SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Raja Salman, Aceh dan Wahabi

DUA tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 2015, saya pernah menulis artikel singkat di satu media

Raja Salman, Aceh dan Wahabi
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud shalat di Masjid Istiqlal 

Oleh Khairil Miswar

DUA tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 2015, saya pernah menulis artikel singkat di satu media dengan judul “Wahabi, Wahabi, dan Wahabi”. Artikel tersebut adalah jawaban singkat saya kepada seorang santri Aceh yang terlihat begitu resah dan gelisah dengan “Wahabi”.

Pada saat itu, seorang yang mengaku sebagai santri Aceh menulis sebuah surat terbuka kepada Kapolda Aceh yang pada saat itu akan mendatangkan seorang penceramah dari Arab Saudi, Syaikh Adil Al-Kalbani. Sayangnya, surat terbuka santri tersebut tidak mendapat respons dari Kapolda saat itu dan tetap mendatangkan Syaik Al-Kalbani ke Aceh. [BACA: Surat Terbuka Untuk Kapolda Aceh Terkait Kunjungan Syaikh Adil Al-Kalbani]

Gelombang penolakan terhadap Wahabi di Aceh terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada 10 September 2015 dengan digelarnya satu aksi demonstrasi besar-besaran, yang dikenal dengan Parade Aswaja. Aksi Parade Aswaja ini melibatkan berbagai ormas keagamaan, seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA), Inshafuddin, dan Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA). Aksi ini juga dihadiri oleh ribuan massa yang datang dari berbagai daerah lengkap dengan poster dan spanduk yang bertuliskan tolak Wahabi.

Pascaparade Aswaja, gerakan penolakan terhadap Wahabi terus berlanjut dengan beberapa aksi “pengambil-alihan” mesjid yang dituding dikuasai oleh Wahabi. Di antara mesjid yang coba direbut adalah Masjid Al-Izzah Krueng Mane, Aceh Utara, tetapi usaha tersebut gagal.

Gerakan anti-Wahabi, sedikit banyaknya juga turut mempengaruhi kebijakan pemerintah yang pada 2016 sempat menghambat izin pembangunan Masjid Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Sampai saat ini, gerakan anti-Wahabi di Aceh juga marak dilakukan melalui media sosial. Bagi sebagian kalangan, memusuhi Wahabi adalah salah satu bentuk “jihad”, sehingga mereka terus bergerak tanpa kenal lelah. Bahkan ada segelintir kalangan yang berkeyakinan bahwa mencaci Wahabi akan mendapat pahala dan bernilai ibadah. [BACA: Imam Besar Masjidil Haram, Mekkah, Syeikh Adil Alkalbani Membagikan Al Quran Braile Untuk 200 Tunanetra di Aceh]

Fenomena aneh
Kunjungan Raja Salman Saya menangkap beberapa fenomena aneh ketika King Salman bin Abdulaziz Al Saud berkunjung ke Indonesia baru-baru ini. Keanehan dimaksud terlihat jelas di kalangan pengguna media sosial di Aceh. Hal ini saya temukan setelah saya melakukan observasi maya melalui status-status yang diposting oleh sebagian netizen Aceh. Setelah merangkum beberapa status yang tampak “senada dan seirama” tersebut, saya menyimpulkan bahwa ada aroma kekecewaan dari beberapa netizen terkait kunjungan King Salman ke Indonesia.

Konon, kekecewaan tersebut muncul karena tidak ada catatan agenda bahwa King Salman akan berkunjung ke Aceh. Menurut mereka, seharusnya Aceh adalah daerah pertama yang harus dikunjungi Salman. Aceh semestinya lebih diprioritaskan dari Bali yang penuh dengan aroma “gimana gitu”. Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam. Dan bahkan Aceh wilayah pertama masuknya agama Islam ke Indonesia, sehingga dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Tapi kenapa King Salman tidak singgah ke Aceh? Kira-kira demikian bentuk guratan kekecewaan sebagian netizen.

Jawaban paling “normatif” dan terkesan “klasik” yang coba ditawarkan oleh beberapa kalangan adalah tidak siapnya Pemerintah Aceh menampung jumlah rombongan King Salman yang kononnya mencapai 1.500 orang. Ketidaksiapan ini diduga akibat minimnya fasilitas yang dimiliki oleh Pemerintah Aceh. Saya tidak tahu apakah tawaran jawaban semacam ini cukup memuaskan atau tidak.

Mengingat belum adanya jawaban final dan konkret, mengapa Raja Salman tidak ke Aceh, maka saya akan mencoba memberikan beberapa jawaban alternatif: Pertama, Aceh dikenal dengan Serambi Mekkah. Sebutan Serambi Mekkah ini tentunya memiliki sejarah tersendiri dan tidak muncul dengan sendirinya. Dari sebutan ini dapat diduga bahwa Aceh memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Mekkah, baik di masa lalu maupun masa sekarang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help