KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 18, Berhaji dengan Tenang dalam Perdamaian
Kesepakatan damai para pihak sebagai hadiah bagi tamu Allah yang berhaji ke Baitullan dengan aman dan damai.
Oleh: Yunidar Z.A dan Laini*)
Menunaikan ibadah haji dengan tenang kini menjadi kenyatan sebelumnya dilaporkan keadaan tidak pasti dalam situasi konflik Timur Tengah yang memerlukan persiapan mental, spiritual, dan koordinasi yang baik dalam pelaksaan haji tahun ini.
Kesepakatan damai para pihak sebagai hadiah bagi tamu Allah yang berhaji ke Baitullan dengan aman dan damai.
Perdamaian pada akhirnya bukan hanya cita-cita sebuah negara, melainkan kebutuhan seluruh umat manusia.
Tidak ada masyarakat di dunia ini yang benar-benar menginginkan perang, apalgi berlangsung tanpa akhir.
Semua bangsa mendambakan kehidupan yang sejahtera, aman, dan bebas dari ketakutan akibat kekerasan dan perang.
Baca juga: Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian
Di tengah dunia golobal yang terus berubah, kesadaran itu tumbuh semakin kuat, bahwa masa depan manusia tidak dapat dibangun di atas reruntuhan konflik kekerasan, melainkan di atas keberanian untuk berdialog, setara dan saling memahami.
Di berbagai belahan dunia, jaringan-jaringan perdamaian terus bekerja tanpa lelah. Para mediator, aktivis kemanusiaan, pemuka agama, akademisi, dan masyarakat sipil bergerak melampaui batas negara untuk menghentikan peperangan, membuka blokade dan mengkampanyekan nilai nir-kekerasan.
Mereka percaya bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang sama, dan bahwa kemenangan sejati bukanlah menaklukkan lawan, tapi menghentikan penderitaan dan duka bersama.
Di dalam ruang-ruang diplomasi yang sunyi maupun di jalan-jalan tempat masyarakat bersuara meneriakkan perdamaian, semangat perdamaian terus dijaga dikampanyekan agar dunia tidak kehilangan nuraninya.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diharapkan mampu menjalankan mandatnya secara konsisten terhadap seluruh negara tanpa pengecualian.
Dunia membutuhkan lembaga internasional yang berdiri tegak dalam menegakkan keadilan, kesetaraan, ketenteraman dan perdamaian, bukan hanya ketika kepentingan politik mengizinkan, namun dalam setiap keadaan.
Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 15, Korporatokrasi Global, Selat Hormuz dan Perdamaian
Ketika hukum internasional diterapkan secara adil dan suara kemanusiaan dihormati, harapan terhadap perdamaian global akan tetap hidup dalam ketenteraman di tengah berbagai kepentingan, ketegangan geopolitik dunia.
Bayangkan di kawasan Teluk Iran, Selat Hormuz yang sangat padat, tetap menjadi simbol penting bagi jalur perdagangan dan hubungan antarbangsa.
Tanpa Ancaman Blokade
Selat Hormuz Iran, bukan sekadar jalur laut strategis, tapi juga pengingat bahwa perdamaian harus dapat berlayar bebas tanpa ancaman blokade, perang.
| S1 hingga S3 Menganggur: Menyoal Arah Kebijakan Pembangunan Aceh |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Mengikuti Reformasi atau Mempertahankan Cara Lama? |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian |
|
|---|
| Tradisi, Patriarki, dan Hak Individu di Aceh |
|
|---|
| Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/YUNIDAR-DAN-LAINI.jpg)