SerambiIndonesia/

Mengapa Hasan Tiro Memproklamirkan GAM pada 4 Desember? Ternyata Ini Alasannya

Namun tak banyak orang tahu, mengapa Hasan Tiro menetapkan 4 Desember sebagai hari kelahiran GAM

Mengapa Hasan Tiro Memproklamirkan GAM pada 4 Desember? Ternyata Ini Alasannya
Tgk Hasan Tiro duduk membelakangi gerilyawan GAM di satu kamp pelatihan. Sumber foto/Bandar Publishing 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Setiap tanggal 4 Desember menjadi hari paling bersejarah bagi para mantan pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pada tanggal tersebut setiap tahun diperingati sebagai hari kelahiran organisasi GAM yang diproklamirkan Dr Teungku Hasan Muhammad Di Tiro.

Deklarasi GAM itu diumumkan Hasan Tiro kepada dunia di Bukit Tjokkan, pada tanggal 4 Desember 1976.

Namun tak banyak orang tahu, mengapa Hasan Tiro menetapkan 4 Desember sebagai hari kelahiran GAM yang menurut ideologinya adalah sebagai gerakan lanjutan dari perjuangan kemerdekaan Aceh di bawah bendera Aceh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF).

(Baca: Mualem, Abu Razak, dan Ratusan Eks Kombatan Peringati Milad Ke-41 GAM di Meureu)

Dalam  bukunya The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro, deklarator GAM itu menukilkan bahwa deklarasi kemerdekaan Aceh harus dilakukan pada tanggal 4 Desember, karena alasan simbolis dan historis.

Keputusan ini merujuk pada peristiwa Belanda yang berhasil menembak dan membunuh Kepala Negara terakhir Aceh-Sumatra, Tengku Tjhik Maat di Tiro, di medan perang Alue Bhot, Tangse pada 3 Desember 1911.

Oleh karena itu, Belanda menghitung tanggal 4 Desember 1911, sebagai hari berakhirnya Negara Aceh sebagai entitas yang berdaulat, dan hari "kemenangan" final Belanda atas Kerajaan Aceh-Sumatra, seperti yang ditegaskan Kolonel H J Schmidt, komandan Belanda yang memimpin serangan di Alue Bhot.

(Baca: Milad ke-41 GAM, 11 Fakta Syahidnya Panglima GAM Abdullah Syafii, Nomor 7 Syahid Bersama Sang Istri)

“Namun, itu sama sekali tidak berlaku karena perang melawan Aceh tidak berakhir dengan jatuhnya Tengku Tjhik Maat di Tiro pada pertempuran Alue Bhot sejak perjuangan dilanjutkan oleh para korban selamat tahun 1911,” tulis Hasan Tiro.

Menurut Hasan Tiro, Negara Aceh Sumatera tidak pernah menyerah ke Belanda. Perjuangan terus berlanjut.

Bendera Aceh akan selalu berkibar untuk mengenang gugurnya pejuang muda Aceh yang heroik Tengku Tjhik Maat di Tiro.

“Untuk seterusnya, sampai akhir zaman, bendera itu dari Aceh akan dinaikkan lagi keesokan harinya, pada tanggal 4 Desember di tempat yang paling suci untuk menandakan renaissance dan kontinuitas masyarakat Aceh Sumatra dan negara bagian Aceh Sumatra selama-lamanya,” sebut Hasan Tiro.

Baca: Identitas Aceh, Suci dalam Debu

Dalam buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro itu juga diketahui, bahwa Tengku Tjhik Maat di Tiro adalah pamannya Hasan Tiro.(sar)

Penulis: Ansari Hasyim
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help