SerambiIndonesia/

Bahasa: Menyatukan dan Memecah

Menurut KBBI bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer, digunakan masyarakat untuk bekerjasama

Bahasa: Menyatukan dan Memecah

Oleh: Don Zakiyamani

Menurut KBBI bahasa adalah sistem lambang bunyi yang abitrer, digunakan masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan berkomunikasi. Dalam hal ini Keraf Smarapradhipa (2005) mendifinisikan bahasa dalam dua pengertian.

Pertama, bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa sebagai sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbiter.

Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Wibowo: 2001). Masih banyak pengertian dari para ahli bahasa terkait apa itu bahasa.

Belakangan ini kita dimanjakan denganbanyaknya informasi yang kita terima setiap saat. Hal itu terjadi berkat kemajuan tekhnologi, setiap saat media online maupun sosmed kita akses. Harus diakui kemajuan tekhnologi merupakan hasil komunikasi, dan disitulah peran bahasa sebagai alat komunikasi.

Setidaknya semua ahli bahasa sepakat bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Melalui bahasa kita berinteraksi, mengungkapkan gagasan dan ide termasuk transfer ilmu yang dikemudian diterjemahkan menjadi benda-benda.

Hari ini merupakan hasil peradaban, dan bahasa ikut andil didalam peradaban. Saat ini kita memasuki era global 3.0 (Thomas L Friedman), sebuah era digital. Sebagaimana penulis katakandiatas, kita telah dimanjakan dengan segala jenis informasi yang kesemuanya menggunakan bahasa. Informasi yang disampaikan terkadang menghendaki respon berbeda. Ada penyampai informasi yang ingin penerima merespon dengan negatif dan a da pula sebaliknya.

Bila kita mengambil salah satu fungsi bahasa,dalam hal hal ini berfungsi sebagai alat komunikasi kehidupan maka dengan sendirinya bahasa akan mempengaruhi kehidupan kita. Baru-baru ini gubernur Jakarta, Anies Baswedan harus berhadapan dengan kelompok pro dan kontra hanya karena diksi yang dipilihnya ‘pribumi’.Kelompok kontra mengatakan Anies melakukan rasisme, sesuatu yang dilarang dan melanggar kata mereka.

Tentu saja beragam pernyataan kemudian muncul, warga internet menanggapi isu rasis tersebut dengan kata-kata yang menunjukkan siapa dirinya. Belajar dari kasus pidato Anies, kita semakin paham bahwa bahasa sangat mempengaruhi kehidupan terutama kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tak bisa menganggap remeh sebuah kata apalagi sebuah kalimat.

Perbedaan mazhab didalam Islam dan benturan didalamnya juga dipengaruhi bahasa. Hingga kini tidak ada Al-Qur’an tafsir dan tamsilan yang paling sempurna. Ruang itulah yang kemudian memasuki perbedaan para ulama berbeda dalam menetapkan sebuah hukum didalam Islam. Kasus penistaan agama oleh Ahok di Kepulauan Sribu juga menghasilkan polemik. Menariknya polemik terjadi diantara mereka yang digelari sebagai ulama. Mereka yang selama ini dianggap paling paham dan paling berilmu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help