Kuala Dangkal, Nelayan Sudah 3 Minggu tak Melaut

SEMENTARA di Jangka, Kabupaten Bireuen, para nelayan di kawasan itu sudah tiga minggu tak bisa melaut karena kondisi mulut kuala dangkal

SEMENTARA di Jangka, Kabupaten Bireuen, para nelayan di kawasan itu sudah tiga minggu tak bisa melaut karena kondisi mulut kuala dangkal. Mulut kuala dangkal akibat tertutup timbunan pasir yang dihempas ombak, sehingga menyulitkan boat saat keluar masuk kuala.

Panglima Laot Lhok Jangka, A Bakar Jalil kepada Serambi, Jumat (19/8) mengatakan, enam bulan lalu mulut kuala sudah digali dengan alat berat. Namun, sejak tiga minggu lalu mulut kuala kembali dangkal. Hanya saat laut pasang nelayan bisa dengan mudah keluar-masuk kuala.

Menurutnya, pengerukan kuala sudah dilakukan beberapa kali, namun hanya bertahan tiga hingga empat bulan. Kondisi itu disebabkan tidak adanya batu penahan ombak di sebelah barat kuala. Penahan ombak hanya dibangun di sisi timur kuala.

Karena itu, para nelayan berharap pemerintah membangun tanggul penahan ombak atau jetty sepanjang 200 meter kiri-kanan di bagian mulut kuala, lalu ditambak 100 meter lagi arah ke laut.

Usul ke provinsi
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Bireuen, Ir M Jafar mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan dana untuk pembangunan tanggul/jetty di Kuala Jangka, dalam anggaran perubahan provinsi. Tapi tidak tertampung. Karena itu, diusulkan lagi dalam APBA tahun 2017. Pihaknya juga sudah mengusulkan dana untuk pembangunan tersebut ke pemerintah pusat.

Jafar menambahkan, menurut analisa konsultan, butuh dana sekitar Rp 49 miliar lebih untuk melakukan normalisasi, memperluas, dan membangun jetty di Kuala Jangka. “Untuk sementara waktu, penanganan darurat akan dilakukan dalam waktu dekat. Tapi pengerukan tanpa dibangun jetty hanya bertahan paling lama enam bulan,” katanya.(yus)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved