Citizen Reporter
Tradisi Bermain Bola pada Malam Puasa di Iran
TAHUN ini adalah tahun kedelapan saya berpuasa di Iran, negeri empat musim. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadhan jatuh pada akhir musim semi
NASRIATI A GANI, diaspora Aceh asal Samalanga, Bireuen, di Iran, melaporkan dari Teheran
TAHUN ini adalah tahun kedelapan saya berpuasa di Iran, negeri empat musim. Tidak seperti tahun lalu, tahun ini Ramadhan jatuh pada akhir musim semi. Panas cuaca otomatis cukup terasa, terutama di daerah selatan Iran.
Di beberapa tempat, umat menjalani puasa selama 16 jam, bahkan ada yang lebih dari 16 jam. Alhasil, warga lebih banyak memilih tinggal di rumah pada waktu siang, menikmati sejuknya AC, termasuk saya. Ya, malaslah beraktivitas di luar rumah selama siang yang panas terik.
Untuk menghormati orang-orang yang berpuasa, selama bulan puasa, jam kantor juga dikurangi pemerintah dan restoran-restoran wajib tutup pada siang hari.
Makan sahur yang disebut sahari, menunya sama seperti sarapan pagi ala Iran. Ada naan (roti), selai, keju, mentega, kacang-kacangan (walnut, pistachio atau almond), dan teh manis.
Kurma yang merupakan suguhan identik dengan puasa, juga hadir baik pada saat berbuka maupun pada waktu sahari.
Seperti halnya di tempat-tempat lain, puasa di sini dihiasi dengan tadarus di masjid-masjid. Biasanya dimulai sore beberapa jam sebelum berbuka. Ketika waktu tadarus tiba, masjid-masjid sudah dipenuhi oleh orang-orang yang mengikuti acara tadarusan. Acara ini disiarkan melalui televisi dan radio, dengan maksud agar masyarakat bisa mengikutinya di rumah bagi mereka yang tidak bisa ke masjid.
Beberapa menit sebelum berbuka, doa dilafalkan oleh Guru Besar Mohammad Reza Shajarian yang disiarkan melalui siaran televisi dan radio.
Saya sering mendapat undangan buka puasa bersama keluarga Iranian. Begitu azan magrib tiba, kepada kami dihidangkan air hangat manis yang dicampur sedikit saffron. Ini enak sekali, saya lebih menyukai ini daripada teh manis hangat. Lalu dilanjutkan shalat Magrib masing-masing, tidak berjamaah. Setelah itu, buka puasa dengan hidangan lengkap.
Kue manis bamiye dan zoolbia adalah kue manis khas Ramadhan. Hidangan lain aneka jenis oash (sejenis sup), bisa oash-e reste, oash-e shirazi, dan jenis-jenis lain. Tradisi kirim-kiriman makanan selama bulan puasa adalah lazim di sini. Biasanya makanan yang dikirimi oleh tetangga adalah shale-zar (bubur nasi saffron).
Uniknya, di Iran tidak ada Tarawih berjamaah di masjid selama Ramadhan. Orang Iran umumnya melakukan shalat malam Ramadhan di rumah masing-masing. Di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga tahun-tahun sebelumnya kegiatan kultum, buka puasa bersama, dan Tarawih dilakukan seminggu sekali (setiap minggu malam).
Saya tidak pernah Tarawih di KBRI karena butuh 14 jam jalan darat dari tempat tinggal saya.
Aktivitas lain selama Ramadhan yang populer di Iran adalah main sepak bola pada malam hari. Dimulai tengah malam, berakhir sahur. Permainan sepak bola malam Ramadhan ini memang sangat digemari khususnya oleh kaum muda. Permainan sepak bola malam Ramadhan ini banyak peminatnya, bahkan sampai digelar pertandingan antarkelompok maupun antarinstansi perkantoran.
Ramadhan tidak lepas dari apa yang dinamakan mengejar Lailatul Qadar. Orang-orang Iran percaya Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-19, 21, atau 23. Ketiga malam ini sangat istimewa. Pada malam ini juga dilakukan ibadah ahya shab-e qadr (menghidupkan malam Lailatul Qadar).
Masjid akan tumpah ruah oleh orang-orang yang melakukan ibadah ini. Biasanya ibadah ahya shab-e qadr ini dimulai pukul 10 malam sampai menjelang dini hari. Setelah shalat Isya, dilakukan shalat sunah, disambung dengan pembacaan doa Jausyan Kabir yang panjang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/nasriati-a-gani_20170617_141554.jpg)