Sabtu, 11 April 2026

Citizen Reporter

Tersenyumlah pada Sel Kanker

KUNJUNGAN saya ke Kampung Kanker Thailand merupakan bagian dari praktik klinik palliative

Editor: bakri

OLEH ZAMNA IDYAN, Mahasiswa Master of Nursing Science Chulalongkorn University, Thailand, penerima ASEAN Scholarship tahun 2014, melaporkan dari Bangkok

KUNJUNGAN saya ke Kampung Kanker Thailand merupakan bagian dari praktik klinik palliative care sebagai mahasiswa Master of Nursing Science Spesialisasi Adult Nursing di Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand.

Sebanyak 22 mahasiswa ambil bagian dalam perjalanan ini. Saya satu-satunya mahasiswa internasional yang dapat kesempatan menimba ilmu di kampung ini. Dari namanya saja dengan mudah bisa ditebak bahwa kampung ini dihuni oleh kumpulan penderita kanker. Seperti halnya di Aceh kita juga pernah mendengar adanya kampung kusta, yakni Po Diamat di Banda Aceh (sebelum tsunami).

Kampung kanker ini terletak di Distrik Pannanikom, Provinsi Sakhon Nakhon, 650 km sebelah utara Thailand. Sejarah kampung kanker ini bermula dari sebuah temple (candi) Budha bernama Kuil Arokhayasala Khampramong. Tahun 1996 seorang biksu di kuil itu, Paponpat Jiradhammo, menderita kanker rongga hidung stadium akhir yang hampir saja merenggut nyawanya. Ketika berobat ke rumah sakit, seperti halnya penderita kanker lainnya, sang biksu dianjurkan dokter untuk kemoterapi, tapi ia menolak.

Sebagai gantinya, biksu melakukan pengobatan alternatif dengan meracik sendiri ramuan tradisional yang berkhasiat membunuh sel kanker ditambah dengan terapi meditasi. Setelah beberapa bulan melakukan pengobatan tradisional secara mandiri, sang biksu memeriksakan diri kembali. Dokter yang memeriksanya tercengang karena kanker yang dideritanya telah hilang/sembuh.

Berbekal dari pengalaman pribadinya itulah pada tahun 2005 biksu memutuskan untuk mengabdikan sisa hidupnya membantu meringankan derita pasien kanker di Thailand. Ia bangun tempat pengobatan dengan konsep perpaduan antara kuil dan rumah sakit tradisional dengan pendekatan holistic care.

Konsep terapi holistic care bermakna bahwa penderita kanker diobati secara menyeluruh, tidak hanya jasmani, tapi juga aspek rohaninya. Penderita kanker mendapat obat-obatan herbal tradisional serta melakukan meditasi untuk mengurangi nyeri. Pasien juga harus menjalani diet ketat, latihan fisik, terapi musik, terapi tertawa plus obat-obatan modern apabila dibutuhkan. Pada awal mulanya hanya satu dua penderita kanker yang datang ke Kuil Arokhayasala untuk mendapatkan pengobatan holistic care. Namun, seiring perjalanan waktu, makin banyak masyarakat yang datang untuk mencoba pengobatan alternatif di kuil ini, terutama penderita kanker stadium akhir yang menolak dilakukan kemoterapi di rumah sakit.

Para penderita kanker yang menjalani terapi di Kuil Arokhayasala ini mendapat perlakuan istimewa. Berbagai fasilitasnya gratis, demikian pula obat herbal dan obat-obatan medis. Juga terdapat bilik-bilik rawatan gratis di lingkungan kuil. Bagi penderita kanker yang masih dapat melakukan aktivitas sehari-sehari, mereka mendapat rumah dan makanan gratis yang berada di sekitar kuil sebagai tempat hunian dengan catatan ada salah seorang anggota keluarga penderita yang tinggal bersamanya selama menjalani terapi. Sumber dananya berasal dari santunan masyarakat juga alokasi dana dari Pemerintah Thailand.

Saat ini terdapat 270 penderita kanker yang sedang menjalani terapi holistik di Kuil Arokhayasala, dewasa maupun anak-anak. Bahkan tidak hanya penduduk Thailand pribumi, tetapi juga terdapat penderita kanker dari negara lain, misalnya dari Jepang,

Istimewanya lagi, para penderita kanker diizinkan tinggal di rumah yang disediakan dengan segala fasilitas gratis selama penderita mau. Ada pasien yang tinggal berbulan-bulan hingga sembuh dan tak sedikit pula yang tinggal hingga menemui ajalnya. Jika saya lihat dari kacamata sosial, Kuil Arokhayasala ini telah menjelma jadi sebuah komunitas atau kampung kanker yang di dalamnya terdapat kuil dan pengobatan tradisional kanker gratis dengan konsep perawatan holistik.

Saat ini ada sebelas unsur herbal yang diracik untuk pengobatan di Kuil Arokhayasala, ditambah suplemen untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sebagian dari herbal itu tak bisa lagi didapatkan di Thailand, sehingga biksu memesannya dari Laos. Sebelas herbal ini dikonsumsi pasien pagi dan sore. Kemudian ada sesi meditasi setiap hari selama satu jam, ditambah sembilan menit sesi materi rohani bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Penderita juga harus melakukan latihan fisik ringan seperti senam aerobik, yoga, tai chi, dan terapi tertawa sebagai relaksasi pikiran. Dalam terapi tertawa ini, biksu menanamkan filosofi kepada penderita kanker untuk bersahabat dengan sel kanker, tersenyum kepada sel kanker. Hal ini memberi keyakinan kepada para penderita bahwa dengan tersenyum, sel kanker tidak lagi menjadi musuh bagi mereka.

Berdasarkan rekam mediknya, pengobatan holistik yang diterapkan di kuil ini menunjukkan hasil positif. 12 Persen pasien sembuh dari penyakit kanker pada stadium 3 dan 4. Menurut biksu, jika pasien yang datang berada pada stadium awal kanker, maka persentase sembuh bisa mencapai 50% berdasarkan survei yang dilakukan sejak 2005.

Jika kita kaji dari sudut pandang Islam, konsep perawatan holistik pada pasien kanker yang umumnya menghadapi phase end of life ini sangat cocok jika diaplikasikan di Indonesia, khususnya di Aceh yang populasinya hampir 98% muslim.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved