Jumat, 17 April 2026

Citizen Reporter

Belajar Aspek Perburuhan di Turin

SAYA sangat bersyukur mendapat kesempatan ikut kursus dua minggu di Italia sejak akhir September

Editor: bakri

OLEH HABIBI INSEUN SE, Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Perwakilan Daerah Aceh, melaporkan dari Turin, Italia

SAYA sangat bersyukur mendapat kesempatan ikut kursus dua minggu di Italia sejak akhir September lalu hingga saat ini, mewakili Indonesia dari unsur organisasi pekerja (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia).

Kami berlatih di pusat pendidikan internasional milik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tepatnya International Labor Organization (ILO) International Training Center yang berpusat di Kota Turin, Italia.

Pelatihan ini mengusung tema “Employment Policy”, pembelajaran tentang formulasi kebijakan ketenagakerjaan nasional yang meliputi program ketenagakerjaan nasional, makro ekonomi, green job, gender, upah, perlindungan dan dialog sosial, serta persoalan pekerja informal.

Sebagaimana kita tahu, ILO yang membidangi urusan perburuhan telah mengeluarkan Konvensi ILO yang telah diratifikasi negara-negara anggota ILO, termasuk Indonesia. Sebagai contoh, lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Kebebasan Berserikat di Indonesia bagi buruh baik di dalam maupun di luar perusahaan.

International Training Center ILO ini tidak hanya sebagai pusat studi bagi pemerintah, organisasi pengusaha, dan organisasi buruh, tapi juga sebagai institusi kerja sama antarwilayah untuk penelitian kriminal dan keadilan serta sebagai perguruan tinggi bagi staf ILO di seluruh dunia.

Pusat pendidikan ini melaksanakan 500 kali pendidikan per tahun di lokasi yang cukup luas. Kampus ini sungguh sibuk karena jumlah kegiatannya sangat padat. Apalagi peserta yang hadir dari berbagai negara, maka sudah pastilah berbeda materi dan kelasnya.

Dalam kursus yang saya ikuti ini, sedikitnya 15 negara mengirim utusannya. Setelah tiba di Turin barulah saya tahu bahwa ikut hadir empat orang dari Kementerian Tenaga Kerja RI dan satu orang dari unsur asosiasi pengusaha. Hanya saya yang unsur organisasi pekerja.

Karena pengalaman baru saya di Eropa, saya sangat merasakan perbedaan waktu 5-6 jam dengan Indonesia sehingga harus jetlag tiga hari karena perjalanan pesawat yang cukup lama (lebih dari 24 jam) dan harus tiga kali transit dari Aceh-Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam-Turin. Penyesuaian suhu juga menyulitkan saya, mengingat di Italia saat ini sedang musim gugur. Suhunya 7-15 ºC. Saya juga harus berhati-hati agar selalu mendapatkan makanan yang halal dan sehat.

Dalam proses belajar-mengajar di kampus ILO, setiap peserta wajib registrasi kemudian diberikan card seperti ATM untuk mengakses beberapa keperluan. Mulai untuk membayar makan, untuk masuk kamar, berobat ke dokter, laundry, untuk ke luar-masuk kampus juga sebagai identitas kepesertaan. Menarik sekali karena sudah dilayani dengan peralatan yang modern jadi tidak terlihat antrean panjang untuk segala keperluan. Card ini pun tidak bisa disalahgunakan karena sudah terdata lengkap. Sedangkan metode belajar menggunakan empat bahasa: Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia yang dimulai pukul 09.00-17.00 sore (waktu Turin) dan sudah dilengkapi dengan peralatan di masing-masing meja kelompok peserta yang dibagi empat grup sesuai pilihan bahasa di atas.

Para pemateri pelatihan ini adalah staf ILO yang ahli sesuai bidangnya. Mereka didatangkan dari Jenewa, tempat Markas Besar ILO berada. Setiap sesi ada kuesionernya. Menariknya, kita dapat lihat langsung hasil tes kita setengah menit setelah mengisi kuesioner, karena evaluasinya menggunakan Ipad yang dipinjamkan kepada peserta.

Menghindari kebosanan peserta, panitia pun memfasilitasi tour city. Saat akhir pekan saya dan peserta lainnya juga berkesempatan mengunjungi kota lain di Italia, yakni Venice, kota yang dikelilingi sungai dan laut. Tak ada transportasi darat di kota ini. Semuanya transportasi air. Setiap harinya sekitar 50.000 turis mancanegara mengunjungi kota ini. Kapal pesiarnya banyak dan besar. Perekonomian kota ini menggeliat. Untuk ke toilet saja kita harus rogoh kocek 2 euro (sekitar Rp 28.800). Tak ada yang gratis di sini.

Tapi karena tujuan utama saya ke sini adalah mengikuti kursus, tentu saja saya tak punya banyak waktu untuk melihat tempat-tempat wisata. Termasuk stadion-stadion sepakbola yang terkenal di sini. Namun, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sini untuk Aceh. Yakni, bagaiman industri wisata dikelola secara profesional dan menghasilkan banyak uang. Ini momentum terbaik bagi Aceh, mengingat Aceh sudah ditetapkan sebagai destinasi wisata halal. Sektor wisata halal ini mestinya menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Aceh untuk membuka lapangan kerja dan menghidupkan ekonomi mikro sebagaimana materi yang saya dapatkan di Turin. Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved