SerambiIndonesia/

Salam

Masjid, Lebih Penting Makmur daripada Megah

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) meresmikan proyek landscape dan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman (MRB)

Masjid, Lebih Penting Makmur daripada Megah
MENATAPACEH.COM/M ANSHAR
Wakil Presiden RI H Jusuf Kalla yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) didampingi Gubernur Aceh, Zaini Abdullah melakukan peninjauan usai meresmikan proyek landscape dan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman (MRB), Banda Aceh, Sabtu (13/5/2017). Pembangunan 12 unit payung elektrik, basement parkir, dan fasilitas lainnya di MRB yang dimulai sejak tahun 2015 ini menelan biaya Rp 458 miliar. 

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) meresmikan proyek landscape dan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, Sabtu (13/5). Peresmian ditandai pemukulan beduk diiringi terbukanya satu dari 12 unit payung elektrik secara perlahan.

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia kemarin, proyek landscape dan infrastruktur Masjid Raya Baiturrahman itu mulai dikerjakan tahun 2015 oleh PT Waskita Karya, selesai Mei 2017, dengan pagu anggaran Rp 458 miliar. Pengerjaan proyek ini tidak mengubah bentuk arsitektur masjid, melainkan menambah berbagai infrastruktur pendukung lain yang membuat masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini semakin teduh dan megah.

Jusuf Kalla menyebut masjid yang menjadi ikon Aceh itu sebagai Masjid Raya di Serambi Mekkah dengan gaya Madinah. “Jadi, lengkaplah semuanya,” puji Jusuf Kalla.

Tapi Ketua Dewan Masjid Indonesia itu juga menggarisbawahi bahwa keindahan masjid akan semakin lengkap apabila sejalan dengan kemakmurannya.

Nah, ini poin penting yang perlu dicermati dan ditindaklanjuti. Secara substansial, ukuran kehebatan sebuah masjid bukanlah pada keindahan dan kemegahannya. Juga bukan pada teduh tidaknya pelataran dan pekarangannya. Keunggulan utama masjid, apalagi sebuah masjid raya, justru terletak pada seberapa makmur masjid tersebut.

Makmur di sini bermakna selalu ramai jamaahnya, berkualitas ibadahnya, tercukupi pendanaannya secara swadaya, serta bermanfaat bagi pemajuan umat dan masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain, Masjid Raya ini bukan saja difungsikan sebagai tempat shalat semata, tapi juga harus menjadi pusat tamadun Islam. Sekaligus Pusat Kajian Islam Nusantara, sebagaimana dicita-citakan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah. Masjid juga harus menjadi tempat praktik paling amanah dan transparan dalam hal penggalangan dan pemanfaatan dana umat.

Oleh karenanya, menjadi sangat mendesak untuk membentuk badan khusus yang mengelola manajemen Masjid Raya Baiturrahman. Bukan saja karena kedudukannya sebagai masjid raya yang sekaligus menjadi ikon Aceh, tapi juga karena besarnya anggaran tahunan yang diperlukan masjid ini, yakni setidaknya Rp 30 miliar per tahun.

Menggali sumber dana ekonomi umat dan pemanfaatannya secara produktif harus pula menjadi sisi perhatian manajemen Masjid Raya Baiturrahman supaya tak terlalu bergantung pada dana pemerintah.

Selain itu, masjid ini harus ditata sedemikian rupa untuk melambangkan peradaban Aceh. Yakni, peradaban dari umat yang sangat sabar menghadapi berbagai bencana dan konflik serta cinta perdamaian.

Seperti dikatakan Jusuf Kalla, sekiranya tak ada perdamaian di Aceh akibat konflik berkepanjangan, maka tidaklah mungkin bisa dibangun Masjid Raya menjadi begitu indah.

Jadi, masjid yang kini tampak lebih megah ini, selain makin tersohor sebagi destinasi wisata islami, harus pula menjadi cerminan bahwa Aceh adalah negeri tamadun islami yang masyarakatnya taat beribadah, gandrung berjamaah, cinta damai, berkomitmen penuh mempertahankannya, dan aktif menularkan kedamaian untuk seluruh umat manusia. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help