Sabtu, 9 Mei 2026

Opini

Kenali ‘Rhesus’ Anda

JENIS penggolongan golongan darah selain berupa sistem A, B, AB, dan O juga dikenal

Tayang:
Editor: bakri

Oleh Aslinar

JENIS penggolongan golongan darah selain berupa sistem A, B, AB, dan O juga dikenal dengan sistem rhesus. Pada 1901, Landsteiner menemukan golongan darah sistem ABO dan kemudian sistem antigen rhesus (Rh) ditemukan oleh Levine dan Stetson pada 1939. Kedua sistem ini menjadi dasar penting bagi transfusi darah. Dinamakan rhesus karena dalam penelitian mereka menggunakan darah Kera Rhesus (Macaca mulatta).

Sistem rhesus terdiri atas dua jenis yaitu rhesus positif (Rh+) dan rhesus negatif (Rh-) berdasarkan ada tidaknya antigen rhesus pada dinding sel darah merah seseorang. Rh+ dalam darahnya memiliki antigen rhesus yang ditunjukkan dengan reaksi positif atau dijumpai adanya gumpalan sel darah merah pada waktu dilakukan tes dengan antibodi Rh. Sedangkan Rh- dalam darahnya tidak memiliki antigen rhesus yang menunjukkan reaksi negatif atau tidak dijumpai penggumpalan saat dilakukan tes dengan antibodi Rh. Dalam penulisannya, jenis penggolongan rhesus ini digabungkan dengan penggolongan ABO yaitu berupa A+ dan A-, B+ dan B-, O+ dan O- serta AB+ dan AB-.

Golongan Rh- merupakan golongan darah yang termasuk langka. Langkanya golongan darah ini disebabkan karena sifat alelnya yang resesif, sehingga Rh- baru akan muncul apabila alel resesif bertemu dengan alel resesif. Sebanyak 85% penduduk di dunia memiliki Rh+, dan hanya 15% yang memiliki Rh-. Jumlah terbanyak rhesus negatif adalah pada ras kulit putih non hispanik dan yang paling sedikit adalah penduduk Asia. Dari 15% Rh- di dunia, jumlah terbanyak adalah O negatif (6%), A negatif (6%), selanjutnya B negatif (2%) dan yang paling sedikit adalah AB negatif hanya 1%.

Di Indonesia, pemilik Rh- hanya berjumlah 1% dari total seluruh penduduk Indonesia dan tersebar luas di seluruh tanah air. Di Aceh khususnya, saat ini data yang sudah terkumpul jumlah pemilik rhesus negatif, yaitu sekitar 139 orang atau 0,0026% dari total penduduk Aceh. Sungguh angka perbandingan yang sangat jauh. Hal ini selain disebabkan karena memang langkanya jumlah pemilik Rh-, juga faktor tidak diketahuinya rhesus seseorang juga merupakan faktornya. Tidak mengetahui rhesus tentu saja disebabkan karena tidak pernah memeriksa golongan darah plus rhesus-nya dan tentu saja sudah dapat dipastikan belum pernah melakukan donor darah.

Membangun kesadaran
Saat ini di Aceh sudah terbentuk Komunitas Rhesus Negatif yang beranggotakan para pemilik golongan darah Rh- yang dibentuk pada 14 Juni 2011. Komunitas ini mempunyai visi membangun kesadaran aktif dan partisipatif para pemilik darah Rh-. Sedangkan misinya yaitu aktif melakukan sosialisasi mengenai Rh- secara rutin melalui media online maupun media konvensional, menghimpun seluas-luasnya para pemilik darah Rh-, tidak terbatas usia, mendorong kesadaran donor darah sebagai pola hidup sehat.

Di samping itu juga dimaksudkan untuk membantu Palang Merah Indonesia (PMI) secara aktif dan konsisten dalam setiap kebutuhan darah Rh-, membina kerja sama dan persaudaraan antarsesama pemilik darah Rh-atas dasar nilai kekeluargaan, saling percaya dan saling menghargai, juga membina kerja sama dengan komunitas/lembaga/institusi lain dalam setiap kegiatan sosial kemanusiaan dan dalam setiap kebutuhan darah Rh- serta mengutamakan nilai ketulusan dan keikhlasan dalam menjalankan visi. Saat ini jumlah pemilik golongan darah Rh- terdiri dari A Rh- yaitu 37 orang, B Rh- 37 orang, O Rh- 56 orang dan AB Rh- hanya 9 orang.

Transfusi darah merupakan suatu rangkaian proses pemindahan darah dari seorang pendonor kepada resipien (penerima) sebagai upaya pengobatan bahkan sebagai upaya untuk menyelamatkan kehidupan. Berdasarkan data dari PMI Kota Banda Aceh, bahwa kebutuhan darah setiap harinya adalah 80-100 kantong per hari. Permintaan darah terus meningkat, permintaan tersebut berasal dari berbagai rumah sakit yang ada di Aceh.

Jumlah tersebut baru bisa terpenuhi jika masyarakat aktif mendonorkan darahnya. Perlu digarisbawahi bahwa donor darah jangan hanya di saat ada keluarga kita yang sakit saja akan tetapi jadikan donor darah sebagai perilaku dan gaya hidup sehat. Mendonorkan darah tidak hanya bermanfaat untuk mereka yang membutuhkan darah tersebut, tapi juga bermanfaat bagi pendonor itu sendiri.

Manfaat donor darah sangat banyak, di antaranya yaitu menjaga kesehatan jantung, meningkatkan oksigenasi jaringan, mengembalikan dan mempertahankan volume normal peredaran darah, meningkatkan produksi sel darah merah, serta mendeteksi penyakit serius. Berbagai penyakit yang bisa terdeteksi dengan donor darah yaitu Hepatitis A, B, C, malaria, HIV, Sifilis. Transfusi darah merupakan live saving therapy, tetapi juga replacement therapy sehingga darah yang diberikan haruslah merupakan safety blood.

Berakibat fatal
Orang yang memiliki darah dengan rhesus negatif (A-, B-, AB- dan O-), hanya bisa menerima transfusi darah dari orang yang golongan dan rhesus-nya sama. Orang dengan Rh- tidak bisa menerima donor dari orang dengan Rh+, demikian juga sebaliknya. Apabila orang dengan Rh- diberikan transfusi darah Rh+ maka kemungkinan bisa terjadi hal yang fatal. Dalam darah Rh+ terdapat kandungan antigen, ketika darah ini masuk ke dalam tubuh orang dengan Rh-, akan dianggap sebagai benda asing sehingga antibodi akan berusaha menghancurkan benda asing tersebut dan akibatnya terjadi penggumpalan darah dan bisa menyebabkan kematian.

Pasangan yang akan menikah juga sangat penting mengetahui rhesus-nya. Ketidaksamaan rhesus suami istri ini menjadi awal ketidakcocokan rhesus yang sangat berbahaya bagi janin dalam kandungan. Jika terjadi fertilisasi, rhesus ibu dan janin berbeda, maka antibodi akan menghancurkan benda asing (janin) pada ibu karena janin dianggap benda asing sehingga terjadi kematian atau keguguran janin, atau bisa saja bayinya lahir tapi akan terjadi berbagai komplikasi.

Pada saat kehamilan pertama mungkin tidak terlalu berbahaya karena terbentuknya zat anti rhesus atau antibodi sangat kecil, kalaupun terbentuk jumlahnya sangat kecil sehingga bayi bisa lahir. Setelah kelahiran/keguguran, tubuh akan membentuk zat anti rhesus yang lebih banyak daripada sebelumnya untuk menghancurkan benda asing (janin), sehingga pada kehamilan kedua zat anti rhesus akan menyerang sel darah janin. Akan tetapi pasangan beda rhesus tidak perlu khawatir tidak memiliki keturunan karena ada solusinya saat ini yaitu dengan pemberian imunoglobulin anti rhesus.

Masalah saat ini adalah banyak sekali orang yang tidak mengetahui jenis rhesus-nya sehingga sangat menyulitkan dalam pencarian pendonor, terutama saat kondisi darurat. Publikasi dan kampanye rutin tentang Rh- ini perlu terus kita jalankan dengan harapan bisa terdeteksi semua orang yang mempunyai golongan darah Rh-, sehingga nantinya begitu ada kebutuhan golongan darah tersebut bisa segera dipersiapkan atau dihubungi. Jadi, mari periksa golongan darah dan jenis rhesus Anda mulai sekarang dan bersiap menjadi “Donor Darah Siaga”, karena Rh- tidak menjadi donor sukarela rutin, hanya mendonorkan darah bila dibutuhkan. Nah!

* Dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed., anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh, anggota IDAI Aceh, dan anggota IDI Aceh Besar. Email: ummihirzi@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved