Kupi Beungoh
S1 hingga S3 Menganggur: Menyoal Arah Kebijakan Pembangunan Aceh
Pengangguran masih menjadi persoalan serius di Aceh. Setiap tahun jumlah sarjana lulusan Perguruan Tinggi (PT), dari S1 hingga S3 terus bertambah.
Oleh: Salsabila dan Nurul Amalia
Pengangguran masih menjadi persoalan serius di Aceh. Setiap tahun jumlah sarjana lulusan Perguruan Tinggi (PT), dari S1 hingga S3 terus bertambah.
Upacara wisuda sarjana, baik negeri maupun swasta, menjadi agenda rutin dilakukan kampus. Wisuda merata dilakukan, mulai dari Banda Aceh hingga Langsa, Singkil, dan Aceh Tenggara.
Jumlah lulusan PT tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja berdampak pada terus meningkatnya angka pengangguran di Aceh.
Fakta ini sejalan dengan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun 2026. (https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/1024150/jumlah-pengangguran-di-aceh-bertambah-7430-orang-tpt-naik-jadi-588-persen)
Banyak anak muda yang sudah menyelesaikan pendidikan S1 di kampus, tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan, bahkan untuk sekadar memulai karir.
Di satu sisi, pendidikan terus didorong sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Namun di sisi lain, realitas di lapangan justru menunjukkan ketidakpastian.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah sistem yang ada saat ini sudah benar-benar mampu menjawab kebutuhan generasi muda?
Duh, Sarjana S3 Ikut Menganggur
Data menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh pada tahun 2025 mencapai 5,60 persen. Artinya, sekitar enam dari setiap 100 orang angkatan kerja masih belum mendapatkan pekerjaan.
Yang lebih memprihatinkan, pengangguran justru didominasi oleh lulusan pendidikan tinggi. Lulusan Diploma IV hingga S3 menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni sebesar 8,68 persen.
Disusul lulusan SMK sebesar 8,66 persen dan SMA sebesar 6,92 persen (sumber: https://masakini.co/2026/02/07/lulusan-sarjana-penyumbang-pengangguran-terbesar-di-aceh).
Selain itu, pengangguran juga lebih tinggi terjadi di wilayah perkotaan dibandingkan pedesaan, serta lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pengangguran di Aceh tidak sederhana, melainkan memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
Ancaman Lonjakan Pengangguran
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena adanya potensi peningkatan pengangguran dalam waktu dekat. Dampak bencana hidrometeorologi yang merusak lahan pertanian diperkirakan akan menyebabkan lonjakan pengangguran hingga 13 persen pada tahun 2026 (sumber: https://rmol.id/nusantara/read/2026/01/08/693147/pengangguran-aceh-diperkirakan-melonjak-13-persen).
Sekitar 200 ribu tenaga kerja di sektor pertanian berpotensi kehilangan pekerjaan akibat kerusakan lahan. Jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang mencapai 2,60 juta jiwa, angka ini tentu sangat besar dan berpotensi menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang luas.
Artinya, Aceh tidak hanya menghadapi masalah pengangguran yang sudah ada, tetapi juga ancaman gelombang pengangguran baru dalam jumlah besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Salsabila-dan-Nurul-Amalia.jpg)