsa yang cemerlang dengan meminjam atau meniru bahasa bangsa lain (lihat Othman 2008: 172—190; Hassan 2008: 338—364). Korea, Jepang, Cina, dan Thailand berhasil meneroka budaya mereka dengan menggunakan bahasa mereka untuk meraih kejayaan. Bukan dengan bahasa Inggris!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved