Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Budaya Salam

MASIH sangat membekas dalam ingatan saya saat sekolah di Taman Kanak-kanak (TK)

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Yelli Sustarina

MASIH sangat membekas dalam ingatan saya saat sekolah di Taman Kanak-kanak (TK), tepatnya antara 1996-1998. Saat pulang sekolah biasanya saya di jemput oleh kakek dengan menggunakan sepeda. Sepanjang perjalanan pulang, kakek selalu memberikan salam sambil mengangkat tangan kanannya kepada teman ataupun kerabat yang ditemuinya. Dan kalau sempat kakek berhenti dan berjabat tangan dengan orang tersebut. Bukan hanya kakek yang sering membiasakan hal itu, tapi orang-orang juga sering mengucapkan salam, yang memang telah menjadi budaya saat mengawali sebuah pertemuan.

Dibandingkan dengan kehidupan sekarang, budaya salam saat ini bukanlah seperti apa yang dilakukan orang-orang dulu atau yang diajarkan Islam, yaitu dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ucapan salam sekarang lebih dipengaruhi oleh budaya luar khususnya di kalangan remaja, seperti sapaan hai, hello, what’s up, ataupun dengan mengunakan bahasa Korea annyeong haseyo.

Begitu juga saat mengunakan bahasa tulisan dalam media sosial, kebanyakan menyingkatnya dengan Ass, Askum, Mikum, Samelekom dan lain sebagainya. Penyingkatan kata dalam hal ini, tujuannya untuk mempermudah dalam penulisan pesan singkat, tapi apa yang ditulis telah mempunyai makna lain. Padahal arti salam dalam konteks Islam memberi ucapan damai, selamat dan doa untuk orang lain.

Saling mendoakan
Memberikan salam sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendoakan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Cara memberikan salam tentunya berbeda pada tiap negara dan ini juga dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Untuk negara kita Indonesia yang mayoritasnya agama Islam, apalagi Aceh yang merupakan daerah syariat, salam yang digunakan tentunya salam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Berdasarkan kitab Al-Adzkar - Imam Nawawi, Nabi Muhammad Saw mengajarkan 3 ucapan salam sesama umat Islam, yaitu: Assalamualaikum, Assalamualaikum Warahmatullah, dan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ketiga ucapan tersebut boleh digunakan yang mana pun, namun tentunya ucapan salam yang lebih panjang dan lengkap lebih baik.

Setiap muslim yang memberikan salam kepada muslim lainnya dinilai sebagai ibadah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imran Ibnu Hussin ra, ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan mengucapkan Assalamualaikum, maka dibalas salam oleh Rasulullah, dan ketika ia duduk, Rasulullah saw bersabda; 'ganjaran pahalanya sepuluh’. Kemudian datang seorang yang lain memberi salam Assalamualaikum warahmatullaah, Rasulullah pun membalas salam, ketika ia duduk, Rasulullah bersabda; 'ganjaran pahalanya dua puluh’. Kemudian datang orang yang ketiga dan mengucapkan Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh, Rasulullah kembali membalas salamnya, dan ketika ia duduk Rasulullah kembali bersabda; 'ganjaran pahalanya tiga puluh’.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah saw berpesan ada tujuh hal yang patut dilakukan seorang muslim yaitu; Menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang bersin, menolong orang yang lemah dan teraniaya, menyebarkan salam dan melaksanakan sumpah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Dari ketujuh tersebut terdapat di dalamnya untuk senantiasa menyebarkan salam.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai muslim menyebarkan salam dan menjadikannya sebuah budaya. Tidak hanya pada saat situasi formal seperti dalam majelis pertemuan, tapi juga dilakukan saat bertemu seseorang, memasuki rumah dan lain sebagainya. Karena semakin banyak salam yang kita sebarkan keberkahanpun juga senantiasa menghampiri kita.

Arus perubahan
Semakin berkembangnya zaman, tuntutan perubahan itu pasti ada. Termasuk dalam penggunaan ucapan salam. Di tengah arus perubahan ini, banyak yang menggantikan ucapan assalamualaikum dengan ucapan-ucapan lain yang dianggap lebih gaul dan keren di mata mereka, teutama pada kalangan remaja.

Hanya sebagian kecil yang masih mempertahankan budaya salam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. Selebihnya menggunakan ucapan salam yang sudah mendapat pengaruh dari gaya dan cara salam kebudayaan lain. Kata hai misalnya ataupun hallo, ucapan ini lebih sering dipakai oleh para remaja di saat bertemu dengan teman dan kerabatnya.

Begitu juga dengan ucapan salam yang mengunakan bahasa asing seperti Inggris dan Korea, sering kali kita dengar para remaja mengucapkan what’s up Bro, atau annyeong haseo. Mungkin sebagian memakainya untuk memperlancar penggunaan bahasa yang sedang dipelajari, namun jika sering digunakan di saat bertemu dengan teman, hal ini akan menjadi sebuah kebiasaan yang akan menghilangkan ucapan salam sesuai dengan tata cara Islam.

Apapun jenis dan cara pemberian salam di seluruh dunia, tetaplah ucapan assalamualaikum yang terbaik dibandingkan yang lainnya. Kerena ini jelas berbeda dari segi makna dan artinya. Ucapan salam selain assalamualaikum hanyalah sekadar ucapan yang diberikan untuk mengawali pertemuan atau sekadar ucapan basa-basi. Sedangkan salam yang diajarkan Rasulullah saw mempunyai makna “Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkah-Nya juga kepadamu”. Di sini terdapat ucapan selamat sekaligus mendoakan orang yang ditemuinya dan setiap ucapan tersebut bernilai ibadah.

Semoga kita semua menyadari bahwa pentingnya untuk membudayakan salam di setiap kesempatan, karena setiap salam yang kita beri merupakan doa untuk orang tersebut dan jika kita berdoa untuk orang lain maka para malikat akan mendoakan kita, sehingga keberkahan dan rahmat Allah pun selalu menyertai kita.

* Yelli Sustarina, mahasiswi program profesi Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh. Email: yellsaints.paris@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved