SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Zakat Fitrah Menurut Kajian Empat Mazhab

SETIAP umat Islam dianjurkan untuk memberikan sedekah dari sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah swt

Zakat Fitrah Menurut Kajian Empat Mazhab
tribunnews.com
Ilustrasi 

Oleh Faisal Ali

SETIAP umat Islam dianjurkan untuk memberikan sedekah dari sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah swt kepadanya, sebagaimana termaktub dalam Alquran dan hadis. Pada awalnya, Alquran hanya menganjurkan pemberian sedekah secara sukarela, yaitu tidak bersifat wajib. Namun, kemudian, umat Islam diperintahkan untuk membayar zakat. Zakat menjadi wajib hukumnya sejak tahun 2 Hijriyah berbarengan dengan kewajiban berpuasa. Nabi Muhammad saw melembagakan perintah zakat ini dengan menetapkan zakat bertingkat bagi mereka yang kaya untuk meringankan beban kehidupan mereka yang miskin.

Zakat dari segi bahasa berarti bersih, suci, berkat dan berkembang. Pada zaman khalifah, ulama salaf dan khalaf, zakat dikumpulkan oleh orang yang diberikan kewenangan oleh negara dan didistribusikan kepada kelompok tertentu dari masyarakat. Zakat merupakan sebuah ibadah sosial yang dapat menyuburkan rasa kepedulian dan kebersamaan di antara sesama umat Islam. Zakat juga merupakan satu dari Rukun Islam dan menjadi satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Zakat secara umum sebagaimana yang telah dirumuskan oleh jumhur ulama yaitu harta tertentu, dengan ukuran tertentu yang diwajibkan oleh Allah terhadap harta kaum muslimin yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan para mustahiq lainnya sebagai tanda rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah Swt, dan juga berfungsi untuk mendekatkan diri kepada-Nya, serta membersihkan diri dan hartanya. Satu dari unsur zakat yang diwajibkan Allah kepada setiap muslim bernyawa untuk ditunaikan pada malam Idul Fitri adalah zakat fitrah. Zakat fitrah disebutkan juga sebagai zakat jiwa atau zakat yang ditunaikan untuk menyucikan jiwa atau badan.

Zakat fitrah
Menurut ulama fiqh, zakat fitrah diartikan, kadar tertentu dari makanan pokok yang wajib ditunaikan oleh setiap umat Islam pada malam Idul Fitri. Setiap umat Islam wajib mengeluarkan sebagian dari makanan pokok setelah mengerjakan ibadah puasa Ramadhan setiap tahunnya, sebagaimana firman Allah Swt, “Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala disi Tuhannya...” (QS. Al-Baqarah: 276).

Di akhir bulan Ramadhan, setiap muslim dan muslimah diwajibkan untuk menunaikan zakat fitrah. “Rasulullah saw mewajibkan sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum, atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan orang Islam. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang pergi menunaikan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut Waqi’ bin Jarah, zakat fitrah bagi puasa bulan ramadhan adalah seperti sujud sahwi terhadap shalat. Pengertiannya adalah zakat fitrah dapat menyempurnakan kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menyempurnakan kekurangan shalat. Perkataan ini di perkuat dengan sabda Nabi Muhammad saw, “Zakat fitrah dapat membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji.”

Ulama mazhab, berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya mengeluarkan zakat dengan uang (harga) sebagai ganti dari harta zakat yang harus dikeluarkan. Ulama mazhab juga berbeda pendapat pada memahami ukuran 1 (satu) sha’ yang dijadikan takaran untuk zakat fitrah. Perbedaan juga terjadi pada orang-orang yang berhak menerimanya. Namun tulisan ini hanya menyorot sisi mengeluarkan zakat fitrah dengan uang (harga) berdasarkan dinamika mazhab empat.

Munculnya perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya mengeluarkan zakat fitrah dengan harga (uang) ini dikarenakan adanya perbedaan dalam memahami hadis Nabi saw yang berkaitan dengan zakat. Perbedaan orang-orang tertentu seperti Imam mujtahid dalam memahami teks Alquran dan hadis mendatangkan rahmat untuk umat manusia khususnya Islam.

Mazhab Hanafi
Abu Hanifah merupakan imam pertama dari keempat imam mujtahid mutlak dan yang paling dulu lahir dan juga wafatnya, ia dijuluki Imam A’zham (pemimpin terbesar), dan Imam Ar-Ra’y (Imam Aliran Rasional). Beliau dilahirkan di Kuffah pada 80 Hijriyah. Pada masa Abu Hanifah terdapat empat sahabat Nabi, yaitu Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa, Sahl bin Sa’ad, dan Abu Thufail. Mereka adalah sahabat-sahabat yang paling akhir wafat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help