Breaking News:

Opini

Raja Salman, Aceh dan Wahabi

DUA tahun lalu, tepatnya pada 28 Februari 2015, saya pernah menulis artikel singkat di satu media

Editor: bakri
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud shalat di Masjid Istiqlal 

Hal ini dibuktikan dengan masih “kekalnya” gelar Serambi Mekkah yang disandang oleh Aceh. Artinya gelar Serambi Mekkah yang diberikan kepada Aceh tidak mengenal istilah expired (kadaluarsa). Akibat sudah sangat akrabnya Aceh dan Mekkah, maka ada kemungkinan Raja Salman merasa tidak perlu lagi berkunjung ke Aceh, karena telah kuatnya hubungan batin antara Mekkah dan Aceh;

Kedua, Raja Salman tidak ingin menyusahkan orang lain. Mungkin ada yang membisikkan kepada Raja Salman jika dirinya berkunjung ke Aceh akan membuat sebagian kalangan menjadi resah dan gelisah. Artinya, kunjugan Raja Salman akan mendapat protes melalui surat terbuka seperti yang terjadi terhadap Syaikh Al-Kalbani dua tahun lalu. Tentunya, Raja Salman tidak ingin menyusahkan pihak-pihak yang anti kepada Wahabi untuk bersusah payah menulis surat terbuka kepada beliau.

Jika Syaikh Al-Kalbani diprotes melalui satu surat terbuka di sebuah Koran terkemuka di Aceh, maka kehadiran King Salman tentunya akan disambut dengan ribuan surat terbuka. Dan bahkan koran-koran di Aceh akan penuh dengan surat terbuka. Dan jika ini terjadi, tentunya akan membuat perusahaan koran harus tutup, karena tidak ada lagi kolom yang tersedia untuk berita dan iklan;

Ketiga, Raja Salman cinta ketenangan. Sebagai seorang Raja yang memimpin negeri Arab, beliau tentu sangat paham arti sebuah ketenangan dan ketertiban. Dulu, ketika Mekkah masih dikuasai oleh Syarif Husein, kondisi Mekkah sangat “kacau balau” dengan banyaknya perampok yang mengganggu perjalanan haji kaum muslimin. Kondisi tanah Arab saat itu juga penuh ketegangan dengan terjadinya perang antarsuku padang pasir yang dikenal keras.

Ketertiban di Mekkah baru tercipta kembali ketika Tanah Arab berhasil dikuasai oleh King Abdulaziz bin Abdurrahman Al Saud, Raja pertama Arab Saudi. Dan ketenangan serta persatuan antarsuku-suku padang pasir terus berlanjut sampai saat ini di bawah kendali King Salman. Lantas apa hubungannya dengan kunjungan King Salman ke Aceh?

Parade Aswaja
Tentu ada hubungannya, kalau tidak ada hubungan tidak mungkin saya menulis seperti ini. Kita tentu masih ingat dengan Parade Aswaja dua tahun lalu. Ada kemungkinan Raja Salman sudah mengetahui informasi ini melalui orang-orang terdekatnya. Dengan demikian, Raja Salman tidak mau mengambil risiko untuk berkunjung ke Aceh. Tentu yang menjadi alasan beliau bukanlah faktor “ketakutan”, karena sejarah telah mencatat bahwa keberanian orang-orang Arab padang pasir jauh lebih tinggi dari keberanian orang-orang kita.

Saya menduga bahwa keputusan Raja Salman untuk tidak berkunjung ke Aceh disebabkan faktor ketenangan sebagaimana disinggung di atas. Artinya, beliau tidak ingin jika kunjungannya nanti disambut dengan demo anti Wahabi yang tentunya akan membuat jalan-jalan menjadi macet serta menyusahkan banyak orang untuk membeli karton dan spanduk. Logikanya sangat sederhana. Saat Parade Aswaja pada 2015 lalu, ribuan massa saat itu menyatakan menolak dan akan mengusir Wahabi dari bumi Aceh. Padahal pada saat itu tidak ada Wahabi di Aceh, yang ada cuma tersangka-tersangka Wahabi.

Nah, bagaimana jadinya jika King Salman datang ke Aceh, sedangkan beliau (semoga Allah Swt menjaganya) adalah “The King of Wahabi”? Tentu tuha adoe nibak aduen. Jika Raja Salman benar-benar berkunjung ke Aceh, bukan tidak mungkin akan disambut dengan “parade” yang jauh lebih besar dan dahsyat.

Demikian beberapa jawaban alternatif yang bisa saya tawarkan terkait pertanyaan kenapa Raja Salman tidak berkunjung ke Aceh. Namun seperti telah ditegaskan di awal, bahwa tawaran jawaban tersebut hanyalah asumsi-asumsi belaka. Jika ingin jawaban pasti, silahkan hubungi sendiri King Salman, atau coba tanya kepada pria tinggi tegap berkepala plontos, yang terlihat setia mendampingi King Salman, mungkin dia tahu. Wallahu a’lam.

* Khairil Miswar, mahasiswa program pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Email: cobausahaonline@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved