SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Budaya Salam

MASIH sangat membekas dalam ingatan saya saat sekolah di Taman Kanak-kanak (TK)

Oleh Yelli Sustarina

MASIH sangat membekas dalam ingatan saya saat sekolah di Taman Kanak-kanak (TK), tepatnya antara 1996-1998. Saat pulang sekolah biasanya saya di jemput oleh kakek dengan menggunakan sepeda. Sepanjang perjalanan pulang, kakek selalu memberikan salam sambil mengangkat tangan kanannya kepada teman ataupun kerabat yang ditemuinya. Dan kalau sempat kakek berhenti dan berjabat tangan dengan orang tersebut. Bukan hanya kakek yang sering membiasakan hal itu, tapi orang-orang juga sering mengucapkan salam, yang memang telah menjadi budaya saat mengawali sebuah pertemuan.

Dibandingkan dengan kehidupan sekarang, budaya salam saat ini bukanlah seperti apa yang dilakukan orang-orang dulu atau yang diajarkan Islam, yaitu dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ucapan salam sekarang lebih dipengaruhi oleh budaya luar khususnya di kalangan remaja, seperti sapaan hai, hello, what’s up, ataupun dengan mengunakan bahasa Korea annyeong haseyo.

Begitu juga saat mengunakan bahasa tulisan dalam media sosial, kebanyakan menyingkatnya dengan Ass, Askum, Mikum, Samelekom dan lain sebagainya. Penyingkatan kata dalam hal ini, tujuannya untuk mempermudah dalam penulisan pesan singkat, tapi apa yang ditulis telah mempunyai makna lain. Padahal arti salam dalam konteks Islam memberi ucapan damai, selamat dan doa untuk orang lain.

Saling mendoakan
Memberikan salam sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendoakan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Cara memberikan salam tentunya berbeda pada tiap negara dan ini juga dipengaruhi oleh agama yang dianutnya. Untuk negara kita Indonesia yang mayoritasnya agama Islam, apalagi Aceh yang merupakan daerah syariat, salam yang digunakan tentunya salam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Berdasarkan kitab Al-Adzkar - Imam Nawawi, Nabi Muhammad Saw mengajarkan 3 ucapan salam sesama umat Islam, yaitu: Assalamualaikum, Assalamualaikum Warahmatullah, dan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ketiga ucapan tersebut boleh digunakan yang mana pun, namun tentunya ucapan salam yang lebih panjang dan lengkap lebih baik.

Setiap muslim yang memberikan salam kepada muslim lainnya dinilai sebagai ibadah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imran Ibnu Hussin ra, ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan mengucapkan Assalamualaikum, maka dibalas salam oleh Rasulullah, dan ketika ia duduk, Rasulullah saw bersabda; 'ganjaran pahalanya sepuluh’. Kemudian datang seorang yang lain memberi salam Assalamualaikum warahmatullaah, Rasulullah pun membalas salam, ketika ia duduk, Rasulullah bersabda; 'ganjaran pahalanya dua puluh’. Kemudian datang orang yang ketiga dan mengucapkan Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh, Rasulullah kembali membalas salamnya, dan ketika ia duduk Rasulullah kembali bersabda; 'ganjaran pahalanya tiga puluh’.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Rasulullah saw berpesan ada tujuh hal yang patut dilakukan seorang muslim yaitu; Menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendoakan orang bersin, menolong orang yang lemah dan teraniaya, menyebarkan salam dan melaksanakan sumpah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Dari ketujuh tersebut terdapat di dalamnya untuk senantiasa menyebarkan salam.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai muslim menyebarkan salam dan menjadikannya sebuah budaya. Tidak hanya pada saat situasi formal seperti dalam majelis pertemuan, tapi juga dilakukan saat bertemu seseorang, memasuki rumah dan lain sebagainya. Karena semakin banyak salam yang kita sebarkan keberkahanpun juga senantiasa menghampiri kita.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help